Perihal Menanam Benih


Saya punya teman dekat, sebut saja namanya Doni. Syahdan, saat tengah bersama-sama mengerjakan tugas, tiba-tiba terbesitlah ide untuk berbicara perihal cinta. Namun sebelum bercerita lebih lanjut izinkan saya memberikan sebuah peringatan awal. Saya sendiri bukan pakar di bidang percintaan. Bahkan, curiculum vitae saya dalam hal percintaan boleh dibilang masih awam. Kalau diibaratkan kursus bahasa inggris, saya masih dalam tahapan beginner. Baru belajar mengeja huruf dan angka. Tulisan ini sekadar perenungan atas pengamatan saya.

Singkat cerita, Doni mulai mengernyitkan dahi dan menghela nafas ketika saya mulai berbicara perkara cinta. Ia tampak jengah. Musababnya, beberapa bulan ini ia tengah dirundung masalah percintaan. Entah  siapa sosok yang dikasihinya itu. Tiba-tiba ia berceletuk, “Kenapa sih aku harus jatuh cinta, apa salah ku?” Mungkin kurang lebih demikian keluh Doni.

Sejenak saya berpikir, “Apakah jatuh cinta adalah suatu hal yang salah?” Sebagai seorang theis, saya meyakini bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia. Dia menciptakan berbagai macam organ tubuh manusia. Dia juga menciptakan berbagai macam perasaan yang melekat pada diri manusia. Lantas kalau jatuh cinta adalah suatu hal yang dipermasalahkan, berarti Tuhan juga turut andil dalam permasalahan ini?

Kalau memang jatuh cinta itu salah, kita juga tidak bisa menyalahkan kalau cinta datang tak disangka. Terkadang juga, cinta datang disaat yang tak dinginkan. Benci jadi cinta dan bahkan sebaliknya, yang awalnya cinta jadi benci. Ada yang datang pada pandangan pertama. Ada juga yang tak kunjung datang walau sudah lama berpandangan. Jatuh cinta semacam menjadi suatu hal di luar kendali kita. Selayaknya hidup cinta penuh dengan ketidakpastian.

Menanam benih

Saya mencoba memberi perumpamaan pada Doni bahwa jatuh cinta itu bisa diibaratkan seperti menanam benih. Dalam menanam benih tentu membutuhkan suatu medium–tempat di mana benih itu tumbuh. Demikian pula dengan jatuh cinta, butuh suatu medium agar cinta itu dapat tumbuh dengan subur. Berbeda dengan tanaman, medium benih cinta bukan tanah, bukan juga pot. Tentunya, medium benih cinta itu adalah seseorang yang kita kasihi.

Apakah ketika ada seseorang menanam benih lantas menjadi suatu tindakan yang salah? Tidak juga. Misalkan, saya ingin menanam benih padi, lalu apa yang salah dari menanam benih padi? Bukankah padi bermanfaat untuk kebutuhan pangan?Tidak ada yang salah! Akan tetapi, menjadi salah kalau kita menanam padi di padang gurun. Bukan salah, tetapi kurang tepat. Lha wong, padi itu tumbuh di tanah yang gembur lagi membutuhkan air yang cukup.

Bukan hanya bisa dipastikan gagal panen. Bahkan, bisa dipastikan pula padi tak akan tumbuh. Jika ingin dipaksakan mungkin bisa. Akan tetapi, harus dilakukan dengan rekayasa teknologi tinggi. Hasilnya pun mungkin tak sebaik dari benih padi yang tumbuh di tanah subur. Begitu pula dengan benih cinta. Kalau memang benih tidak bisa tumbuh, maka carilah medium lain yang sesuai dengan jenis benih yang kita tanam.

Saya punya contoh lain perihal memaksakan benih untuk tumbuh di medium yang kurang tepat. Begini ceritanya, saya punya tetangga, mereka menanam Pohon Durian jenis monthong di pekarangan depan rumahnya. Kata ibu saya, pohon itu merupakan Pohon Durian yang ajaib lagi unik.

Tidak unik bagaimana, Pohon Durian itu tumbuh di dataran rendah dengan cuaca yang cukup panas. Lantas bagaimana hasilnya? Pohon Durian itu memang tumbuh dan berbuah. Akan tetapi, daging buah durian itu harus dijus  lantaran teksturnya cukup keras dan ditambahkan gula lantaran rasanya hambar.

Lalu apa hubungan antara Pohon Durian dan hubungan percintaan? Hubungannya, mungkin saja, cinta yang dipaksakan akan tampak tumbuh dan berkembang. Akan tetapi, meskipun tumbuh, hasilnya bisa jadi tidak baik. Seperti Durian Monthong yang harus dijus dan ditambahkan gula. Mana ada makan durian dengan tambahan gula!







0 komentar:

Post a Comment