Ketidaksempurnaan yang Membuat Saya Bahagia




Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan dalam keluarga seperti apa dan dalam kondisi seperti apa. Ada anak yang terlahir dalam keluarga yang cukup berada. Ada juga yang lahir dari keluarga berkekurangan. Ada yang lahir dalam keluarga yang harmonis, tetapi ada juga yang lahir dari keluarga yang tercerai berai atau broken family. Lantas dimanakah keadilan Tuhan?

Banyak orang yang mengatakan bahwa anak itu adalah titipan Tuhan. Maka Sebagai seorang hamba kita hanya bisa sendiko dawuh dan siap “dititipkan” dalam keluarga apapun. Kita tidak bisa memohon untuk dilahirkan dari keluarga seperti apa. Kita hanya bisa menerima dan bersyukur. Turunnya kita ke alam dunia ini semacam taken for granted.

Mungkin benar apa kata para rohaniwan dan orang bijak itu. Setiap orang menanggung salib dengan beban tersendiri. Mereka yang dilahirkan dari keluarga yang berada menanggung salib dalam bentuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Sedangkan mereka yang mungkin dititipkan dalam keluarga yang berkekurangan memanggul salibnya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Saya hanya bisa menerka, mungkin itulah keadilan Tuhan.

Dulu saya sering berandai-andai, atau secara halus protes kepada Tuhan. Andaikan saya lahir di keluarga konglomerat tentu saya sudah bisa tinggal di rumah mewah dan mendapatkan apa saja yang saya inginkan. Berbagai hal bisa saya dapatkan tanpa harus banyak merengek. Atau bahkan tidak perlu banyak berhitung ketika membeli suatu barang.

Tetapi pada kenyataannya Tuhan menitipkan saya pada keluarga yang biasa-biasa saja. Dari segi ekonomi keluarga kami tergolong biasa saja. Bahkan Ibu pernah berpesan bahwa membiayai anak-anaknya kuliah adalah sebuah karunia yang luar biasa.

Selain itu keluarga kami bukanlah keluarga yang terlalu harmonis lagi romantis. Beberapa indikatornya pertama, Kami tidak pernah merayakan ulang tahun masing-masing anggota keluarga. Kedua, saya sendiri juga tidak hafal dengan tanggal lahir ayah dan ibu atau pada tanggal berapa mereka mengikatkan janji suci. Setahu saya, kami hanya merayakan hari besar keagamaan dan kenduri.

Sebagai seorang anak saya sering kali mendapatkan nasihat dari orang tua. Walaupun terkadang nasihat itu bernada marah. Tetapi ibu sudah mewanti-wanti baik ayah dan ibu keduanya bukanlah manusia yang sempurna. Mungkin pesan yang disampaikan benar namun caranya saja yang kurang tepat.

Bukanlah keluarga yang sempurna dan biasa-biasa saja. Itulah deskripsi singkat tentang keluarga kami. Mungkin di luar sana ada begitu banyak keluarga yang jauh luar bisa dari keluarga kami.
Tetapi saya selalu terheran mengapa keluarga yang biasa-biasa saja ini merupakan hal pertama yang saya rindukan ketika jauh merantau? Semacam ada suatu alkimia yang mengikat dan membuat saya rindu. Terutama ketika sakit dan terjatuh, mendengar suara mereka dalam gelombang telepon saja terkadang sudah menjadi pelipur hati.

Dari ketidaksempurnaan itu kini membuat saya semakin bersyukur dan bahagia. Bahkan jika Tuhan memberikan saya kesempatan untuk pindah keluarga , saya tidak sampai hati untuk meninggalkan mereka Semoga kelak ketika kami sekeluarga telah sampai dalam perziarahan abadi Dia berkenan menyatukan kami kembali.

0 komentar:

Post a Comment