Bertanya Perihal Cinta yang Tak Pernah Usai


Pada beberapa waktu lalu saya sempat menulis beberapa refleksi  terkait  percintaan. Renungan tersebut muncul atas pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Perkara jatuh cinta dengan sahabat, perkara cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan perkara cinta yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan.

Baru-baru ini saya mulai berpikir tentang apa sih parameter jatuh cinta itu? Ada yang melihat parameter cinta dari aspek suka. Bisa jadi suka dengan penampilan seseorang, pemikiran, dan apa pun yang menarik serta dapat menjadi landasan yang kuat bahwa aku cinta kamu.

Akan tetapi, kalau kita menggunakan parameter suka,  ada juga yang awalnya tidak suka menjadi suka. Sering saya dengar sebuah ungkapan yang menyatakan demikian, “Witing tresna jalaran saka kulina”. Bahwa benih-benih cinta itu tumbuh seturut dengan intensitas interaksi.

Intensitas di sini bisa berupa bayaknya jumlah bertemu, banyaknya mengobrol, dan bertatap muka. Rumusnya, semakin sering kita berinteraksi maka semakin besar pula peluang timbulnya rasa cinta. Buktinya pada saat kegiatan Kuliah Kerja Nyata kemarin. Ada salah satu pasangan yang lahir dari kegiatan ini. Lha wong bagaimana tidak, setiap hari bertemu dalam dimensi waktu dan tempat yang sama.

Nah sekarang saya merenung, cinta itu yang seperti apa tho? Kalau hanya sekadar suka–sedikit promosi– saya sering ‘menaruh hati’ atau kagum dengan wanita yang memiliki pandangan yang luas. Seluas apa saya juga bingung dalam memberikan definisi dan batasan yang jelas mengenai hal tersebut. Akan tetapi setidaknya nyambung kalau diajak ngobrol. Lebih-lebih kalau bisa diajak berdiskusi.

Setelah membaca beberapa karangan N.H. Dini, satu hal kriteria yang menurut saya patut untuk dipertimbangkan adalah sifat rendah hati. Saya menafsirkan rendah hati ini dengan sifat terbuka, legowo, mau menerima masukan, saran, dan tergerak untuk senantiasa berdaya ubah. Tentu setiap orang mempunyai kelemahan. Sifat rendah hati atau keterbukaan inilah yang memampukan seseorang untuk menengok ke dalam dirinya.

Rendah hati membuat seseorang tidak menjadi benere dhewe atau semaunya sendiri. Biasanya semakin tua seseorang  berbanding lurus dengan  tebalnya ego. Semakin tua semakin mau menangnya sendiri. Rasa tepo sliro atau bisa saling merasa itu kian pudar. Hal inilah yang harus disepakati oleh kedua belah pihak, bagaimana bisa bernegosiai dengan situasi-situasi seperti itu.

Selebihnya ibu saya mengatakan bahwa pasangan hidup itu haruslah dalam lingkup iman yang sama. Entah kenapa harus sama. Mungkin kalau ada acara-acara keagamaan supaya tidak perlu banyak melakukan penyesuaian. Tidak hanya berhenti di situ, ibu menambahkan pula kalau pasangan hidup itu lebih-lebih menghayati laku rohani yang “benar”.

Pancasila bisa menyatukan bangsa yang terdiri atas macam etnis, golongan, serta keyakinan. Akan tetapi, tampaknya sulit untuk menyatukan mereka yang mencintai dalam keyakinan yang berbeda. Terlebih lagi di Indonesia yang mana sebagian–entah berapa banyak persentasenya– agama masih menjadi landasan yang amat fundamental.

Terkadang saya bingung, ibu mencarikan pasangan anaknya seorang manusia atau malaikat. Karena syarat-syarat yang diajukan  teramat ideal. Padahal manusia tidak hanya berbicara perkara yang seharusnya. Seringkali apa yang seharusya itu juga harus berkompromi dengan apa yang senyatanya terjadi.

Kembali ke topik awal, saya kerap sulit dan terkadang mempertanyakan antara cinta dan rasa kagum. Mengatakan “Aku cinta kamu”, saya rasa tidak bisa seimpulsif itu. Mengatakan terkadang mudah, tetapi mempertanggung jawabkan yang terkadang susah. Sekarang bilang aku cinta kamu, besok aku cinta yang lain. Istilah kata isuk dhele sore tempe, orang yang tidak memiliki pendirian yang jelas.

Lalu cinta itu seperti apa? Terlalu banyak merenung sampai-sampai yang dicintai sudah bersama yang lain. Hingga berujung pada penyesalan, “Kenapa kok tidak berani mengatakan dari dulu saja?”. Kenapa kok ya tidak dicoba dulu? Serta mengapa-mengapa yang lainnya.

0 komentar:

Post a Comment