Berani Bersyukur


Bersyukur bisa dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu akhir tahun. Namun biasanya, ibarat sebuah perjalanan, akhir tahun kerap dijadikan momen untuk berhenti sejenak. Berhenti, untuk menilik perjalanan kita setahun ke belakang. Melihat berbagai kaleidoskop yang pernah kita tapaki. Meski kita ketahui yang di belakang itu tidak melulu “terang” bahkan bisa jadi “gelap”. Akan tetapi, dengan segenap keberanian, segala kegelapan yang pernah kita lalui itu harus berani kita syukuri, bukan untuk ditakuti. Tulisan ini adalah ungkapan syukur atas berbagai kejatuhan hidup yag saya alami di tahun ini.
Bersyukur itu sulit, tidak mudah. Karena sebagai manusia biasa saya selalu saja merasa kekurangan. Terlebih jika harus mensyukuri kejatuhan hidup. Karena syukur selalu berkonotasi dengan hal-hal yang baik-baik. Sedangkan yang buruk-buruk selalu berkonotasi dengan musibah dan juga azab. Saya juga demikian, acapkali saya tidak berani melihat kembali berbagai kejatuhan yang saya alami itu. Takut trauma, pesimis menjalani kehidupan ke depan, serta berbagai ketakutan lainnya.

Padahal, berefleksi berbeda dengan sekadar meratapi kesedihan. Lantas apa bedanya ? Dalam berefleksi titik tekannya adalah kebaikan Tuhan. Kesadaran akan Tuhan yang maha proaktif dalam mencintai hambanya. Sedangkan, dalam ratapan titik tekannya adalah kepedihan akan kejatuhan yang telah kita lalui.

Meskipun kita tidak bisa menafikkan, dalam berefleksi kepedihan akan kejatuhan tetap kita rasakan. Saya tidak berupaya menghilangkan kepedihan akan kejatuhan itu. Tidak demikian, karena refleksi bukanlah proses hipnotis. Sekali lagi saya jelaskan, bahwa fokus refleksi adalah memandang kejatuhan dalam sisi manusia yang rapuh dan selalu membutuhkan pertolongan Nya.

Menengok kembali kerapuhan di tahun ini

Sepuluh bulan berlalu, kejatuhan itu saya lalui. Tuhan, maafkan saya yang belum mengenalmu dengan begitu baik. Terimakasih atas kehidupan kedua yang boleh saya terima. Saya ingin menghaturkan maaf jika kesempatan itu belum saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Tuhan, dari kejatuhan itu saya belajar. Tidak semua yang buruk itu buruk, tetapi peristiwa yang kita anggap "buruk" , kalau disikapi dengan "baik" justru menjadi baik. Begitu juga dengan hal "baik" yang kita terima, kalau salah menanggapi justru menjadi "buruk".

Saya teringat kembali dengan kisah Adam dan Hawa yang tergambar apik dalam kitab suci. Alkisah, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Mereka sudah diberikan tempat tinggal sebaik-baiknya, yakni surga.

Singkat cerita, Tuhan hanya minta satu hal kepada mereka, “Jangan makan buah dari pohon itu”. Lantas, setan dengan segala rayuannya, membujuk mereka untuk makan buah dari pohon yang telah dilarangNya. Satu bujuk rayu setan, yakni kekelan yang akan didapatkan keduanya. Setelah memakan buah, tersingkaplah apa yang dianggap baik dan jahat.

Ada beberapa pelajaran yang saya petik dari kisah tersebut. Pertama, Adam dan Hawa menjadi gambaran bahwa sejak manusia pertama diciptakan manusia memiliki sifat dasar “rapuh”. Kerapuhan manusia itu semacam menjadi gawaan bayi atau bawaan lahiriah. Kejatuhan manusia, entah dalam bentuk apapun, merupakan hal yang lumrah. Tuhan mungkin memahami kerapuhan itu. Tuhan tidak melihat seberapa rapuhnya manusia, tetapi bagaimana proses dari "gelap" menuju "terang".

Kedua, kisah Adam dan Hawa mengajarkan adanya blessing in disguise, atau berkat terselubung di setiap peristiwa yang kita lalui. Adam dan Hawa memang pernah berdosa. Akan tetapi, dari kedosaan yang pertama itu ia belajar untuk terus memperbaharui diri mereka. Dari kejatuhan kita belajar, bukankah pembelajaran bisa didapat dari mana saja?

Terakhir, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sejengkalpun. Rahmat dan kerahiman adalah salah satu yang kita mohonkan. Bertobat bukan hanya perkara kesombongan atas amal kebajikan yang telah kita lakukan, atas karuniaNya sematalah kita dimaafkan.

Kalau Tuhan hanya mengampuni orang yang baik, siapakah yang berhak menerimanya? Tidak ada. Kalau Tuhan menghukum orang yang berdosa, siapakah juga yang akan selamat? Jawabnya tidak ada juga. Kasih dan kemurahanNya mengalahkan segala ukuran manusia.







0 komentar:

Post a Comment