Penggambaran Yang Kurang Tepat terkait Surga dan Neraka





Saya tidak tahu ada berapa jumlah orang yang meyakini akan adanya kehidupan kelak pasca kematian. Tidak penting juga mengetahui berapa jumlah mereka. Percaya atau tidak percaya itu urusan pribadi masing-masing. Saya sendiri, meskipun tidak terlalu religius-religius amat, saya mengakui akan adanya kehidupan pasca kematian. Orang Jawa mengatakan, gesang langgeng atau kehidupan kekal.

….

Siang itu, entah kapan saya lupa, salah seorang kawan datang dan kamipun berdiskusi terkait surga dan neraka. Terkesan njlimet, ndakik, dan sok teologis. Tetapi, sebenarnya diskusi siang itu hanya obrolan sederhana yang tidak disertai suatu teori ataupun dasar kitab suci manapun.
Syahdan, kawan saya ini mulai bercerita mengenai kesangsiannya terhadap surga dan neraka. Siapa tahu surga dan neraka itu cuma imajinasi Kitab Suci. "Tujuannya jelas, agar orang-orang mau menerima berbagai doktrin yang diajarkan oleh institusi agamanya”, katanya.

Kesangsian ini timbul karena maraknya penguatan identitas agama akhir-akhir ini. Orang rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan ganjaran surga. Bahkan melakukan hal-hal di luar nalar. Karena tawaran bidadari, sungai madu, sungai susu, dan berbagai kecukupan lainnya orang rela bunuh diri, melukai saudaranya, mencederai kemanusiaan, terorisme dan berbagai tindakan kekerasan lainnya.
Kekerasan dan kekejaman atas nama Tuhan yang timbul karena fanatisme agama ini pernah disinggung oleh Romo Mangun dalam novelnya- Burung – Burung Rantau. Kata beliau begini, “ Wah, orang itu kalau sudah fanatik agama kejamnya bukan main. Kejam atas nama Tuhan, kan kontradiksi yang aneh sekali, tetapi begitulah manusia”.
Keblinger kaswargan, istilahnya. Bahkan orang zaman ini senang mengkapling surganya sendiri-sendiri. Ada bagian surga yang sudah dikapling oleh partai politik tertentu, agama tertentu, dan kelompok tertentu. Nah, kalau surga sudah dikaplingi dan kaplingnya sudah penuh lantas kita tinggal dimana? Sebenarnya surga itu seluas apa ya, hingga bisa dikapling- kapling, apakah kita perlu mengkapling surga juga sebelum semua lahan surga dipenuhi oleh kelompok-kelompok itu?
Selain surga, neraka pun juga sudah mulai dikapling. Tapi kapling neraka ditunjukan untuk lawan, oposisi, atau diluar kelompok para ahli surga tadi. Misalkan saja, kelompok di luar aliran x, partai x, dan lain-lain. “Mungkin aku akan memilih tinggal di kawasan periferal, terletak diantara surga dan neraka”, ujarnya.
Sementara saya malah tertawa kepingkel. Bukan tertawa karena tidak mendengarkan atau merendahkan kawan saya satu ini. Saya tertawa karena gaya berceritanya selalu jenaka dan kerap membuat perut saya mulas. Begitulah manusia dengan beragam keunikannya.
Usai puas bercerita, kini dia bertanya pada saya tentang kebenaran surga dan neraka itu. Surga yang digambarkan dengan kitab suci berisi para bidadari dan sungai-sungai madu. Tetapi, sebelum mulai bercerita saya ingin memberi sebuah peringatan. Pertama, saya bukan seorang teolog, yang mampu menjelaskan dalil-dalil tentang kehidupan kekal seturut kitab suci. Kedua, saya juga belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Ketiga, sayapun juga belum pernah melakukan wawancara langsung dengan orang yang sudah meninggal terkait bagaimana rupa surga dan neraka itu.
Barulah saatnya saya mulai bercerita. “Saya meyakini akan adanya kehidupan kekal”. Mungkin, setiap agama memiliki penggambaran yang berbeda terkait kehidupan kekal itu. Orang Hindu, meyakini kehidupan kekal dalam bentuk moksa. Dan umumnya agama-agama abrahamik, meyakini kehidupan kekal dalam bentuk surga dan neraka.

Saya meyakini bahwa diri saya ini adalah makhluk yang berketuhanan. Meyakini bahwa ada zat yang menciptakan langit, bumi, dan semesta alam. Jika Bapak Kapitalisme – Adam Smith, meyakini akan adanya invisible hand yang mengatur pasar. Maka begitu dengan dunia ini, ada tangan-tangan tak kasat mata yang telah mengatur jagat gedhe dan jagat cilik.
“Lalu apa hubungannya dengan surga dan neraka?”, sela kawan saya. Hubungannya adalah, sebagai orang yang meyakini akan Tuhan, saya percaya bahwa dunia yang kita tinggali ini hanya sementara. Urip mung sadermo ngombe, hidup kita adalah sebuah peziarahan dari suatu titik dan kembali menuju suatu titik.
Saya senang mengibaratkan hidup ini seperti naik motor. Jalan adalah kehidupan itu sendiri, kendaraan adalah seperangkat ideologi, keyakinan, pegangan yang kita gunakan untuk berkendara. Dan kita sendirilah sebagai pengendaranya. Sebagai pengendara kita tentu akan berhenti pada suatu tujuan. Entah berkendara kembali ke tempat di mana kita berasal atau ke berbagai tempat lainnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Dalam keyakinan yang saya anut, saya meyakini akan kembalinya kita ke dalam tempat dimana kita berasal dahulu. Mengutip kata Heideger, masuknya kita kedunia ini semacam kondisi keterlemparan. Adanya kita di dunia ini bukan atas kehendak kita sendiri. Manusia ada menuju kematian atau Sein zum Tode. 
“Lalu bagaimana dengan bidadari, bidadara, sungai susu dan berbagai imaji itu, apakah kamu percaya?”, tanyanya lagi. Bagi saya itu kan hanya penggambaran, mungkin saja Tuhan memberikan gambaran sedemikian rupa agar kita rajin dalam berbuat kebajikan. Tidak semua orang mampu mengerjakan kebajikan atas landasan kasih. Ada orang yang harus diiming-imingi dulu, baru dia mau melakukan suatu pekerjaan.
Jika orang mau menggambarkan surga seperti itu, silakan saja. Saya juga tidak keberatan, tetapi menurut pendapat saya pribadi itu kurang tepat. “Kurang tepat bagaimana, wah hebatnya sudah bisa menggurui Tuhan”, ujarnya lagi.



Saya memang punya refleksi dan interpretasi tersendiri mengenai surga dan neraka. Bagi saya, surga itu bukan semata-mata tempatnya indah, terdapat bidadari dan berbagai macam fasilitasnya. Tetapi, soal jiwa-jiwa yang mengisi surga.
Ibarat rumah maka, lebih baik mana rumah mewah tetapi orang-orang di dalamnya sering berkonflik, mencaci dan menebar kebencian. Atau, rumah yang sederhana tetapi orang-orang di dalamnya saling berbagi kasih? Tentu, lebih baik rumah yang sederhana tetapi orang-orang di dalamnya mampu menciptakan suasana surgawi. Sedangkan rumah pertama, meskipun tempatnya indah tetapi orang-orang di dalamnya saling bertengkar tak ubahnya rumah tersebut seperti neraka.

Begitu pula dengan surga, rumah atau tempat peristirahatan terakhir itu. Surga, bukan semata-mata karena tempatnya yang indah. Tetapi, karena orang-orang penghuni surgalah yang membuat suasana surga menjadi lebih surgawi.

0 komentar:

Post a Comment