Sawang Sinawang Mahasiswa Semester Akhir


Beberapa hari ini, saya sering kali bertanya pada salah satu teman begini, “Si Fulan, baru sidang , bagaimana perasaanmu?” Pertanyaan ini saya ajukan melihat sudah mulai tumbangnya teman seangkatan saya satu persatu. Tumbang lantaran purna sudah tugasnya sebagai mahasiswa strata satu. Lalu, jawab teman saya begini, “Di satu sisi senang sih Rif, melihat orang lain bahagia, tetapi di sisi lain juga kesal, mengapa saya kok belum rampung juga”.

Mungkin, kalau diibaratkan dengan lomba lari, siapa cepat sampai garis finis, maka dialah yang menang. Siapa yang lulus dulu, maka dialah juga yang akan menang. Lantas apa yang salah? Tidak ada yang salah. Perkara lulus duluan dan lulus terakhir memang tidak bisa menjadi tolak ukur kesuksesan. Waktu kelulusan menurut saya itu perkara prioritas. Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki prioritas, jalan , ditambah masalahnya masing-masing.

Melihat kebahagiaan orang lain itu ibarat koin yang terdiri atas dua sisi. Di satu sisi bahagia dan di sisi lain mungkin saja menyimpan rasa kesal terhadap diri sendiri. Tidak semuanya begitu, ada juga yang merasa tertantang. Bagaimana tantangannya? Dia saja lulus, kok ya saya belum lulus-lulus. Semacam iri, tetapi rasa iri yang cenderung menuju pada kompetisi yang positif.

Kata teman saya, rasa iri pada manusia itu adalah suatu yang alamiah lagi lumrah. Saya pun mencoba merenungkan perkataan teman saya itu. Hidup perkara dilihat dan melihat. Seperti kata pepatan Jawa, urip kui sawang sinawang, mung ojo nyawang sing kesawang. Secara gamblang pepatah itu ingin mengatakan sebuah sifat alamiah manusia untuk melihat yang terlihat. Sementara yang tak terlihat acap kali terabaikan.

Apa sesuatu yang tak terlihat itu? Yang tak terlihat di sini bukanlah jin, setan, dan berbagai macam dedemit lainnya. Tak terliahat dapat berupa usaha, kegigihan, dan berbagai macam sikap lainnya yang jarang kita ketahui. Kita hidup di zaman instan, mungkin terbawa hingga ke dalam cara pandang kita. Melihat suatu hal terjadi secara instan. Ndilalah dan tiba-tiba terjadi, layaknya kehidupan di zaman nabi-nabi terdahulu, dengan mengandalkan mukjizat Yang Kuasa.

Padahal, apa yang kita lihat itu semacam gunung es dari tumpukan hal-hal yang tak terlihat. Maka di semester akhir ini terutama mengajarkan saya satu hal. Belajar bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Merasa bahagia ketika  satu persatu teman mulai sidang. Tentu saja sidang skripsi, bukan sidang isbat apalagi sidang SIM. Tidak hanya melihat apa yang saya lihat, tetapi belajar dari apa yang tak terlihat itu. Selamat berbahagia!







0 komentar:

Post a Comment