Sabtu pagi sekitar pukul 10 saya masih tertidur di kamar kos. Musababnya badan saya terasa kurang baik. Kepala pening perut pun mual. Sepertinya saya masuk angin. Entah angin masuk lewat mana. Saya juga bingung bagaimana cara mengeluarkannya.

Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk kamar saya. Ternyata sang pengetuk itu adalah teman kos. Kamarnya terletak satu lantai di atas kamar saya. Teman kos saya ini tengah melakukan inspeksi ke setiap kamar. Pasalnya, baru saja ia kehilangan dua buah komputer jinjing, sebuah telepon genggam, dan sepasang sepatu seharga jutaan rupiah. Saya pun mempersilakan untuk menggeledah kamar saya.

Usai menggeledah dan tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan saya pun turut menggeledah kamar lainnya. Aneh. Barang tak kunjung ditemukan. Hasil rekaman kamera pengintai pun juga menunjukkan hasil yang sama. Nihil. Tak ada orang asing yang masuk ke paviliun kos kami. Sudah pasti pencurinya orang dalam. Akan tetapi siapa pencuri yang mau mengaku?

Berdoa bagai jalan tol 

Akhirnya Bapak dan Ibu Kos menyuruh kami–seluruh penghuni paviliun– untuk berkumpul dan berdoa. “ Mari kita semua menghadap ke arah Patung Yesus dan Bunda Maria. Kita satukan hati dan pikiran pada Tuhan”, pimpin Ibu Kos. Dimulai dengan tanda salib kami pun mulai berdoa guna memohon perlindunganNya.

Bapak dan Ibu Kos saya memang tergolong orang Katolik yang cukup saleh. Usia pasangan suami istri ini sekitar 84 tahun. Masih bagas waras. Bahkan penjual nasi goreng di samping kos saya bercerita kalau ibu kos masih gemar pergi ke salon. Ibu Kos saya memang masih centil dan gemar berdandan serta menata rambut. Bahkan tiap minggu pagi ketika hendak pergi misa, rambut Ibu Kos saya telah rapi dengan gaya sasakannya. 

Di usia mereka yang tergolong senja ini, mereka menghabiskan sebagian waktu untuk berdoa. Baik dengan mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja maupun berdoa secara pribadi di rumah. “Kami setiap malam selalu menyempatkan untuk tahajud”, ujar ibu kos.

Karena heran saya pun bertanya. “Lah tahajud bagaimana Bu?” Dari penjelasan Ibu Kos saya mengetahui bahwa tahajud ini adalah salah satu laku yang mereka adopsi dari ritual umat muslim. Di kala sepertiga malam biasanya umat muslim gemar melakukan laku doa guna menghantarkan ujud pribadinya.

“Berdoa di waktu malam itu lebih hening dan biasanya lebih mudah terkabul”, jelas Ibu Kos. Mungkin berdoa bisa diibaratkan kondisi jalanan. Bagaimana perumpamannya? Maksud saya begini kalau kita melakukan perjalanan di waktu pagi, sore, atau bahkan pada jam pulang dan pergi kantor jalanan pastinya akan macet.

Akhirnya kendaraan akan lama bergerak dan tidak kunjung sampai ke tempat yang ingin kita tuju. Begitupula dengan berdoa. Mungkin saja berdoa di pagi, siang, ataupun sore hari merupakan waktu “jam kerja” bagi orang-orang yang berdoa. Sehingga terkabulnya doa akan sedikit lama. 

Berbeda dengan berdoa di malam hari, yang notabene adalah waktu istirahat. Sangat jarang orang mau berdoa di jam-jam tersebut. Sehingga doa lebih mudah atau cepat terkabul. Berdoa di malam hari seperti berdoa di jalan tol, bebas hambatan dan cepat sampainya.

Berdoa yang nasionalis

Apa saja yang Bapak dan Ibu Kos saya doakan? Dari hasil percakapan, yang selalu mereka doakan adalah anak-anak penghuni kos. “Jangan khawatir mas, semua warga kos saya doakan. Semoga menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsa, negara, dan agama”, tambah Bapak Kos.

“Sebuah kos-kosan yang begitu komplit”, guman saya. Tidak hanya menyediakan kebutuhan jasmani berupa tempat tinggal, tetapi juga mendukung kebutuhan rohani berupa doa. Saya jadi terharu. Lha wong, saya saja tidak pernah mendoakan mereka. Bahkan untuk mendoakan orang tua sendiri saja kerap terlupakan. 

Selain itu, saat masa -masa menjelang pemilu kemarin, mereka juga menghaturkan ujud khusus. Ujud tersebut berupa devosi novena untuk memohon agar pemilihan umum dapat berjalanan dengan baik dan damai. Saya terharu. 

Sepertinya saya harus mulai belajar berdoa. Tidak hanya berdoa untuk diri sendiri. Itulah arti doa yang tidak egois.  Lebih dari itu sepatutnya kita mulai mendoakan orang lain terlebih lagi bangsa dan negara ini.