Fragmen KKN Ke-Lima: Krisis Pasca KKN



Seperti yang sudah saya kemukakan pada catatan KKN pertama. Sesuatu yang pada awalnya kita anggap lama pada akhirnya akan berlalu dengan cepatnya. KKN selama kurang lebih 50 hari berlangsung ini pun kini telah berlalu. Hari ini, saya mencoba kembali menyesuaikan dengan rutinitas sediakala. Selama KKN saya tinggal bersama dengan banyak orang. Selalu saja ada banyak hal yang diceritakan di ruang pondokan kami. Sekarang, saya harus menyesuaikan diri dengan kesendirian.
Awal minggu pertama pasca KKN, saya memulai mengalami masa penerimaan. Agak terdengar berlebihan memang, tetapi inilah yang saya alami. Saya mencoba meyakini, bahwa memang di setiap pertemuan ada perpisahan. Hidup adalah petualangan, maka saya harus bersiap dengan petualangan berikutnya. Tulisan ini adalah cara saya untuk melepas rindu dengan rutinitas KKN.

Tiada hari tanpa cupir (Cuci piring)

“Hayo-hayo, siapa yang cupir”, pagi-pagi saya selalu mendengar suara ini. Kami biasa menyebut kegiatan cuci piring dengan sebutan cupir. Piring-piring serta alat makan yang di cuci pada pagi hari adalah piring-piring yang telah terpakai pada hari sebelumnya. Cuci piring dilakukan dua waktu dalam sehari, pagi dan sore.

Cuci piring dilakukan di dua waktu tersebut karena air di pondokan kami tidak setiap waktu mengalir. Bahkan terkadang air baru mengalir di saat malam hari. Air harus dibagi untuk menyirami perkebunan warga. Di saat krisis air, kami sepondokan harus menghemat. Cuci piring, cuci baju, dan mandi di nomor duakan, air hanya untuk ritual “hajatan”.

Cuci piring untuk terakhir kalinya


Tidak ada wastafel khusus untuk mencuci piring. Biasanya kami mencuci piring di pintu belakang pondokan dengan berbekalkan dua hingga tiga ember air. Kegiatan cuci piring ini selalu saja ditemani dengan ayam, mentok, dan juga anjing . Mereka semacam sudah hafal dengan ritual ini, dengan sabar hewan-hewan ini menunggu kami melempar makanan sisa.

Semakin banyaknya piring yang dicuci membuat salah seorang teman kami menelurkan sebuah ide kreatif. Agar cucian tidak banyak dan dapat menghemat menggunakan piring, maka piring-piring yang terlalu banyak itu harus disembunyikan. Berkat trik ini kami tak perlu mencuci piring banyak-banyak.

Lantas siapa yang mencuci piring-piring itu? Di awal-awal KKN kami telah menyepakati jadwal cuci piring dan piket pondokan. Namun, lama-lama jadwal tersebut amburadul. Bersih-bersih pondokan dan kegiatan cuci piring dilakukan secara sukarela dan cinta kasih. Tidak ada aturan baku mengenai siapa yang harus bersih-bersih di hari itu.

Kehangatan ruang tengah pondokan

Umumnya rumah memiliki ruang tengah atau ruang keluarga. Di ruang tengah itu biasa menjadi tempat untuk berkumpul anggota keluarga sembari menonton televisi atau sekedar mengobrol. Begitu juga dengan pondokan kami, hanya saja di ruang tengah kami tidak terdapat televisi.

Biarpun secara biologis kami bersepuluh bukanlah keluarga biologis, tetapi saya merasa kehangatan pondokan tidak kalah hangatnya dengan keluarga biologis. Di ruang tengah ini biasanya kami berkumpul, baik hanya sekadar untuk mengobrol, bertanya soal kabar dan apa yang akan dikerjakan seharian ini, makan bersama, dan banyak lagi.

Ruang tengah pondokan kami bisa dibilang sebagai “aula” multifungsi. Terkedang menjadi tempat makan, bioskop dadakan, dan di saat malam tiba, ruang tengah pondokan kami berubah fungsi menjadi kamar besar.

Tidur bersama, satu hal yang masih saya ingat hingga saat ini. Dari tidur bersama ini saya mulai memahami siapa di antara penghuni “kamar tengah” yang paling keras dalam mendengkur. Bahkan saya sering berkelakar bahwa suara dengkuran kawan saya ini lebih keras dari suara turbin pembangkit listrik. Sebuah “PLTD” atau Pembangkit Listrik Tenaga Dengkuran yang dapat menghasilkan beribu megawatt berada di pondokan kami.

Makan bersama

Pada medio awal KKN kami lebih memilih untuk katering ketimbang memasak. Pilihan itu didasarkan pada padatnya kegiatan kami pada paruh awal kegiatan KKN. Baru sekitar dua atau tiga minggu sebelum KKN berakhir, kami memutuskan untuk berhenti katering. Masakan yang dihidangkan pun tergolong sederhana, tidak begitu rumit. Yang membuat istimewa adalah kerja sama dalam menciptakan hidangan tersebut.

Ada sebagian dari kami yang pergi ke pasar untuk berbelanja, ada yang mendapat bagian untuk masak nasi, memotong sayur, dan banyak lagi. Sementara saya, terkadang mendapat bagian untuk belanja ke warung tetangga ataupun ke pasar. “Sabaraha hargina sakilo?” “Sapuluh tilu?” Hanya beberapa kata yang saya ketahui untuk berkomunikasi dengan pedagang di pasar. Selebihnya saya menggunakan Bahasa Indonesia.









Saya tidak mafhum dengan urusan masak memasak. Sejauh ini menu yang bisa saya masak hanyalah tiga jenis, menanak nasi, menggoreng telur, dan memasak makanan cepat saji terkhusus lagi mie.
Tempe, tahu, semacam menjadi menu sakti. Sementara untuk kol, ketang, dan tomat seringkali kami mengandalkan dari pemberian warga. Ada satu hal lagi yang selalu menyertai hidangan makanan pondokan kami. Lalapan. Pada umumnya orang Jawa Barat sangat gemar dengan lalapan, entah berupa timun, terong, selada, dan kol.

Mengenal Atom dan Aida

Setiap daerah memiliki makanan dan rasa khasnya tersendiri. Kuliah di Yogyakarta menuntut lidah saya untuk beradaptasi dengan makanan manis. Begitu juga dengan KKN di Jawa Barat yang memaksa saya untuk kembali beradaptasi. Pengamatan saya, orang-orang Garut sangat erat dengan permicinan.

Aida dan Atom adalah dua bumbu sakti yang seringkali hadir mewarnai jajanan dan makanan. Aida adalah cabai giling berbentuk serbuk. Sedangkan atom adalah nama sebuah produk MSG. Baik atom dan aida adalah merek lokal yang cukup masyhur di kawasan Pariangan Timur, seperti Garut dan Tasikmalaya. Contohnya saja ketika membeli Mie Baso. Seperti tanpa perasaan berdosa mamang penjual bakso menaburkan mecin dengan takaran yang menurut saya cukup banyak, sekitar dua atau tiga sendok makan.

Bahkan sudah sedari kecil anak-anak dicekoki dengan micin. Jajanan anak-anak seperti Maklor (makaroni telor), tareng (tahu goreng), cireng (aci goreng), seblak, dan banyak jajanan lainnya selalu ramai dengan warna-warni aida dan atom.

Anak-anak Cintaasih yang kadang membuat kami kesal

Bermain dengan anak-anak memang menyenangkan, tetapi juga sering kali menyebalkan dan terkadang atau bahkan kerap membuat saya kesal. Terlebih ketika kami ingin beristirahat dan seketika terdengar suara anak-anak dari balik pintu, “Kakak, Kakak”. Kami sepondokan seketika juga langsung membisu. “Sepertinya kita perlu buka praktik jam bermain, hari besar dan minggu tutup, jam 19.00 tutup”, saran saya pada teman-teman.

Anak-anak itu biasanya datang setelah melaksanakan ibadah salat isya. Bukan satu, dua orang, mereka datang bergerombol. Anak-anak itu paling suka dengan permainan tebak-tebakan. “Sebutkan provinsi yang ada di Pulau Jawa!”, tebak saya. “Aku kak, Aku Kak”, mereka bersahut-sahutan sembari mengacungkan tangan.



Saya pun memilih salah seorang anak untuk menjawab. Arif. Mirip dengan nama saya. Arif adalah anak yang paling semangat bermain tebak-tebakan.. Badannya berisi, kulitnya putih langsat, pipi tembam dengan rona kemerah-merahan, itulah perawakan Arif. “Jawa Barat, Sumatera, Jakarta, Bali”, Jawab Arif. “Salah, ayo yang lain, siapa yang mau jawab?”. Anak-anak lain pun berusaha menjawab.

Sementara itu Arif kemudian protes, “Kak, tebak-tebaknanya diganti nama-nama planet atau soal nabi-nabi”. Tebak-tebakan ini  layaknya lomba cerdas cermat kecil-kecilan. Tebakan yang sering dibagikan mulai dari Pengetahuan mum, Sains, Agama Islam, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Mereka yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, akan mendapatkan hadiah kecil-kecilan. Hadiah itu tidak begitu besar, hanya jajan kecil-kecilan, dan terkadang pensil, sikat gigi, tapi antusiasme mereka begitu besar.

Benci jadi cinta, kesal jadi rindu. Mungkin itulah yang saya alami saat ini. Anak-anak yang dulu sering saya kesalkan kini semakin saya rindukan. Sayapun kembali menyadari pentingnya menyadari waktu “kini dan disini” yang tengah kita lalui. Karena waktu yang berlalu tidak dapat terulang kembali.


0 komentar:

Post a Comment