Cerita tentang adik dari seorang kakak


Berlibur bersama adik (sebelah kiri)

Ibu pernah bercerita bahwa semua anak-anaknya membawa rezeki tersendiri. Ketika saya dilahirkan 21 tahun lalu bertepatan dengan diangkatnya ayah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Tiga tahun kemudian, adik lahir, dan keluarga kami mendapatkan rumah baru. Tuhan memang sebaik-baiknya pengatur kehidupan.
Saya mencoba mengumpulkan memori masa kecil  sekitar 17 atau 18 tahun silam. Waktu itu keluarga kami masih tinggal mengontrak di sebuah rumah kecil di tengah perkampungan masyarakat Madura. Tidak heran jika pada masa kanak-kanak dulu saya adalah penutur Madura aktif.

Selayaknya anak kecil pada umumnya, saban hari saya habiskan untuk bermain. Mulai dari bermain masak-masakan, sembunyi-sembunyian, mandi di sungai, dan banyak lagi.Teman-teman semasa kecil dulu  kebanyakan sudah duduk di bangku sekolah dasar. Sementara saya baru berusia dua atau tiga tahun. Ketika teman-teman pergi sekolah saya kerap menghabiskan waktu dengan ikut bekerja bersama ayah, ibu, atau pergi bersepeda bersama kakek.

Hingga tibalah pada suatu masa, saya meminta agar segera dibuatkan adik. Maksud saya agar ada teman bermain di saat teman-teman sepermainan pergi sekolah. Sekitar tahun 1999 keingian itu terkabulkan. Ibu mengandung.

 Di saat  ibu mengandung  saya kerap menirukan gerak bayi dalam kandungan. Saat itu juga terbesit rasa cemburu karena ayah, ibu, kakek, nenek semua mempersiapkan kelahiran adik dengan berbagai upacara selamatan. Rasa cemburu itu saya ekspresikan dengan sering membuat tingkah. Terkadang saya juga sering melontarkan pertanyaan mengenai apa jenis kelamin adik saya kelak.

Keinginan untuk menjadi kakak itu akhirnya terpenuhi juga. Hari Selasa pagi, 13 Juni tahun 2000, kalau tidak salah setalah subuh, bayi mungil itu lahir. Adik lahir di ruang bersalin, bertempat di rumah Budhe (baca: bibi) kami yang berprofesi sebagai Bidan. Kelahiran adik menandakan secara resmi saya ditahbiskan sebagai seorang kakak.

Menjadi adik dan juga teman bermain


Adik menjadi teman bermain baru bagi saya. Terlebih saat kami sekeluarga berpindah ke rumah baru. Saat itu  kami masih belum memiliki tetangga. Rumah yang kami tinggali cukup mewah (mepet sawah) samping kanan, kiri, depan, dan belakang rumah kami dulu masih berupa persawahan. Sehingga tidak heran jika teman bermain saya di rumah hanyalah adik.

Kami berdua adalah adik-kakak yang tidak bisa dipisahkan, kalau saya tinggal, adik selalu menangis. Saya pun masih ingat bahwa ibu selalu membelikan kami berdua baju dengan model yang sama, hanya berbeda warna dan ukuran.

Dari Taman Kanak-kanak(TK) hingga Sekolah Dasar (SD) adik mengikuti jalan saya, bersekolah di sekolah yang sama. Begitu sampai di Sekolah Mengegah Pertama (SMP), Sekolah Mengah Atas (SMA) jalan kami sudah berbeda.

Terlahir dari rahim yang sama memang tidak lantas membuat kami sama dalam berbagai hal. Tuhan memberikan kami talenta, watak, dan keunikan masing-masing. Dari perbedaan-perbedaan yang ada terkadang atau bahkan sering membuat kami berkonflik. Selayaknya anak-anak, sering juga kami bertengkar, adu pukul, dan kejar-kejaran layaknya kartun Tom dan Jerry.

Kini semakin saya dewasa, saya mencoba semakin memahami adik. Konflik adalah jalan saya untuk memahami watak adik. Ibu selalu ngendika demikian, “ Kamu itu cuma dua bersaudara jadi harus rukun”. Bukan berarti kalau saya memiliki lebih dari satu adik lantas menjadi alasan bagi saya untuk tidak rukun. Mungkin ibu berpesan agar sesama keluarga harus saling mengasihi, mengerti, dan mengayomi. "Watuk ono tombone, mung yen watak raono tombone" pesan Ibu. Masa kecil adalah masa yang baik untuk membentuk watak kami berdua.

Tahun ke 18 menjadi seorang kakak

Kini saya sudah berusia 21 tahun dan adik telah menginjakkan usia yang ke 18 tahun. Bayi mungil  itu kini mulai beranjak dewasa. Waktu berjalan dengan cepatnya. Entah mengapa saya seperti belum siap melihat adik tumbuh dewasa. Banyak orang yang mengira adik adalah kakak saya, padahal sebaliknya saya adalah kakaknya.

Adik  tumbuh dengan begitu cepatnya. Sering saya mencoba memeluk dan mencium adik saat terlelap tidur. Kalau ketahuan adik sudah pasti saya kena semprot “Adik sekarang sudah besar!”. Siap tidak siap semua mahluk hidup sudah pasti akan bertumbuh dan berkembang. Kedewasaan adalah sebuah keniscayaan. Maka saat ini saya mulai mengajaknya berbicara dengan cara yang dewasa pula.

Berbicara dengan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tidak sok menasihati ini itu, dan berusaha untuk bersikap terbuka. Tetapi hal ini masih belum berhasil saya lakukan. Saya juga bingung ketika ibu meminta saya untuk memotivasi adik lantaran gagal di jalur selesi undangan perguruan tinggi (SNMPTN). “Kamu juga harus bertanggung jawab dalam masa depan adikmu”, pesan ibu.

Lantas saya berinisiatif mengirimkan sepucuk surat, jujur saya bukanlah kakak yang sering berkomunikasi melalui Whatsaapp dan sejenisnya. Dalam pesan itu saya tuliskan demikian, “Orang Atheis itu tidak percaya Tuhan nah kita, yang Theis percaya akan adanya Tuhan, harus yakin bahwa Dialah sumber segala pengharapan”.

Terakhir, saya menyadari bahwa saya bukanlah kakak yang sempurna. Saya juga bukanlah teladan yang baik serta dapat dijadikan inspirasi. "Kalau mencari inspirasi maka carilah melalui buku-buku biografi", pesan saya padanya. Saya hanyalah seorang yang berusaha mendukung adiknya, sejauh yang saya bisa.


Tabik

0 komentar:

Post a Comment