Fragmen KKN Ke-Dua: Tentang Anak- Anak Cintaasih






Ini adalah minggu ke-lima Kuliah Kerja Nyata (KKN), agenda kami semakin padat dengan berbagai program kerja. Dalam fragmen KKN bagian ke-dua ini saya ingin bercerita perihal anak-anak di desa tempat kami mengabdi. Berdinamika dengan anak-anak seusia sekolah dasar mengajarkan saya akan satu pesan, bahwa merawat dan membesarkan anak tidaklah semudah dalam “membuatnya”.
Jumat 20 Juni 2018

Dua lapis jaket, dua selimut, kaus tangan, dan kaus kaki tampaknya tidak mampu menahan dinginnya udara Cintaasih. Saban pagi mulut saya selalu mengeluarkan asap naga. Ritual mandi pagi sama halnya dengan mandi air es. Kepala pening. Pagi itu saya ingin terus berbaring di kasur sembari mendengkur. Namun sayang, keinginan itu gagal terpenuhi, hari ini saya mendapatkan tanggung jawab dalam acara sikat gigi masal (Sigimas).

Sekolah Dasar (SD) Cintaasih 01, di sinilah kegiatan Sigimas berlangsung. Medan jalan yang cukup menanjak membuat perjalanan menuju sekolah ini terasa jauh. Tidak ada angkutan ataupun bus yang hilir mudik mengantarkan anak-anak sekolah. Hanya dua buah kaki dan terkadang mobil bak terbuka pengangkut sayur yang bisa mereka tumpangi.

"Adik-Adik", "Siap"


Seringkali anak-anak itu jalan berkelompok dua hingga tiga orang. “Halo Kakak”, demikianlah sapa anak-anak setiap bertemu kami di jalan. “Hi adik-adik”, sapa saya sambari melambaikan tangan. Mereka tampak sumringah, tidak menunjukkan rasa letih. Jalan depan pondokan kami merupakan rute pulang pergi anak-anak itu. Mereka berjalan melewati dua, tiga, bahkan empat dusun. Perjalanan pulang dan pergi sekolah diselingi gelak tawa, kejar-kejaran, atau bahkan sekadar mengobrol.

Memasuki sekolah ini “menampar” saya akan banyak hal. Salah satunya tentang ketimpangan pendidikan yang tidak hanya terjadi di luar Jawa. Desa Cintaasih yang terletak tiga jam dari pusat Provinsi Jawa Barat ini masih sangatlah minim dengan sarana prasarana dan tenaga pendidik.

Tentang toilet, hanya ada satu bilik toilet untuk seluruh siswa. Toilet yang hanya sekadar nama. Tidak ada air mengalir, hanya ada sarang laba-laba dan debu dimana-mana. Mungkin lebih tepat jika disebut dengan "kandang dedemit". Untuk kebutuhan buang air anak-anak memilih untuk pergi ke kebun samping sekolah sembari menyirami tanaman liar. Pantas saja rumput liar tumbuh dengan suburnya di halaman belakang sekolah.

“Halo adik-adik perkenalkan nama kakak, Arif”, dengan nada ceria saya mencoba memperkenalkan diri. Kemudian berlanjut memperkenalkan dua teman lainnya, Sari dan Bima. Kami bertiga mendapatkan tugas menjaga pos permainan. Setelah lima menit bermain, sepertinya permainan ini gagal kami mainkan bersama. Lebih gampang mengatur bebek ketimbang menenangkan anak-anak ini.

Kepala saya semakin pening. Suara saya sudah habis untuk berteriak. Lunglai. Sejurus kemudian saya keluar ruangan kelas mencoba melarikan diri menuju pos sikat gigi. “Merah-putih,merah-putih, congkel, congkel, congkel”, pandu salah seorang teman yang tengah mempraktikkan cara menggosok gigi yang benar. Mulut mereka dipenuhi dengan busa. Pada beberapa anak tampak busa bercampur dengan darah dari gusi. Berbeda dengan pos yang saya pandu, di pos sikat gigi ini mereka tampak khusyuk menyimak dan mempraktikkan.

Tarik, tarik, tarik,gosok, gosok, gosok


“Hayo sikat gigi berapa kali sehari?” Serentak mereka kompak mengacungkan tangan. “Dua kali sehari, sesudah makan dan sebelum tidur”, jawab salah seorang anak. “Ya benar”, anak itu tampak senang dengan hadiah gosok gigi yang baru diterimanya.

Anak-anak di desa ini tampak lebih kecil. Tumbuh kembang tidak sesuai dengan usia mereka. Siswa kelas 6 tampak tampak seperti kelas 2 dan 3. Lebih memprihatinkan lagi anak kelas 6 masih ada yang belum bisa membaca dan menulis. “Bagaimana bisa mereka naik kelas?”, tanya saya terheran.

Jam 12.00, acara Sigimas berakhir. Sementara itu pening pada kepala saya belum berakhir juga.Anak-anak itu kemudian berkumpul di lapangan, berbaris, berdesak-desakan, dan beringsut menyalami kami satu persatu.








0 komentar:

Post a Comment