Merenungkan Cinta Sejati



Bangku gereja masih tampak lowong, renggang, mereka yang datang lebih awal duduk berjauhan satu sama lain. Misa mungkin akan dimulai sekitar 50 menit lagi. Dari beberapa orang yang datang itu kebanyakan adalah orang-orang yang sudah adiyuswa (lanjut usia). Mungkin semakin tua usia seseorang berbanding lurus dengan intensitas pendekatan diri dengan Sang Pencipta. Seharusnya memang begitu, tetapi tidak bisa ditampik bahwa tidak semuanya juga seperti itu. Banyak juga orang yang semakin tua belum juga eling (ingat) bahkan semakin keblinger dengan dunia.

Mereka -yang lebih dulu datang- tampak sedang berlutut pada bantalan bangku, sembari mengepalkan kedua telapak tangan. Diam dalam keheningan dan kekhusyukan. Silentium, sebuah laku untuk mendengarkan suara batin yang sering tak terdengar atau bahkan terabaikan. Saya sendiri tidak mengetahui suara apa yang sedang mereka dengarkan. Saya tidak berani menguping, begitu intim. Mungkin saja mereka sedang bercakap-cakap degan Tuhan atau bahkan mempersiapkan batin sebelum bertemu dengan Nya. Entahlah.

Saya pun mencari tempat duduk, tepat di belakang kelompok koor (pengiring paduan suara). Hal yang sama saya lakukan kemudian, melakukan silentium namun kebablasan hingga tertidur. Saya terbangun setelah  mendengar suara berdecit dari ujung pintu. Ternyata sumber suara itu berasal dari kursi roda yang tengah di dorong seorang kakek. Seorang nenek duduk dengan tenang di kursi itu. Nenek berambut pendek, rambutnya telah dipenuhi dengan uban, kulitnya pun sudah tampak keriput, sama halnya dengan sang kakek. “Usia boleh mengubah fisik mereka, tetapi semakin memperkuat cinta mereka”, ujar saya dalam hati.

Saya terus memperhatikan gerak kakek- nenek itu. Mereka mengambil posisi duduk tepat di depan altar. Usai kakek mengunci kursi roda nenek, ia mengambil sisir yang diletakkannya dalam saku. Perlahan ia menyisir rambut nenek agar terlihat rapi. Nenek telah beres, kakek pun mengambil kursi lipat yang terletak di samping patung Maria. Kini, mereka berdua duduk dan bersama-sama larut dalam keheningan.

Kakek sepertinya menerima nenek apa adanya. Meskipun kini kondisi nenek mulai lemah dan bahkan sudah tak secantik dan segagah di awal mereka bertemu dulu. “Berapa puluh tahun usia perkawinan pasangan adiyuswa itu?”, tanya saya dalam hati. Mereka masih memegang dengan kuat janji pernikahan yang entah telah berapa puluh tahun lamanya diikrarkan. Berjanji untuk setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihan, mencintai dan menghormati sepanjang hidup.

Cinta sejati, apakah yang dinamakan cinta sejati itu? Saya pun merenung. Sejati, abadi, mungkin saja seperti kakek-nenek itu. Tidak lekang oleh waktu, usia, dan di pupuk dalam waktu yang panjang. Jalan menuju kesejatian itu mungkin saja tidak selalu mulus. Selalu ada aral melintang, kesabaranlah yang membawa pada kesejatian itu.

Entahlah itu hanya sebatas perenungan atas apa yang saya lihat. Saya pun belum mengalami dan bahkan mengetahui siapakah sosok cinta sejati itu? Saat ini Saya memang tidak terlalu memikirkannya. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Saya hanya dapat besemoga.

Ilustrasi: Istimewa (di unduh dari sesawi.net)

0 komentar:

Post a Comment