Hari ini hari minggu terakhirku berada di Garut. Ada satu keinginan yang ingin aku wujudkan di minggu terakhir ini. Pergi ke Kota Garut dengan menaiki mobil Elef dan berjalan-jalan menikmati kota.
 Sebenarnya sudah beberapa kali aku mengunjungi kota ini. Tetapi tampaknya belum afdhol jika belum merasakan berjalan kaki sembari menikmati suasana kota. Pagi itu jarum jam menunjukkan pukul 5.00 pagi. Seperti pada pagi-pagi biasanya, Desa Cinta Asih masih diselimuti kabut. Rata-rata suhu udara pagi antara 10-13 derajat celsius. Dinginnya suhu udara ini tidak menghentikan langkahku untuk melakukan ritual mandi pagi.

Menembus dinginnya pagi, sekitar pukul 05.30 salah seorang teman mengantarkanku hingga Pasar Cisurupan. Beberapa detik kemudian Elef datang menghampiriku. Elef masih tampak sepi, hanya aku seorang dan sang supir. Aku terdiam dan bimbang,”Haruskah aku turun dan mencari Elef lain yang penuh?” Rencana awalnya pagi ini aku hendak mengikuti Perayaan Ekaristi di Garut. Namun tampaknya rencana itu gagal. Beberapa kali Elf harus berhenti agak lama untuk mencari penumpang.

Aku hanya bisa berpasrah. Mungkin Tuhan punya rencana lain. Satu persatu penumpang masuk. Aku tidak berbicara dengan siapapun. Hanya terdiam seperti seorang insider, sembari mengamati suasana dalam Elf. Ada beberapa orang yang masih kuingat. Di belakangku duduk seorang kakek dengan membawa dua karung berisi ayam. Sontak ketika kakek itu masuk dan tepat duduk di kursi belakangku bau Elf tak ayal berubah seperti kandang ayam. Bau. Sementara itu tiga laki-laki paruh baya yang duduk di depanku dengan nikmatnya menghisap rokok. Menutup hidup. Hanya itu yang bisa aku lakukan hingga setibanya di Kota Garut.


Menikmati Garut dalam kesendirian 












Rombongan kol segar

Tidak bisa dipungkiri bahwa Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) terkadang juga diselingi dengan jalan-jalan. Sambil menyelam minum air, demikianlah kata pepatah. Tidak semua air bisa diminum, tetapi secukupnya saja. Karena memang tujuan utama dari KKN adalah pengabdian. Bermain hanyalah upaya untuk menyegarkan pikiran. Sabtu, 14 Juli lalu kami menyempatkan diri untuk mengunjungi pemandian air panas di Puncak Darajat.

Di tempat kami mengabdi-Desa Cintaasih, Kabupaten Garut- dikelilingi oleh beberapa gunung. Sejauh ini, kalau tidak salah, ada tiga gunung yang baru saya ketahui. Di sebelah timur Gunung Cikuray, di sebelah barat Gunung Papandayan dan di Sebelah Selatan Gunung Guntur. Hampir setiap malam saya selalu menggigil dan terkadang saya bingung antara badan terserang demam atau memang udara sekitar terasa dingin. Rata-rata suhu udara di pagi hari antara 10 hingga 13 derajat.

Hingga tibalah kami merencanakan untuk mandi air hangat di kawasan Puncak Darajat. Dari Desa Cintaasih perjalanan menempuh waktu satu jam lamanya. Sekitar pukul 12.00 kami mulai berkumpul menunggu kedatangan mobil bak terbuka yang biasa digunakan untuk mengangkut kol.

Maklumlah, desa tempat kami mengabdi merupakan penghasil sayur mayur untuk kawasan Jawa Barat dan DKI Jakarta. Mayoritas penduduk desa adalah petani sayur, mulai dari tomat, kentang, kol, wortel, dan cabai. Tidak heran jika pasokan sayuran di pondokan selalu terpenuhi. Kubis Desa Cintaasih berukuran lebih besar dari ukuran kubis pada umumnya, lebih besar dari bola basket.


Dengan mengenakan jaket KKN berwarna hijau lumut, sekitar pukul 13.00 kami mulai menaik mobil bak terbuka. Satu persatu orang masuk, bak mulai terpenuhi, seperti kubis segar yang siap dipasarkan. Kaki kami berhimpitan satu sama lain, sementara itu dengan kuat tangan saya memegang besi yang membatasi antara supir dan bak. Mobil berjalan dengan cepatnya. Mungkin Sang Supir lupa bahwa ia sedang mengangkut manusia.

Supir yang mengangkut kami masih berusia 19 tahun, dua tahun lebih muda di bawah kami. Tanpa lisensi surat mengemudi anak muda ini sudah biasa mengangkut sayuran. “Semakin cepat sayur sampai, semakin banyak komisinya”, terang sang supir. Hal ini dilakukan agar sayuran tetap segar dan dapat segera terdistribusikan. Hanya satu kata, ngeri. Setiap mobil menyalib saya hanya bisa menutup mata sembari melantunkan puji-pujian kepada Sang Pencipta. Semoga keberuntungan masih bersama sami.

Jalan berkelok, laju kendaraan cukup kencang, pantat tempat saya duduk tepat berada di atas mesin kendaraan. Beberapa di antara kami tertidur menahan pusing dan mual. Sementara itu, ada salah seorang kawan yang tampak serius mendokumentasikan setiap momen dalam gawainya. Saya memilih diam sembari menikmati perjalanan yang entah akan terulang kembali atau bahkan tidak.



Semakin jauh mobil melaju semakin kencang pula angin yang menerjang. Pemandangan sekitar banyak diisi dengan kebun sayur-sayuran dan pipa geotermal Star Energy. Selain penghasil sayur mayur Garut merupakan penghasil energi panas bumi. Energi alam ini digunakan untuk memutar turbin penghasil listrik dan pemanfaatan pemandian air hangat salah satunya.

Puncak Darajat semakin mendekat. Mobil bak terbuka yang kami tumpangi mulai berdampingan dengan bus pariwisata. “Yang lain naik bus pariwisata, kita naik bus pariwara”, celetuk saya. Sampai. Penjaja makanan dan aksesori berhamburan menuju mobil kami. Sementara itu kami pergi menghiraukan menuju loket. Untuk akhir pekan harga tiket dibanderol seharga 25000 rupiah . Tiket sudah terbeli dan segera kami beranjak menuju pemandian air hangat.

Pemandian Puncak Darajat ini terdiri dari tiga kolam, satu kolam waterboom, satu kolam dewasa, dan satu kolam anak. Konon katanya secara empiris air hangat yang berasal dari energi panas bumi sangat baik untuk kesehatan, untuk menghilangkan rasa pegal dan meningkatkan daya tahan tubuh. Tidak heran jika banyak orang tua ikut berendam. “Mungkin mereka sedang melakukan ritual terapi”, terka saya.



Selesai mengganti pakaian, saya langsung berendam menuju kolam dewasa. Perlu beberapa menit untuk menyesuaikan dengan kehangatan air. Dimulai dari merendam kaki, hingga perlahan sekujur tubuh masuk ke dalam kolam. Setelah berhari-hari mandi air dingin, kini untuk pertama kalinya saya baru merasakan air hangat.

Liburan menjadi sebuah penyegar di tengah kegiatan KKN. Hidup bersama dengan berbagai macam orang tidak hanya membutuhkan kepandaian intelegensia, tetapi juga kecerdasan emosi. Kedua kecerdasan tersebut diasah dalam kegiatan KKN ini. Jika tidak bisa, maka diri kitalah yang akan terbawa emosi.



Dari kolam dewasa saya mencoba beranjak menuju waterboom. Air hangat mengalir menuju timba raksasa. Selama sekitar 10 menit menanti timba penuh dan byurrrr …. serasa disiram dengan air panas. Hingga saya berandai-andai dengan air ini kami bisa memasak mie goreng hingga matang. Lokasi pemandian Puncak Darajat terletak diatas bukit, selain mandi air hangat kita pun dapat menyaksikan pemandangan sekitar.

Sekitar dua jam kami berendam, kulit jari tangan sayapun mengerut. Pertanda bahwa aktivitas berendam harus segera dituntaskan. Badan saya telah dipenuhi dengan bau belerang. Kol segar akan kembali ke peraduannya.