Hidup itu penuh dengan pertukaran. Bagaimana tidak. Ketika menginginkan suatu barang harus ditukar dengan uang. Mau uang harus melakukan pertukaran dengan kerja dan usaha. Mau pintar harus melakukan pertukaran dengan belajar. Semua tidak datang tiba-tiba dengan bantuan mukjizat. Bahkan untuk mendapatkan suatu mukjizat atau wahyu seseorang harus melakukan pertukaran dengan suatu laku atau tirakat. Termasuk perihal jatuh cinta, dengan sahabat pula. Penuh dengan pertukaran yang terkadang membuat kita mengalami dilema.

Keunggulan


"Pasangan terbaik itu adalah sahabat kita", ujar seorang teman. Tentu maksud pasangan di sini adalah pasangan hidup. Ada suatu keunggulan jikalau pasangan hidup kita itu adalah sahabat kita. Bagaimana keunggulannya? Karena sahabatlah yang paling mengerti diri kita. Dia tidak hanya tahu yang tampak-tampak saja. Jauh dari itu, mereka tahu apa yang tidak tampak dari diri kita. Tampak di sini maksudnya berupa kebaikan. Sedang yang tidak tampak berarti kerentanan, kelamahan yang kerap kita sembunyikan.

Lha wong jatuh cinta itu bukan hanya perkara siap mencintai kebaikan orang yang kita cintai. Jatuh cinta itu sepaket dengan menerima masa lalu dan pelbagai kerentanan seseorang. Tidak bisa dijual terpisah. Setiap orang itu punya sisi gelap baik berupa pengalaman hidup, sifat, watak, dan berbagai hal lainnya.

Kata ibu saya, “ Watuk ono tombone, mung yen watak ra ono ”. Kurang lebih maksudya begini, batuk itu ada obatnya sedangkan watak itu tidak ada. Merubah watak seseorang itu tidaklah mudah. Harus dimulai dengan kesadaran dalam diri. Tidak ujug-ujug ndilalah tiba-tiba berubah layaknya Power Rangers. Butuh waktu untuk saling berdamai dengan kegalapan masing-masing.

Satu frekuensi

Percaya atau tidak manusia itu berjejaring bagaikan gelombang radio. Ada gelombang AM dan juga FM. Begitu juga dengan manusia. Saya sendiri kesulitan dalam mendefinisikan frekuensi gelombang ini. Frekuensi gelombang manusia sifatnya abstrak. Akan tetapi, saya punya sebuah indikasi bahwa seseorang sefrekuensi atau tidak dengan diri kita. Cirinya bisa jadi berupa rasa nyaman dan juga nyambung atau klop ketika diajak mengobrol.

Biasanya orang yang satu gelombang ini berada dalam lingkaran terdekat dalam diri kita. Mereka biasanya adalah sahabat atau teman dekat kita. Semakin jauh gelombang menunjukkan semakin jauh juga kesamaan “gelombang” itu. Mereka–yang berada pada gelombang terluar– biasanya hanyalah sekadar teman biasa yang hanya saling bertegur sapa.

Lalu apa kaitanya dengan mencintai sahabat? Keunggulan yang kedua adalah sudah pasti pasangan kita itu berada dalam “satu gelombang” yang sama dengan diri kita. Tidak perlu lagi melalui proses menyesuaikan getaran gelombang. Lha wong frekuensi sudah lama disesuaikan selama masa persahabatan.

Pertukaran yang dilematis 

Bagi saya pribadi , jatuh cinta dengan sahabat itu adalah suatu hal yang dilematis. Sebagaimana yang sudah saya sampaikan di awal. Hidup itu penuh dengan pertukaran. Pertukaran mencintai sahabat ini terjadi kalau cinta bertepuk sebelah tangan.

Tentu hubungan persahabatan itu tidak akan segayeng hubungan sebelumnya. Akan ada perasaan sungkan atau dalam bahasa Jawa ada semacam perasaan ewuh pekewuh. Sudah jatuh ketiban tangga pula. Sudah ditolak ditambah kehilangan sahabat terdekat pula. Lengkap sudah semuanya.

Sehingga wajarlah dalam hubungan cinta berkedok sahabat ini, biasanya kedua pihak atau salah satu pihak akan sulit untuk memulai. Maksud saya memulai dalam menyatakan cinta. Karena bisa jadi ketakutan akan kehilangan sahabat menutupi perasaan itu. Atau singkatnya kedua belah pihak atau salah satu pihak akan memilih untuk cari amannya saja.

Lantas bagaimana kalau memang benar-benar jatuh cinta dan ingin menyatakan rasa cinta itu? Bergantung tujuannya. Maksud saya begini, kalau memang kita sudah keburu nikah dan keburu menentukan pilihan hidup, segera saja untuk menyatakan perasaan itu. Apapaun konsekuensinya tentu harus diterima.

Akan tetapi kalau tidak buru-buru, ya sudah. Nikmati saja prosesnya. Kata orang terburu-buru itu temannya setan. Toh menyatakan cinta tidak semata-mata dengan ucapan. Ada beragam ekspresi cinta, salah satunya  dengan tindakan. Tunggu momentum dan waktu yang tepat, baru ucapan bertindak!

















Tangan Munipa telah terampil dalam menggambar alis
Bersolek dengan bermodalkan kaca kecil
Ketekunan Munipa dalam menggoreskan pensil pada alisnya
Kotak ajaib berisikan alat rias



Namanya Munipa, sudah 5 bulan bekerja di rumah kami. Hanya bisa berbahasa Madura, kalau ada yang mengajaknya berbahasa Indonesia dia akan menimpali, "Engkok tak ngerteh", yang artinya , "Saya tidak tahu". Setiap sore, sehabis mandi, Munipa selalu membawa kotak sepatu ke depan ruang tamu. Kotak sepatu itu bak kotak ajaib yang akan mengubah wajahnya menjadi semakin bersolek.

Munipa and Her Magical Box

Her name is Munipa. She has been working in our family since 5 months ago. She only speaks Madura. If you talk with her in Bahasa or English she will reply "Engkok tak ngerteh" means, "I don't understand". Every afternoon, after taking a bath, she always brings a shoe box to our living room. This shoebox like a magical box that will change her face to be more glowing. And this afternoon, I try to document his makeup routine.

Saya punya teman dekat, sebut saja namanya Doni. Syahdan, saat tengah bersama-sama mengerjakan tugas, tiba-tiba terbesitlah ide untuk berbicara perihal cinta. Namun sebelum bercerita lebih lanjut izinkan saya memberikan sebuah peringatan awal. Saya sendiri bukan pakar di bidang percintaan. Bahkan, curiculum vitae saya dalam hal percintaan boleh dibilang masih awam. Kalau diibaratkan kursus bahasa inggris, saya masih dalam tahapan beginner. Baru belajar mengeja huruf dan angka. Tulisan ini sekadar perenungan atas pengamatan saya.

Singkat cerita, Doni mulai mengernyitkan dahi dan menghela nafas ketika saya mulai berbicara perkara cinta. Ia tampak jengah. Musababnya, beberapa bulan ini ia tengah dirundung masalah percintaan. Entah  siapa sosok yang dikasihinya itu. Tiba-tiba ia berceletuk, “Kenapa sih aku harus jatuh cinta, apa salah ku?” Mungkin kurang lebih demikian keluh Doni.

Sejenak saya berpikir, “Apakah jatuh cinta adalah suatu hal yang salah?” Sebagai seorang theis, saya meyakini bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia. Dia menciptakan berbagai macam organ tubuh manusia. Dia juga menciptakan berbagai macam perasaan yang melekat pada diri manusia. Lantas kalau jatuh cinta adalah suatu hal yang dipermasalahkan, berarti Tuhan juga turut andil dalam permasalahan ini?

Kalau memang jatuh cinta itu salah, kita juga tidak bisa menyalahkan kalau cinta datang tak disangka. Terkadang juga, cinta datang disaat yang tak dinginkan. Benci jadi cinta dan bahkan sebaliknya, yang awalnya cinta jadi benci. Ada yang datang pada pandangan pertama. Ada juga yang tak kunjung datang walau sudah lama berpandangan. Jatuh cinta semacam menjadi suatu hal di luar kendali kita. Selayaknya hidup cinta penuh dengan ketidakpastian.

Menanam benih

Saya mencoba memberi perumpamaan pada Doni bahwa jatuh cinta itu bisa diibaratkan seperti menanam benih. Dalam menanam benih tentu membutuhkan suatu medium–tempat di mana benih itu tumbuh. Demikian pula dengan jatuh cinta, butuh suatu medium agar cinta itu dapat tumbuh dengan subur. Berbeda dengan tanaman, medium benih cinta bukan tanah, bukan juga pot. Tentunya, medium benih cinta itu adalah seseorang yang kita kasihi.

Apakah ketika ada seseorang menanam benih lantas menjadi suatu tindakan yang salah? Tidak juga. Misalkan, saya ingin menanam benih padi, lalu apa yang salah dari menanam benih padi? Bukankah padi bermanfaat untuk kebutuhan pangan?Tidak ada yang salah! Akan tetapi, menjadi salah kalau kita menanam padi di padang gurun. Bukan salah, tetapi kurang tepat. Lha wong, padi itu tumbuh di tanah yang gembur lagi membutuhkan air yang cukup.

Bukan hanya bisa dipastikan gagal panen. Bahkan, bisa dipastikan pula padi tak akan tumbuh. Jika ingin dipaksakan mungkin bisa. Akan tetapi, harus dilakukan dengan rekayasa teknologi tinggi. Hasilnya pun mungkin tak sebaik dari benih padi yang tumbuh di tanah subur. Begitu pula dengan benih cinta. Kalau memang benih tidak bisa tumbuh, maka carilah medium lain yang sesuai dengan jenis benih yang kita tanam.

Saya punya contoh lain perihal memaksakan benih untuk tumbuh di medium yang kurang tepat. Begini ceritanya, saya punya tetangga, mereka menanam Pohon Durian jenis monthong di pekarangan depan rumahnya. Kata ibu saya, pohon itu merupakan Pohon Durian yang ajaib lagi unik.

Tidak unik bagaimana, Pohon Durian itu tumbuh di dataran rendah dengan cuaca yang cukup panas. Lantas bagaimana hasilnya? Pohon Durian itu memang tumbuh dan berbuah. Akan tetapi, daging buah durian itu harus dijus  lantaran teksturnya cukup keras dan ditambahkan gula lantaran rasanya hambar.

Lalu apa hubungan antara Pohon Durian dan hubungan percintaan? Hubungannya, mungkin saja, cinta yang dipaksakan akan tampak tumbuh dan berkembang. Akan tetapi, meskipun tumbuh, hasilnya bisa jadi tidak baik. Seperti Durian Monthong yang harus dijus dan ditambahkan gula. Mana ada makan durian dengan tambahan gula!