Muntilan, Bethlehem Kecil dari Tanah Jawa

Museum Misi Muntilan tampak depan



Senin, 04 Juni 2018, Saya merasakan kejenuhan pada ujian semester enam kali ini. Hingga saya berpikir, ndang  rampung, kalau bisa segera diselesaikan. Entah ini adalah sindrom yang umum dialami bagi para mahasiswa tingkat akhir atau bukan, namun demikianlah yang saya rasakan. Sesekali tampaknya saya perlu menyegarkan  pikiran agar kembali “waras”. Kunjungan saya ke Magelang beberapa hari lalu itu adalah upaya saya untuk menjaga "kewarasan".

“Gus, apakah nanti bisa mampir ke Van Lith?”, tanya saya pada Agus. Syukurlah, ternyata tempat Van Lith searah dengan jalan ke Yogyakarta. Saya memang sudah lama berkeinginan untuk mengunjungi Museum Misi Muntilan. Baru kali ini keinginan itu terpenuhi. Muntilan, salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang ini seringkali mendapatkan julukan Bethlehem Van Java. Bethlehem adalah kota tempat kelahiran Yesus, sedangkan Muntilan adalah rahim dari tumbuhnya bibit-bibit Katolik Jawa generasi pertama. Van Lith, beliaulah bidan dari lahirnya orang-orang Katolik Jawa itu.

Memasuki Kompleks Museum Misi

Kunjungan saya pada pagi menjelang siang itu adalah untuk nitilaku. Sebuah upaya mengenang kembali perjalanan Gereja Katolik di Tanah Jawa. Museum Misi Muntilan terletak di dalam kompleks SMP Pangudi Luhur. Di dalam kompleks sekolah itu berdiri juga Gereja Santo Antonius Paduadan juga Kerkhof (makam rohaniawan Katolik). Baik bangunan gereja, museum, pastoran, dan sekolah merupakan bangunan lama yang masih terawat dan digunakan hingga saat ini.

Museum Misi tampak sepi, hingga saya merasa sangsi museum ini buka atau tutup. “Selamat Pagi”, sapa saya pada seorang bapak berusia paruh baya. “Ya, selamat pagi mas, dari mana?”, tanya bapak itu. “Saya Arif dan ini teman saya Agus, kami dari Sosiologi UGM, mau ke museum, boleh?” tanya saya. “Pangggil saja saya Pak Seno, tunggu dulu sebentar”. Sesaat kemudian Bapak tersebut membuka pintu museum dan sekilas  menjelaskan tentang seluk beluk Museum Misi Muntilan.

 “Sebenarnya Van Lith itu biasa-biasa saja, menjadi luar biasa karena murid-muridnya yang luar bisa”, buka Pak Seno. Keempat murid Van Lith semua menjadi pahlawan besar bagi bangsa ini, Mgr. Albertus Soegijopranoto, Agustinus Adisutjipto, Yos Sudarso, dan I. J. Kasimo.

Meski terlahir bukan sebagai seorang “pribumi” , Van Lith menanamkan rasa cinta terhadap tanah air pada anak didiknya. Tidak heran di antara keempat muridnya itu menyandang gelar pahlawan. Bahkan, Romo Kanjeng Albertus Soegijoprano, pada zaman penjajahan merumuskan konsep 100% Katolik 100% Indonesia. “Menghormati Ayah dan Ibu yang ada di 10 perintah Allah itu bukan hanya “Ibu” biologis, tetapi Ibu pertiwi tanah di mana kita berpijak”, terangnya lagi.

Membaptis atau menananm nilai?


Van Lith memang dikenal dengan misinya melalui bidang pendidikan. Van Lith memaknai Katolik bukan dengan banyaknya jumlah baptisan, seperti misionaris pada umumnya. Katolik dimaknainya sebagai nilai-nilai universal salah satunya, pendidikan yang memerdekakan seseorang dari kebodohan. Bagi Van Lith menjadi Katolik atau tidak adalah urusan masing-masing individu. Kepentingannya adalah bagaimana anak-anak Jawa mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak mengherankan jika sebagian besar anak didik Van Lith itu bukan berasal dari kalangan Katolik.

“Dari misi itu, Van Lith ingin menunjukkan Allah yang membebaskan. Kasih Allah yang tidak mengenal batasan agama, suku, ras dan identitas apapun”, tukas Pak Seno sementara kami hanya mengangguk. Selain misi di bidang pendidikan, didirikan juga Rumah Sakit Under Debogen yang saat ini berubah nama menjadi Rumah Sakit Panti Rapih. Para Suster melayani orang sakit, meringankan penderitaan mereka tanpa mengenal batas identitas, sebagaimana yang diamanatkan oleh Injil.

Dahulunya sekolah Pagudi Luhur ini bernama Kolese Xaverius Muntilan. Sebuah sekolah yang mengajarkan pendidikan modern bagi orang-orang Jawa. Mereka yang bersekolah di kolese ini semuanya adalah laki-laki. Sedangkan, anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan di Mendut. Banyak di antara siswa Muntilan dan siswi Mendut yang saling berjodoh. Dari kedua sekolah itulah lahir persemaian bibit-bibit Katolik Jawa.

Julukan “Katolik Jawa”, muncul karena pada zaman itu terjadi sentimen antara orang Eropa dan Non Eropa. Terlebih para misioner itu, berasal dari Eropa. Hal itulah yang membuat Van Lith tidak begitu berharap dapat membaptis banyak orang-orang Jawa. “Lalu apa yang membuat misi di tanah Jawa ini berhasil pak?”, tanya saya terheran. “Keberhasilan Van Lith dalam memahami orang-orang Jawa, salah satunya, dengan mengakulturasikan budaya Jawa dan Katolik”.
Buku doa mberbahasa Jawa dan menggunakan huruf Jawa


Di banyak tempat misi Katolik tidak berhasil ataupun tidak tumbuh subur karena membawa sikap puritan. “Menjadi Katolik bukan berarti menjadi ke roma-romaan, tetapi bagaimana menjadi Katolik yang men-Jawa”, terangnya lagi. Saya pun ditunjukkan dengan Injil berbahasa Jawa, buku doa dengan tulisan aksara Jawa, wayang Katolik, selawat Katolik, Yesus pun digambarkan dengan wajah Jawa.

Puritanisme memang menjadi masalah bagi setiap agama. Di Indonesia, Nahdlatul Ulama lebih berkembang daripada Muhammadiyah dan gerakan lainnya karena mampu membawa Islam yang sesuai dengan budaya setempat. “Contohnya saja peringatan kenduri dan seribu hari pasca kematian seseorang, kalau disini kenduri tidaklah masalah, tetapi di beberapa tempat kenduri dianggap tidak sesuai dengan ajaran Katolik”.

Doa Bapa kami, yang sebelumnya berbahasa latin- Pater Noster-, digubahnya ke dalam bahasa Jawa – Romo Kawula. Keuskupan Semarang sangat menghargai peran awam  sebagai katekis (guru agama). Salah satu katekis itu adalah Bapak Barnabas Sarikromo dari Sendangsono. Kawasan Sendangsono adalah tempat baptisan terbanyak pertama di Pulau Jawa. Di bawah mata air Pohon Sono itu dibaptis sekitar 140 orang Jawa.

Sekitar jam 10.45 Saya mengakhiri tur keliling museum. 45 menit yang sangat berharga untuk sedikit banyak mengenal sejarah masuknya agama Katolik bagi orang-orang Jawa.

0 komentar:

Post a Comment