Fragmen KKN Pertama: Mengasah Cinta di Cinta Asih



Terkadang sesuatu yang pada awalnya kita anggap lama, pada akhirnya akan terasa cepat berlalu juga. Dulu di awal tahun 2015, saya menganggap kuliah itu lama. Tetapi kini saya baru menyadari, bahwa kuliah empat tahun itu ternyata cukup singkat. Persis seperti kata pepatah, waktu dapat diibaratkan seperti pedang. Jika tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, maka pedang itu dapat melukai atau bahkan membunuh sang empunya. Kini tidak terasa saya sudah menapaki satu tahapan sebelum bertempur dalam medan pertempuran skripsi, Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Di kampus saya- Universitas Gadjah Mada- KKN adalah suatu kewajiban dan tidak kalah pentingnya dengan mata kuliah wajib. Mengulang. Satu kata yang menjadi momok dan amit sewu, semoga saja tidak pernah terjadi. Bagi saya KKN tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga tenaga dan waktu. Ada banyak hal yang harus dibayarkan, baik untuk kepentingan program, biaya hidup, termasuk mengorbankan waktu liburan bersama keluarga.

“Kamu mau KKN dimana?”, adalah pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh beberapa kolega. “Saya tidak tahu, nderek Gusti saja”, jawab saya sembari tersenyum. Saya memang tidak terlalu memprioritaskan KKN. Berbeda dengan kebanyakan teman yang cenderung mencari tempat yang sejauh mungkin. Saya mencari tempat yang tidak begitu jauh, tetapi memiliki adat istiadat yang berbeda dengan budaya Jawa. Jatuhlah pilihan saya itu di Desa Cintaasih, Kabupaten Garut – Jawa Barat.

Di minggu pertama KKN ini saya ingin bercerita perihal pembelajaran hidup yang saya dapatkan. Pembelajaran itu lebih-lebih mengenai kehidupan yang tak banyak disinggung di bangku kuliah. Salah satunya adalah belajar untuk beradaptasi dengan teman-teman baru serta lingkungan baru. Selembar kertas ijazah tidak bisa menjamin kemampuan kita dalam berbaur dengan masyarakat. Inilah fragmen KKN pertama saya.




Inilah keluarga kecil kami, TIM KKN Cintaasih – Garut, Jawa Barat. Keluarga kecil ini terdiri atas tiga puluh orang dari berbagai klaster dan fakultas. Lantas dari tiga puluh orang itu dibagi lagi dalam tiga pondokan, dengan masing-masing pondokan 10 orang di dalamnya. Selama kurang lebih 56 hari saya akan tinggal dengan berbagai macam orang dengan beragam perbedaan. Mulai dari perbedaan watak, pemikiran, keyakinan, dan beragam perbedaan lainnya.

Mengenal watak dan karakter orang memang tidak hanya bisa sekadar berapriori. Bahkan banyak di antara teman se-pondokan yang tertipu dengan karakter autentik dari seorang Arif. Mereka menganggap saya sebagai tipe orang yang serius dan kaku. Tetapi nyatanya setelah beberapa hari bersama, banyak di antara teman se-pondokan terkejut atau bahkan kecilik. Nyatanya, saya adalah orang yang cukup jenaka.

Saya punya pengalaman lain mengenai berapriori dalam mengenal watak orang. Di hari pertama KKN saya bertemu dengan salah seorang teman se-pondokan yang cukup pendiam. Kerjanya hanya termenung. Saya berpikir mungkin saja dia tidak cocok dengan kami. Namun ternyata, setelah dua hari tinggal bersama apriori saya itu terbukti salah telak. Sosok yang saya anggap pendiam itu kini semakin banyak “bertingkah” dan sering membuat kami terpingkal-pingkal.

Kehidupan KKN saya anggap sebagai gladi kotor dalam membangun rumah tangga. Meski saya tidak tahu kelak akan berumah tangga atau tidak. Tetapi setidaknya saya sudah mendapatkan ilmunya, tinggal praktiknya saja yang belum. Di sini saya belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tidak kalah pentingnya,  saya belajar untuk membangun hubungan akrab dan solidaritas dengan tetangga sekitar. Hidup tidak hanya sekedar mementingkan diri sendiri, tetapi bagaimana bisa menjadi garam di tengah masyarakat.

Pondokan KKN sudah saya anggap seperti “rumah”. Kehangatan pondokan bagi saya sama halnya dengan kehangatan keluarga biologis. Ada salah seorang dari kami yang memiliki sifat keibuan dan ada juga yang memiliki sifat ke bapakan. Bahkan saya tidak merasakan rindu dengan keluarga di rumah atau bahkan memang belum. Saat ini saya hanya berusaha untuk menikmati momen singkat yang akan saya kenang sepanjang hidup.

Hampir setiap hari kami melakukan aktivitas bersama-sama. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mencuci piring, mencuci pakaian, memasak, dan berbagai macam aktivitas lainnya kami lakukan bersama. Saya pun mulai belajar memahami kebiasaan masing-masing teman se-pondokan. Saya tahu siapa di antara kami yang paling keras mendengkur. Selayaknya sebuah keluarga kami mulai mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing, serta belajar bertoleransi.

Meskipun terkadang lakon drama kecil-kecilan kerap terjadi di keluarga baru saya ini. Hanya masalah kurang komunikasi yang kerap menimbulkan suatu prasangka. Tetapi menurut saya itu adalah hal yang wajar. Selayaknya hidangan makanan. Bagi saya makanan yang lezat bukanlah makanan yang hanya terdiri dari satu rasa saja. Akan tetapi,  hidangan  terasa lezat jika ada banyak rasa dengan komposisi yang pas. Ada pedas, manis, asin, dan masam. Begitu juga dengan kehidupan berkeluarga yang mungkin tidak terasa nikmat jika hanya terasa manisnya saja. Dibutuhkan garam, cuka dan cabai, semua saling berkolaborasi dalam menciptakan sebuah harmoni

Entah KKN akan berakhir berapa puluh hari lagi, saya belum menghitungnya. Terkadang saya berpikir bagaimanakah kehidupan pasca KKN. Keakraban yang kami jalin setiap hari ini akankah terus berlanjut?



0 komentar:

Post a Comment