Pindah Ke Toko Sebelah



Di Indonesia beragama semacam menjadi keharusan dalam hidup bermasyarakat. Buktinya, dalam Kartu Tanda Penduduk, seseorang harus memilih satu dari tujuh opsi agama yang ada. Lebih tepat lagi jika agama itu bukan persoalan memilih, tetapi persoalan dipilih. Orang tualah yang berperan besar dalam memilihkan agama si anak.

Tidak heran jika sebagian besar orang Indonesia beragama secara inherit. Beragama yang sifatnya keturunan, bukan atas pilihan atau preferensi pribadi. Contohnya begini, orang tua beragama A, maka dapa dipastikan si anak beragama A pula. Sebuah hal yang tak lazim ketika si anak beragama berbeda dari anggota keluarganya.

Saya menyatakan sebagian besar, karena pada faktanya tidak semua masyarakat Indonesia berpikir dan bertindak demikian. Contohnya pada sebagian masyarakat Jawa yang saya amati. Sebuah hal yang lazim ketika seorang anak menganut keyakinan yang berbeda dari keyakinan orang tuanya. Buktinya, pada acara kumpul trah tiap Hari Raya Iedul Fitri. Acara itu tidak hanya dihadiri oleh mereka yang muslim, biasanya beberapa keluarga ada yang berkeyakinan berbeda.

Perihal menemukan toko yang cocok

Murtad merupakan istilah yang digunakan ketika seseorang memutuskan untuk pindah dari suatu agama ke agama lainnya. Tentu pilihan untuk murtad ini harus dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Persoalan berpindah keyakinan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi bisa jadi urusan keluarga inti, keluarga besar, bahkan masyarakat. Kecuali Anda memang berasal dari lingkungan yang sangat demokratis. Atau mungkin Anda sudah bersiap diri untuk menutup telinga dari pelbagai omongan orang-orang sekitar.

Saya punya tiga orang teman, ketiga-tiganya baru saja murtad dari dan ke agama yang berbeda-beda. Ketiganya pun memiliki alasan yang berbeda-beda. Ketiga teman saya ini, saya samarkan dengan nama berikut, Doni, Danu, dan Dono. Demkian cerita singkat mereka tentang kepindahan statusnya.

“Agama ku sebelumnya itu hanya mengajarkan untuk memusuhi sesama, isinya cuma mengajak untuk mengkotak-kotakkan masyarakat”, cerita Doni. Narasi-narasi kelompok agama yang cukup ekstrem di agama sebelumnya membuat Doni muak. Kelompok itu menurut Doni lebih bersemangat daripada Tuhan . Maunya menang sendiri, benarnya sendiri, dan surga pun untuk kelompoknya sendiri.

Berbeda dengan Doni, salah satu alasan Danu pindah agama lantaran alasan teologis. “Aku kurang yakin dengan agama yang sebelumnya, kalau agama yang ini kan lebih jelas”. Alasan teologis yang disinggung Danu ini lebih pada persoalan mengenai konsep-konsep ketuhanan.

Sementara bagi Dono berpindah agama merupakan salah satu hal yang Ia lakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. “Lah, bukannya semua agama baik ya? Kalau semunya baik kok ada yang bikin enggak baik?" Tanya sambil bercanda. “Memang semuanya baik, tapi saya rasa agama yang baru ini lebih konkret. Agama itu bukan sifatnya diawang-awang, susah dipahami, tapi agama ini lebih kelihatan tugasnya di dunia”, ujarnya. Saya berpikir, ada benarya juga perihal apa yang di katakana Dono. Terkadang Agama itu mengurus urusan yang tak tampak. Urusan selalu berkaitan dengan surga yang entah di mana. Mengapa masing-masing agama tidak bekerja sama saja untuk menciptakan surga bersama di bumi ini?

Dari ketiga teman saya itu saya berpikir kalau agama itu ibarat sebuah toko. Maksud saya begini, contohnya dulu saya berlangganan di Toko A. Namun, suatu ketika, saya merasa layanan Toko A itu kurang memuaskan, entah bisa jadi pelayanannya kurang baik, entah yang dijual kurang lengkap, dan berbagai alasan lainnya. Intinya kekurangan-kekurangan itu membuat saya memutuskan untuk pergi mencari toko lainnya.

Pilihan untuk pindah toko dan tetap berlangganan dengan toko yang lama itu pada masing-masing orang jelasnya berbeda. Tidak bisa dipaksakan. Bisa jadi toko yang menurut saya cook, tetapi menurut orang lain tidak cocok. Begitu pula sebaliknya. Bahkan ketika teman saya mengatakan Toko A ini lho yang paling bagus, tapi saya tetap merasa bahwa Toko B lah yang paling bagus dan lengkap.

Demikian pula dengan kehidupan beragama. Tiap orang punya perenungan dan pilihannya tersendiri terkait apa yang dianutnya. Karena bertemu Tuhan itu sifatnya intim. Bisa jadi Ia lebih bisa menemukan Tuhan di agama lainnya.





0 komentar:

Post a Comment