Fragmen KKN Ke-Empat: Lorong Waktu Itu Bernama Garut


Hari ini hari minggu terakhirku berada di Garut. Ada satu keinginan yang ingin aku wujudkan di minggu terakhir ini. Pergi ke Kota Garut dengan menaiki mobil Elef dan berjalan-jalan menikmati kota.
 Sebenarnya sudah beberapa kali aku mengunjungi kota ini. Tetapi tampaknya belum afdhol jika belum merasakan berjalan kaki sembari menikmati suasana kota. Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 5.00 pagi. Seperti pada pagi-pagi biasanya, Desa Cinta Asih masih diselimuti kabut. Rata-rata suhu udara pagi antara 10-13 derajat celsius. Dinginnya suhu udara ini tidak menghentikan langkahku untuk melakukan ritual mandi pagi.

Menembus dinginnya pagi, sekitar pukul 05.30 salah seorang teman mengantarkanku hingga Pasar Cisurupan. Beberapa detik kemudian Elef datang menghampiriku. Elef masih tampak sepi, hanya aku seorang dan sang supir. Aku terdiam dan bimbang,”Haruskah aku turun dan mencari Elef lain yang penuh?” Rencana awalnya pagi ini aku hendak mengikuti Perayaan Ekaristi di Garut. Namun tampaknya rencana itu gagal. Beberapa kali Elf harus berhenti agak lama untuk mencari penumpang.

Aku hanya bisa berpasrah. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Satu persatu penumpang masuk. Aku tidak berbicara dengan siapapun. Hanya terdiam seperti seorang insider, sembari mengamati suasana dalam Elf. Ada beberapa orang yang masih kuingat. Di belakangku duduk seorang kakek dengan membawa dua karung berisi ayam. Sontak ketika kakek itu masuk dan tepat duduk di kursi belakangku bau Elf tak ayal berubah seperti kandang ayam. Bau. Sementara itu tiga laki-laki paruh baya yang duduk di depanku dengan nikmatnya menghisap rokok. Menutup hidup. Hanya itu yang bisa aku lakukan hingga setibanya di Kota Garut.


Menikmati Garut dalam kesendirian 












0 komentar:

Post a Comment