"Nama adalah doa", kira-kira demikian yang sering saya dengarkan. Artinya, ketika seorang anak lahir ke alam dunia, ketika itu pula atau beberapa hari kemudian anak akan diberikan sebuah nama. Pada sebagian orang tua bahkan telah menyiapkan nama jauh-jauh hari sebelum kelahiran sang anak. Bahkan ada pula yang sudah menyiapkan nama untuk dua jenis kelamin sekaligus. Padahal mereka–kedua orang tua– belum mengetahui apa jenis kelamin si anak.  Jika perlu pula, orang tua akan mencari nama terbaik dari beragam kitab. Bisa dari kitab suci, kitab kamus, dan kitab-kitab lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa nama  bagi sang anak bukanlah suatu hal yang sepele. Segenap daya dan upaya dikerahkan untuk memberikan doa terbaik bagi anaknya itu.

Sekitar 22 tahun yang lalu tepatnya di hari Minggu, kedua orang tua menamai saya demikian. Arif Budi Darmawan. Nama yang singkat pun mudah untuk dilafalkan. Mungkin juga nama ini cukup lazim di telinga masyarakat Indonesia. Sebab keseluruhan kata yang membentuk nama saya itu  diambil dari Bahasa Indonesia. Bukan dari bahasa yunani, latin, arab, ataupun negara-negara lainnya. Nama saya made in Indonesia atau asli buatan Indonesia. 

Ayah saya pernah bercerita bahwa nama pada anak-anaknya tidak disematkan identitas agama apapun. Alasannya, ayah takut kalau kelak nama dengan membawa identitas agama akan menjadi suatu persoalan. Nuansa keagamaan dalam nama saya itu sifatnya implisit atau tak kasat mata. Konon jumlah tiga suku kata pada nama saya juga bukanlah tanpa sebab. Angka tiga, menurut keyakinan ayah, merupakan angka yang sakral.

Terlepas dari kesakralan angka tiga, menurut saya, jumlah tiga suku kata itu tidaklah terlalu panjang dan terlalu pendek. Nama yang cukup moderat. Tidak terlalu merepotkan kalau mengisi isian identitaas diri dalam Lembar Jawaban Komputer. Mungkin juga– ini hanyalah sekadar terkaan saya– agar saya tidak menjadi anak yang ekstrem. Sebuah doa tersirat agar saya menjadi orang yang moderat. 

Arif

Arif. Beberapa orang kerap salah menuliskan 'Arif' dengan 'Arief'. Keduanya, biarpun memiliki arti yang sama, tetapi cara penulisannya berbeda. Perbedan terletak pada ejaan yang digunakan. 'Ie' pada 'Arief' menggunakan ejaan lama, sedang  Arif pada nama saya, menggunakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Setelah melalui penelusuran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata arif memiliki tiga makna. Arif berarti bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu. Orang yang bijaksana itu adalah orang yang tidak sembrono. Tindakan dan keputusan yang diambilnya sudah beradasarkan pemikiran yang matang. Seorang yang arif diharapkan pula memiliki kesatuan antara tindakan dan ucapan.

Kalau kita tautkan dengan makna lainnya,  dapat dipahami pula bahwa bahwa orang bijak adalah orang yang mampu dalam menggunakan akal budinya. Ayah dan Ibu berdoa agar saya dapat menjadi orang yang berilmu.  Dengan karunia ilmu pengetahuan kita dibimbing menjadi pribadi yang arif.

Lantas, untuk menjadi pribadi yang arif, yang bijak, yang pandai, maka saya haruslah terbuka untuk terus belajar.  Belajar dari pengalaman hidup, baik pengalaman yang baik dan kurang baik, belajar dari orang lain, belajar dari semesta, dan belajar melalui buku-buku.

Budi

Orang tidak hanya dibimbing oleh akal. Ia pun membutuhkan bantuan budi. Menurut KBBI budi adalah alat akal untuk menentukan baik dan buruk. Sering kita mendengar  kata akal budi. Keduanya semacam menjadi pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Akal tidak bisa berjalan sendiri tanpa budi, pun demikian dengan budi tidak bisa berjalan sendiri tanpa akal. Keduanya memiliki sifat check and balance, saling memeriksa satu dengan yang lainnya.

Melalui budi seseorang dituntun pada kebenaran. Budi berarti perbuatan baik. Semakin berilmu maka seseorang semakin didorang untuk semakin berbudi yang luhur. Meyakini bahwa dirinya itu adalah jagad cilik dan ada suatu yang lebih besar darinya yang disebut dengan jagad gedhe.  

Darmawan

Banyak pula orang yang salah megartikan dengan menyamakan "Darmawan" dengan "Dermawan". Perbedaan 'a' dan 'e' menimbulkan perbedaan makna. Dermawan bermakna orang yang suka memberi derma (suka berbagi). Sedangkan Darmawan artinya orang yang memiliki atau mematuhi janji. Janji ini bisa berupa janji apa saja, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Sudah 22 tahun saya menyandang nama tersebut. Akan tetapi baru sekarang saya mulai merenungkan arti nama itu. Kalau nama adalah doa, maka doa tersebut belum berbuah atau masih menjadi bibit. Saya belum mengenal konsekuensi atas doa yang diujudkan oleh kedua orang saya.

Konsekuensi Sebuah Doa

Banyak dari kita yang gemar berdoa, tapi tidak banyak yang memahami konsekuensi atas doa tersebut. Penggunaan kata "kita", karena saya merupakan bagian dari kelompok tersebut, kelompok orang yang kerap lupa akan konsekuensi atas doanya. Bagaimana konsekuensi doa itu? Konsekuensi dari doa itu menurut saya begini. Saya berdoa kepada Tuhan agar dapat lulus ujian. Maka, konsekuensi atas doa tersebut saya harus belajar. Memahami konsekuensi doa merupakan sebuah laku agar  doa tidak menjadi suatu yang abstrak, diawang-awang, dan gambaran tak nyata.

Pun demikian dengan doa yang disematkan pada nama saya, Arif Budi Darmawan. Saya tidak hanya dituntut untuk menderaskan doa, agar dari hari kehari dapat terus belajar menjadi pribadi yang arif, berbudi, dan akhirnya dapat menjadi pribadi yang darmawan. Akan tetapi,  saya harus berusaha untuk mewujudkan ujud tersebut. Hari ini saya teringat kembali, betapa saya masih jauh dari harapan kedua orang tua saya itu.