Merenungkan Pernikahan



Kapan nikah? Merupakan pertanyaan yang paling menjengkelkan bagi seseorang berusia 25 tahun ke atas. Pertanyaan itu semacam menjadi FAQ (frequently asked questions) atau pertanyaan yang sering ditanyakan. Wabil khusus, sering muncul di saat acara kumpul keluarga pada hari-hari besar keagamaan. Saat ini saya telah menginjak usia ke- 22 . Itu berarti sekitar tiga tahun lagi pertanyaan itu akan datang menghujani saya.
Manusia Janggal

Pada umumnya, mungkin, ini sekadar pengamatan saya. Pernikahan semacam menjadi salah satu tolak ukur bagi “kesempurnaan” hidup seseorang. Kalau seseorang belum atau bahkan tidak menikah ia kerap dianggap belum menjadi manusia yang sempurna. Semacam ada yang kurang, janggal. Acapkali diibaratkan seperti sayur tanpa garam. Hambar.

Misalkan, ada seseorang dengan kriteria sebagai berikut. Mapan sudah, tampan sudah, pintar juga iya. Namun, kurang satu saja, belum menikah. Sontak, seseorang tersebut biasanya akan dipandang sebelah mata. Bahkan bisa menjadi bahan omongan tetangga. “Lah anaknya Ibu Fulanah itu lho, ganteng, sukses, tapi kok ya belum laku-laku”.

Hampir semua agama menganggap pernikahan sebagai hal yang sakral. Dalam kitab suci dikisahkan Tuhan menciptakan Hawa sebagai pelengkap Adam. Maksudnya mungkin begini, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pelengkap bagi satu dengan yang lainnya. Otomatis, seseorang yang belum menikah dapat dikatakan sebagai orang yang “belum lengkap”, seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

Setiap manusia tentunya punya kekurangan dan juga kelebihannya masing-masing. Mungkin, dua hal itulah yang berusaha dilengkapi dalam pernikahan. Menikah bukan hanya perkara biologis atau sekadar mencari kenikmatan seksual. Kalau hanya sekadar persoalan selangkangan, lantas apa bedanya dengan melacur? Amit sewu, mungkin saja lebih enak melacur.

Antara Menikah dan Melacur

Lantas apa bedanya menikah dengan melacur? Perbedaannya adalah mungkin saja, sekali lagi mungkin, karena saya sendiri juga belum menikah. Menjalin komunikasi antara dua pihak. Bayangkan saja, kita akan hidup bersama dengan pasangan kita. Sampai kapan? Hingga jangka waktu yang tidak ditentukan dan jelas tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Nah, apalagi, setiap orang punya kerentanan, kelemahan, dan ego masing-masing. Begitu pula dengan pasangan kita. Mencari pasangan itu bukan perihal mencari kesempurnaan. Lha wong tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Andra and The Back Bone. Kalau kesempurnaan yang kita cari mungkin saya bisa memberikan opsi, silakan menikah dengan malaikat saja.

Satu hal lagi, kalau kesempurnaan yang kita cari kerapuhanlah yang akan kita temui. Selalu saja ada cacat dan cela pada diri seseorang. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana kita bisa mengakomodir kerentanan dan kelemahan pasangan kita?

Menjadi Rem dan Kopling

Saling menerima kerapuhan dan bersama-sama berdamai dengan kerapuhan tersebut. Sekilas tampak mudah diucapkan namun dalam praktinya belum tentu demikian. Damai itu bukan bersifat pasif, tetapi ada upaya aktif antara dua belah pihak. Anda punya kelemahan begitupula dengan pasangan Anda. Berdamai artinya kedua belah pihak mampu menjadi rem dan koping bagi masing-masing.

Rem fungsinya untuk menahan agar kendaraan tidak bablas dan untuk menghindarkan suatu kondisi yang tidak diinginkan. Sedangkan, kopling berfungsi agar kendaraan bisa bergerak dan menjalankan fungsinya. Dalam kehidupan rumah tangga rem dapat berupa saling mengingatkan ketika kerapuhan itu terjadi. Kopling dapat berperan dalam komunikasi dalam pengambilan langkah bagi jalannya kehidupan rumah tangga.

Saya beri contoh begini, misalkan saya orang yang boros sedangkan pasangan saya adalah orang yang hemat. Nah bagaimana praktik rem itu? Praktiknya adalah pasangan saya akan “mengerem” atau mengingatkan saya tatkala sudah keblinger dengan urusan belanja.

Baik rem dan kopling keduanya membutuhkan pelumas agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. Begitu juga dengan “rem dan kopling” kehidupan rumah tangga. Pelumas di sini berupa sifat berlapang dada ketika pasangan saling mengingatkan, tidak menang sendiri dan semaunya sendiri. Rem dan kopling ini berfungsi agar kedua pasangan saling bertumbuh dan berkembang.

Saya berpikir bahwa dalam hubungan yang baik kedua pasangan sejatinya akan semakin bertumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Baik bagi dirinya maupun sesama serta semesta. Berkembang bukan semata-mata “berkembangbiak”, berkembang dalam artian bagaimana menjadi dua pribadi yang semakin memberi rasa di tengah-tengah kehidupan.

0 komentar:

Post a Comment