Perjalanan Menuju Sarjana











Kamis, 07 Juni 2018 merupakan tanggal ujian seminar proposal saya. Beberapa teman mengajukan pertanyaan demikian, ”Kamu mau lulus cepat?” Saya hanya bisa tersenyum sembari menjawab,” Saya tidak berkeinginan untuk lulus cepat, tetapi semoga saja lulus tepat pada waktunya.”

Tepat atau tidak tepat waktu itu masing-masing orang memang berbeda. Bagi saya, lulus tepat ketika tidak melebihi batas yang ditentukan oleh universitas, tidak lebih dari empat tahun. Setelah lebih dari itu sudah jelas kami akan disuruh angkat kaki dari kampus ini.

Begitulah manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Selebihnya Tuhanlah yang berkenan menentukan. Saya merencanakan, kalau bisa sebelum Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya harus seminar. Bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian, demikian kata pepatah. Kalau terlalu senang saya takut rasa malas datang.

Dari pengalaman beberapa teman mengatakan bahwa mengerjakan skripsi itu dibutuhkan kesabaran dan kontinuitas. Berbeda halnya dengan Bandung Bondowoso yang mampu membuat candi dalam semalam saja. Saya bahkan menganggap mengerjakan skripsi sebagai latihan olah roso dan topo atau semacam laku asketisme.

Walaupun baru tahapan proposal, saya sudah menemukan godaan-godaan itu. Terutama godaan jenuh untuk memperbaiki revisi yang telah diberikan dosen pembimbing. Bahkan terkadang saya berpikir, “Kalau revisi terus kapan skripsinya ya?”

Terlebih ketika saya mendapatkan dosen yang cukup perfeksionis, disiplin, dan “ditakuti” karena mata kuliah kuantitatif yang menjadi momok di departemen kami. Akan tetapi,  akhirnya karena keinginan kuat untuk mempelajari hal baru membuat saya bertekad untuk menepis berbagai tantangan tersebut.

Mungkin bisa dikatakan saya satu-satunya di angkatan yang menggunakan metode kuantitatif. Saya memilih metode ini secara sadar. Saya memang tidak terlalu berharap bermuluk-muluk dengan “buah karya” yang akan saya ciptakan ini.

Saya hanya berniat untuk belajar dan mendalami metode kuantitatif. Saya memilih metode itu bukan karena merasa bisa, tetapi dari ketidakbisaan itulah saya berusaha untuk belajar. Saya takut dengan dalih passion, membuat saya malas dan terlelap untuk menantang diri dengan mempelajari hal-hal baru.

Puji syukur setelah beberapa kali revisi saya berhasil mendapatkan “tiket emas” untuk ujian proposal. Saya juga patut bersyukur bahwa saya mendapatkan dosen yang benar-benar dapat membimbing, teliti, dan terus memantik kami anak bimbingannya untuk terus belajar dan belajar. Beliaulah Dr. Amelia Maika.

Beliau juga turut hadir dalam seminar proposal saya siang itu. Saya sudah menganggap Mbak Amel – sapaan dosen pembimbing saya, seperti Ibu kandung sendiri. Dari beliau saya belajar ketekunan dan kerja keras yang pasti akan terbayarkan.

Meskipun agak berjalan cukup alot dengan diskusi yang agak panjang, tetapi syukur semua itu dapat terlampaui. Seminar proposal memang barulah tahapan awal dan saya memang tidak sepatutnya hanya berpuas diri dari pencapaian itu. Kedepan, akan ada berbagai tantangan yang harus saya hadapi.


Dengan penuh syukur.


Arif Budi Darmawan

























0 komentar:

Post a Comment