Sudah berapa kali kita berceletuk, “Wah kebetulan sekali ya kita bisa bertemu”. Umumnya celetukan ini diucapkan ketika tanpa dinyana kita bertemu dengan seseorang atau suatu hal yang tidak diduga-duga sebelumnya. Di luar nalar dan tanpa melalui proses janjian terlebih dahulu. Kali ini saya ingin bercerita tentang momen kebetulan yang sempat saya alami baru-baru ini. Benarkah peristiwa kebetulan ini adalah sebuah kebetulan? Atau memang peristiwa  kebetulan ini memang "kebetulan" yang sudah diatur oleh yang Yang Kuasa ?

Punggung sudah merebah di kursi Kereta Api Sancaka tujuan Surabaya. Mencari posisi senyaman mungkin untuk tidur, itulah yang tengah saya lakukan. Biasanya, minggu pagi merupakan waktu terbaik untuk memperpanjang waktu tidur. Namun pagi itu, pagi benar sekitar pukul 4.00, saya mulai bangun dan mandi. Tidak ingin tertinggal kereta, sederhana saja alasan k untuk bangun pagi di hari minggu. Perlahan, mata saya mulai terpejam dan mulai meluncur ke alam mimpi.

Namun, belum beberapa menit pasca memejamkan mata, saya mendengar suara yang tak asing di telinga saya. “Seperti suara Mbak Ayu- Dosen saya di Fisipol UGM", terka saya. Di fakultas tempat saya belajar  punya tadisi unik. Kami menyapa dosen tidak dengan sapaan Pak ataupun Bu. Akan tetapi, kami biasa menyapa dengan sapaan Mas dan Mbak. Mungkin hal ini dilakukan untuk membentuk iklim egaliter dan menambah iklim keakraban di antara dosen dan mahasiswa.

Untuk memastikan kebenaran sosok dari sang empunya suara, sayapun membalikkan badan.  Benar saja, sesuai dengan dugaan saya. Tanpa janji sebelumnya, ndilalah, Mbak Ayu duduk di kursi tepat di belakang saya. Ketika memilih kursi beberapa hari sebelumnya, saya hanya mencari kursi di dekat jendela kereta. Sebelumnya secara otomatis, aplikasi meletakkan saya di gerbong dua, namun kursi yang saya dapatkan tidak berdempetan dengan jendela.

Untuk itu saya memindahkan kursi ke gerbong tiga nomor kursi 6.  Kebetulan kursi masih kosong. Entah siapa yang akan duduk di belakang, di depan, atau di samping kursi saya. Toh juga saya tidak akan mengetahuinya, karena aplikasi hanya menunjukkan kursi yang kosong, bukan siapa yang menduduki kursi itu.

Saya pun terkejut dan mulai menyapa beliau. “Lah Mbak mudik juga tho?”, tanya saya. “Iya nih Rif, mudik ke Madiun mumpung mahasiswa lagi UTS”, jawabnya. Kemudian Mbak Ayu bercerita bahwa semalam beliau baru memesan tiket dan terpaksa hanya mendapat tempat duduk terpisah dengan anaknya.

Semula, Mbak Ayu hanya bisa berpasrah, semoga bisa bernegosiasi dengan orang yang duduk di sampingnya. Kebetulan. Orang yang duduk di sampingnya adalah saya. Kemudian sontak saya menawarkan untuk berpindah tempat ke kursi 5B. Mbak Ayu dan anaknya pun bisa duduk berdampingan.

Kebetulan lain juga di alami oleh Ayah dan Ibu saya. Baru-baru ini adik saya mulai memasuki masa perguruan tinggi. Adik masuk di universitas swasta, di fakultas yang boleh dibilang mengeluarkan banyak biaya. Ayah dan Ibu adalah pegawai negeri yang hidup dengan berkecukupan, singkatnya, ndilalah kersaning Gusti Allah, ada saja pertolongan Yang Kuasa itu.

Mencoba Memahami Peristiwa Kebetulan

Umumnya orang akan menyebut suatu peristiwa “kebetulan” ketika peristiwa tersebut berada di luar kuasa kita. Seperti yang saya alami kemarin, di luar nalar saya duduk tepat di dekat dosen saya.  Di luar nalar juga ayah dan ibu dapat membiayai kuliah adik yang cukup mahal. Benerkah peristiwa ini adalah sebuah kebetulan?

Saya meyakini ada sebuah entitas yang menciptakan dunia dan segala isinya. Dia menciptakan dan mengatur setiap hal yang ada di dunia ini. Ada tangan-tangan tak kasat mata yang mengatur kehidupan kita. Jika kehidupan ini diibaratkan sebagai lakon pewayangan, maka ada dalang yang mengatur di setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan dunia yang kita tempati ini, ada peran serta Sang Dalang pengatur skenario kehidupan.

Terkadang atau bahkan sering kita kurang memahami  setiap skenario kehidupan yang tengah atau telah kita lalui. Termasuk dalam memahami peristiwa kebetulan itu. Berbagai peristiwa yang kita anggap “kebetulan” sebenarnya sudah diatur oleh Yang Kuasa. Hanya saja logika manusia yang terbatas tak mampu memahaminya. Tidak semua hal dapat terjadi dengan teori sebab akibat ataupun dengan teori peluang.

Sebagai manusia modern kita kerap melupakan kehadiran Nya di setiap peristiwa yang kita alami. Karena kecongkakan akal, terkadang manusia lupa bahwa ada yang lebih berkuasa dan adi kodrati dari padanya. Sebuah fase antroposentrisme, di mana manusia menjadi pusat dari segalanya. Dengan akal, seolah manusia bisa memanipulasi segalanya.

Peristiwa Gempa Palu yang terjadi baru-baru ini, benarkah fenomena ini hanyalah kebetulan belaka atau sekedar hubungan sebab akibat pergeseran lempang? Bagi saya itu juga bukan sebuah hal yang tiba-tiba ataupun tidak disengaja. Berbagai hal yang terjadi di sekitar kita sudah ditentukan oleh Nya.

Peristiwa itu mungkin dan bisa jadi untuk menyadarkan kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Bahwa ada yang Maha Kuasa diatas manusia yang sok berkuasa dengan kekuatan politik dan ekonomi yang dimilikinya. Di setiap “kebetulan” yang sudah diaturnya itu mengajarkan kita untuk bersyukur, menyadari dan berusaha menanggapi kehadiran Tuhan di setiap langkah hidup kita.





Saya tidak tahu ada berapa jumlah orang yang meyakini akan adanya kehidupan kelak pasca kematian. Tidak penting juga mengetahui berapa jumlah mereka. Percaya atau tidak percaya itu urusan pribadi masing-masing. Saya sendiri, meskipun tidak terlalu religius-religius amat, saya mengakui akan adanya kehidupan pasca kematian. Orang Jawa mengatakan, gesang langgeng atau kehidupan kekal.

….

Siang itu, entah kapan saya lupa, salah seorang kawan datang dan kamipun berdiskusi terkait surga dan neraka. Terkesan njlimet, ndakik, dan sok teologis. Tetapi, sebenarnya diskusi siang itu hanya obrolan sederhana yang tidak disertai suatu teori ataupun dasar kitab suci manapun.
Syahdan, kawan saya ini mulai bercerita mengenai kesangsiannya terhadap surga dan neraka. Siapa tahu surga dan neraka itu cuma imajinasi Kitab Suci. "Tujuannya jelas, agar orang-orang mau menerima berbagai doktrin yang diajarkan oleh institusi agamanya”, katanya.

Kesangsian ini timbul karena maraknya penguatan identitas agama akhir-akhir ini. Orang rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkan ganjaran surga. Bahkan melakukan hal-hal di luar nalar. Karena tawaran bidadari, sungai madu, sungai susu, dan berbagai kecukupan lainnya orang rela bunuh diri, melukai saudaranya, mencederai kemanusiaan, terorisme dan berbagai tindakan kekerasan lainnya.
Kekerasan dan kekejaman atas nama Tuhan yang timbul karena fanatisme agama ini pernah disinggung oleh Romo Mangun dalam novelnya- Burung – Burung Rantau. Kata beliau begini, “ Wah, orang itu kalau sudah fanatik agama kejamnya bukan main. Kejam atas nama Tuhan, kan kontradiksi yang aneh sekali, tetapi begitulah manusia”.
Keblinger kaswargan, istilahnya. Bahkan orang zaman ini senang mengkapling surganya sendiri-sendiri. Ada bagian surga yang sudah dikapling oleh partai politik tertentu, agama tertentu, dan kelompok tertentu. Nah, kalau surga sudah dikaplingi dan kaplingnya sudah penuh lantas kita tinggal dimana? Sebenarnya surga itu seluas apa ya, hingga bisa dikapling- kapling, apakah kita perlu mengkapling surga juga sebelum semua lahan surga dipenuhi oleh kelompok-kelompok itu?
Selain surga, neraka pun juga sudah mulai dikapling. Tapi kapling neraka ditunjukan untuk lawan, oposisi, atau diluar kelompok para ahli surga tadi. Misalkan saja, kelompok di luar aliran x, partai x, dan lain-lain. “Mungkin aku akan memilih tinggal di kawasan periferal, terletak diantara surga dan neraka”, ujarnya.
Sementara saya malah tertawa kepingkel. Bukan tertawa karena tidak mendengarkan atau merendahkan kawan saya satu ini. Saya tertawa karena gaya berceritanya selalu jenaka dan kerap membuat perut saya mulas. Begitulah manusia dengan beragam keunikannya.
Usai puas bercerita, kini dia bertanya pada saya tentang kebenaran surga dan neraka itu. Surga yang digambarkan dengan kitab suci berisi para bidadari dan sungai-sungai madu. Tetapi, sebelum mulai bercerita saya ingin memberi sebuah peringatan. Pertama, saya bukan seorang teolog, yang mampu menjelaskan dalil-dalil tentang kehidupan kekal seturut kitab suci. Kedua, saya juga belum pernah mengunjungi tempat tersebut. Ketiga, sayapun juga belum pernah melakukan wawancara langsung dengan orang yang sudah meninggal terkait bagaimana rupa surga dan neraka itu.
Barulah saatnya saya mulai bercerita. “Saya meyakini akan adanya kehidupan kekal”. Mungkin, setiap agama memiliki penggambaran yang berbeda terkait kehidupan kekal itu. Orang Hindu, meyakini kehidupan kekal dalam bentuk moksa. Dan umumnya agama-agama abrahamik, meyakini kehidupan kekal dalam bentuk surga dan neraka.

Saya meyakini bahwa diri saya ini adalah makhluk yang berketuhanan. Meyakini bahwa ada zat yang menciptakan langit, bumi, dan semesta alam. Jika Bapak Kapitalisme – Adam Smith, meyakini akan adanya invisible hand yang mengatur pasar. Maka begitu dengan dunia ini, ada tangan-tangan tak kasat mata yang telah mengatur jagat gedhe dan jagat cilik.
“Lalu apa hubungannya dengan surga dan neraka?”, sela kawan saya. Hubungannya adalah, sebagai orang yang meyakini akan Tuhan, saya percaya bahwa dunia yang kita tinggali ini hanya sementara. Urip mung sadermo ngombe, hidup kita adalah sebuah peziarahan dari suatu titik dan kembali menuju suatu titik.
Saya senang mengibaratkan hidup ini seperti naik motor. Jalan adalah kehidupan itu sendiri, kendaraan adalah seperangkat ideologi, keyakinan, pegangan yang kita gunakan untuk berkendara. Dan kita sendirilah sebagai pengendaranya. Sebagai pengendara kita tentu akan berhenti pada suatu tujuan. Entah berkendara kembali ke tempat di mana kita berasal atau ke berbagai tempat lainnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Dalam keyakinan yang saya anut, saya meyakini akan kembalinya kita ke dalam tempat dimana kita berasal dahulu. Mengutip kata Heideger, masuknya kita kedunia ini semacam kondisi keterlemparan. Adanya kita di dunia ini bukan atas kehendak kita sendiri. Manusia ada menuju kematian atau Sein zum Tode. 
“Lalu bagaimana dengan bidadari, bidadara, sungai susu dan berbagai imaji itu, apakah kamu percaya?”, tanyanya lagi. Bagi saya itu kan hanya penggambaran, mungkin saja Tuhan memberikan gambaran sedemikian rupa agar kita rajin dalam berbuat kebajikan. Tidak semua orang mampu mengerjakan kebajikan atas landasan kasih. Ada orang yang harus diiming-imingi dulu, baru dia mau melakukan suatu pekerjaan.
Jika orang mau menggambarkan surga seperti itu, silakan saja. Saya juga tidak keberatan, tetapi menurut pendapat saya pribadi itu kurang tepat. “Kurang tepat bagaimana, wah hebatnya sudah bisa menggurui Tuhan”, ujarnya lagi.



Saya memang punya refleksi dan interpretasi tersendiri mengenai surga dan neraka. Bagi saya, surga itu bukan semata-mata tempatnya indah, terdapat bidadari dan berbagai macam fasilitasnya. Tetapi, soal jiwa-jiwa yang mengisi surga.
Ibarat rumah maka, lebih baik mana rumah mewah tetapi orang-orang di dalamnya sering berkonflik, mencaci dan menebar kebencian. Atau, rumah yang sederhana tetapi orang-orang di dalamnya saling berbagi kasih? Tentu, lebih baik rumah yang sederhana tetapi orang-orang di dalamnya mampu menciptakan suasana surgawi. Sedangkan rumah pertama, meskipun tempatnya indah tetapi orang-orang di dalamnya saling bertengkar tak ubahnya rumah tersebut seperti neraka.

Begitu pula dengan surga, rumah atau tempat peristirahatan terakhir itu. Surga, bukan semata-mata karena tempatnya yang indah. Tetapi, karena orang-orang penghuni surgalah yang membuat suasana surga menjadi lebih surgawi.



Seperti yang sudah saya kemukakan pada catatan KKN pertama. Sesuatu yang pada awalnya kita anggap lama pada akhirnya akan berlalu dengan cepatnya. KKN selama kurang lebih 50 hari berlangsung ini pun kini telah berlalu. Hari ini, saya mencoba kembali menyesuaikan dengan rutinitas sediakala. Selama KKN saya tinggal bersama dengan banyak orang. Selalu saja ada banyak hal yang diceritakan di ruang pondokan kami. Sekarang, saya harus menyesuaikan diri dengan kesendirian.
Awal minggu pertama pasca KKN, saya memulai mengalami masa penerimaan. Agak terdengar berlebihan memang, tetapi inilah yang saya alami. Saya mencoba meyakini, bahwa memang di setiap pertemuan ada perpisahan. Hidup adalah petualangan, maka saya harus bersiap dengan petualangan berikutnya. Tulisan ini adalah cara saya untuk melepas rindu dengan rutinitas KKN.

Tiada hari tanpa cupir (Cuci piring)

“Hayo-hayo, siapa yang cupir”, pagi-pagi saya selalu mendengar suara ini. Kami biasa menyebut kegiatan cuci piring dengan sebutan cupir. Piring-piring serta alat makan yang di cuci pada pagi hari adalah piring-piring yang telah terpakai pada hari sebelumnya. Cuci piring dilakukan dua waktu dalam sehari, pagi dan sore.

Cuci piring dilakukan di dua waktu tersebut karena air di pondokan kami tidak setiap waktu mengalir. Bahkan terkadang air baru mengalir di saat malam hari. Air harus dibagi untuk menyirami perkebunan warga. Di saat krisis air, kami sepondokan harus menghemat. Cuci piring, cuci baju, dan mandi di nomor duakan, air hanya untuk ritual “hajatan”.

Cuci piring untuk terakhir kalinya


Tidak ada wastafel khusus untuk mencuci piring. Biasanya kami mencuci piring di pintu belakang pondokan dengan berbekalkan dua hingga tiga ember air. Kegiatan cuci piring ini selalu saja ditemani dengan ayam, mentok, dan juga anjing . Mereka semacam sudah hafal dengan ritual ini, dengan sabar hewan-hewan ini menunggu kami melempar makanan sisa.

Semakin banyaknya piring yang dicuci membuat salah seorang teman kami menelurkan sebuah ide kreatif. Agar cucian tidak banyak dan dapat menghemat menggunakan piring, maka piring-piring yang terlalu banyak itu harus disembunyikan. Berkat trik ini kami tak perlu mencuci piring banyak-banyak.

Lantas siapa yang mencuci piring-piring itu? Di awal-awal KKN kami telah menyepakati jadwal cuci piring dan piket pondokan. Namun, lama-lama jadwal tersebut amburadul. Bersih-bersih pondokan dan kegiatan cuci piring dilakukan secara sukarela dan cinta kasih. Tidak ada aturan baku mengenai siapa yang harus bersih-bersih di hari itu.

Kehangatan ruang tengah pondokan

Umumnya rumah memiliki ruang tengah atau ruang keluarga. Di ruang tengah itu biasa menjadi tempat untuk berkumpul anggota keluarga sembari menonton televisi atau sekedar mengobrol. Begitu juga dengan pondokan kami, hanya saja di ruang tengah kami tidak terdapat televisi.

Biarpun secara biologis kami bersepuluh bukanlah keluarga biologis, tetapi saya merasa kehangatan pondokan tidak kalah hangatnya dengan keluarga biologis. Di ruang tengah ini biasanya kami berkumpul, baik hanya sekadar untuk mengobrol, bertanya soal kabar dan apa yang akan dikerjakan seharian ini, makan bersama, dan banyak lagi.

Ruang tengah pondokan kami bisa dibilang sebagai “aula” multifungsi. Terkedang menjadi tempat makan, bioskop dadakan, dan di saat malam tiba, ruang tengah pondokan kami berubah fungsi menjadi kamar besar.

Tidur bersama, satu hal yang masih saya ingat hingga saat ini. Dari tidur bersama ini saya mulai memahami siapa di antara penghuni “kamar tengah” yang paling keras dalam mendengkur. Bahkan saya sering berkelakar bahwa suara dengkuran kawan saya ini lebih keras dari suara turbin pembangkit listrik. Sebuah “PLTD” atau Pembangkit Listrik Tenaga Dengkuran yang dapat menghasilkan beribu megawatt berada di pondokan kami.

Makan bersama

Pada medio awal KKN kami lebih memilih untuk katering ketimbang memasak. Pilihan itu didasarkan pada padatnya kegiatan kami pada paruh awal kegiatan KKN. Baru sekitar dua atau tiga minggu sebelum KKN berakhir, kami memutuskan untuk berhenti katering. Masakan yang dihidangkan pun tergolong sederhana, tidak begitu rumit. Yang membuat istimewa adalah kerja sama dalam menciptakan hidangan tersebut.

Ada sebagian dari kami yang pergi ke pasar untuk berbelanja, ada yang mendapat bagian untuk masak nasi, memotong sayur, dan banyak lagi. Sementara saya, terkadang mendapat bagian untuk belanja ke warung tetangga ataupun ke pasar. “Sabaraha hargina sakilo?” “Sapuluh tilu?” Hanya beberapa kata yang saya ketahui untuk berkomunikasi dengan pedagang di pasar. Selebihnya saya menggunakan Bahasa Indonesia.









Saya tidak mafhum dengan urusan masak memasak. Sejauh ini menu yang bisa saya masak hanyalah tiga jenis, menanak nasi, menggoreng telur, dan memasak makanan cepat saji terkhusus lagi mie.
Tempe, tahu, semacam menjadi menu sakti. Sementara untuk kol, ketang, dan tomat seringkali kami mengandalkan dari pemberian warga. Ada satu hal lagi yang selalu menyertai hidangan makanan pondokan kami. Lalapan. Pada umumnya orang Jawa Barat sangat gemar dengan lalapan, entah berupa timun, terong, selada, dan kol.

Mengenal Atom dan Aida

Setiap daerah memiliki makanan dan rasa khasnya tersendiri. Kuliah di Yogyakarta menuntut lidah saya untuk beradaptasi dengan makanan manis. Begitu juga dengan KKN di Jawa Barat yang memaksa saya untuk kembali beradaptasi. Pengamatan saya, orang-orang Garut sangat erat dengan permicinan.

Aida dan Atom adalah dua bumbu sakti yang seringkali hadir mewarnai jajanan dan makanan. Aida adalah cabai giling berbentuk serbuk. Sedangkan atom adalah nama sebuah produk MSG. Baik atom dan aida adalah merek lokal yang cukup masyhur di kawasan Pariangan Timur, seperti Garut dan Tasikmalaya. Contohnya saja ketika membeli Mie Baso. Seperti tanpa perasaan berdosa mamang penjual bakso menaburkan mecin dengan takaran yang menurut saya cukup banyak, sekitar dua atau tiga sendok makan.

Bahkan sudah sedari kecil anak-anak dicekoki dengan micin. Jajanan anak-anak seperti Maklor (makaroni telor), tareng (tahu goreng), cireng (aci goreng), seblak, dan banyak jajanan lainnya selalu ramai dengan warna-warni aida dan atom.

Anak-anak Cintaasih yang kadang membuat kami kesal

Bermain dengan anak-anak memang menyenangkan, tetapi juga sering kali menyebalkan dan terkadang atau bahkan kerap membuat saya kesal. Terlebih ketika kami ingin beristirahat dan seketika terdengar suara anak-anak dari balik pintu, “Kakak, Kakak”. Kami sepondokan seketika juga langsung membisu. “Sepertinya kita perlu buka praktik jam bermain, hari besar dan minggu tutup, jam 19.00 tutup”, saran saya pada teman-teman.

Anak-anak itu biasanya datang setelah melaksanakan ibadah salat isya. Bukan satu, dua orang, mereka datang bergerombol. Anak-anak itu paling suka dengan permainan tebak-tebakan. “Sebutkan provinsi yang ada di Pulau Jawa!”, tebak saya. “Aku kak, Aku Kak”, mereka bersahut-sahutan sembari mengacungkan tangan.



Saya pun memilih salah seorang anak untuk menjawab. Arif. Mirip dengan nama saya. Arif adalah anak yang paling semangat bermain tebak-tebakan.. Badannya berisi, kulitnya putih langsat, pipi tembam dengan rona kemerah-merahan, itulah perawakan Arif. “Jawa Barat, Sumatera, Jakarta, Bali”, Jawab Arif. “Salah, ayo yang lain, siapa yang mau jawab?”. Anak-anak lain pun berusaha menjawab.

Sementara itu Arif kemudian protes, “Kak, tebak-tebaknanya diganti nama-nama planet atau soal nabi-nabi”. Tebak-tebakan ini  layaknya lomba cerdas cermat kecil-kecilan. Tebakan yang sering dibagikan mulai dari Pengetahuan mum, Sains, Agama Islam, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Mereka yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, akan mendapatkan hadiah kecil-kecilan. Hadiah itu tidak begitu besar, hanya jajan kecil-kecilan, dan terkadang pensil, sikat gigi, tapi antusiasme mereka begitu besar.

Benci jadi cinta, kesal jadi rindu. Mungkin itulah yang saya alami saat ini. Anak-anak yang dulu sering saya kesalkan kini semakin saya rindukan. Sayapun kembali menyadari pentingnya menyadari waktu “kini dan disini” yang tengah kita lalui. Karena waktu yang berlalu tidak dapat terulang kembali.