Terkadang sesuatu yang pada awalnya kita anggap lama, pada akhirnya akan terasa cepat berlalu juga. Dulu di awal tahun 2015, saya menganggap kuliah itu lama. Tetapi kini saya baru menyadari, bahwa kuliah empat tahun itu ternyata cukup singkat. Persis seperti kata pepatah, waktu dapat diibaratkan seperti pedang. Jika tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, maka pedang itu dapat melukai atau bahkan membunuh sang empunya. Kini tidak terasa saya sudah menapaki satu tahapan sebelum bertempur dalam medan pertempuran skripsi, Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Di kampus saya- Universitas Gadjah Mada- KKN adalah suatu kewajiban dan tidak kalah pentingnya dengan mata kuliah wajib. Mengulang. Satu kata yang menjadi momok dan amit sewu, semoga saja tidak pernah terjadi. Bagi saya KKN tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga tenaga dan waktu. Ada banyak hal yang harus dibayarkan, baik untuk kepentingan program, biaya hidup, termasuk mengorbankan waktu liburan bersama keluarga.

“Kamu mau KKN dimana?”, adalah pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh beberapa kolega. “Saya tidak tahu, nderek Gusti saja”, jawab saya sembari tersenyum. Saya memang tidak terlalu memprioritaskan KKN. Berbeda dengan kebanyakan teman yang cenderung mencari tempat yang sejauh mungkin. Saya mencari tempat yang tidak begitu jauh, tetapi memiliki adat istiadat yang berbeda dengan budaya Jawa. Jatuhlah pilihan saya itu di Desa Cintaasih, Kabupaten Garut – Jawa Barat.

Di minggu pertama KKN ini saya ingin bercerita perihal pembelajaran hidup yang saya dapatkan. Pembelajaran itu lebih-lebih mengenai kehidupan yang tak banyak disinggung di bangku kuliah. Salah satunya adalah belajar untuk beradaptasi dengan teman-teman baru serta lingkungan baru. Selembar kertas ijazah tidak bisa menjamin kemampuan kita dalam berbaur dengan masyarakat. Inilah fragmen KKN pertama saya.




Inilah keluarga kecil kami, TIM KKN Cintaasih – Garut, Jawa Barat. Keluarga kecil ini terdiri atas tiga puluh orang dari berbagai klaster dan fakultas. Lantas dari tiga puluh orang itu dibagi lagi dalam tiga pondokan, dengan masing-masing pondokan 10 orang di dalamnya. Selama kurang lebih 56 hari saya akan tinggal dengan berbagai macam orang dengan beragam perbedaan. Mulai dari perbedaan watak, pemikiran, keyakinan, dan beragam perbedaan lainnya.

Mengenal watak dan karakter orang memang tidak hanya bisa sekadar berapriori. Bahkan banyak di antara teman se-pondokan yang tertipu dengan karakter autentik dari seorang Arif. Mereka menganggap saya sebagai tipe orang yang serius dan kaku. Tetapi nyatanya setelah beberapa hari bersama, banyak di antara teman se-pondokan terkejut atau bahkan kecilik. Nyatanya, saya adalah orang yang cukup jenaka.

Saya punya pengalaman lain mengenai berapriori dalam mengenal watak orang. Di hari pertama KKN saya bertemu dengan salah seorang teman se-pondokan yang cukup pendiam. Kerjanya hanya termenung. Saya berpikir mungkin saja dia tidak cocok dengan kami. Namun ternyata, setelah dua hari tinggal bersama apriori saya itu terbukti salah telak. Sosok yang saya anggap pendiam itu kini semakin banyak “bertingkah” dan sering membuat kami terpingkal-pingkal.

Kehidupan KKN saya anggap sebagai gladi kotor dalam membangun rumah tangga. Meski saya tidak tahu kelak akan berumah tangga atau tidak. Tetapi setidaknya saya sudah mendapatkan ilmunya, tinggal praktiknya saja yang belum. Di sini saya belajar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tidak kalah pentingnya,  saya belajar untuk membangun hubungan akrab dan solidaritas dengan tetangga sekitar. Hidup tidak hanya sekedar mementingkan diri sendiri, tetapi bagaimana bisa menjadi garam di tengah masyarakat.

Pondokan KKN sudah saya anggap seperti “rumah”. Kehangatan pondokan bagi saya sama halnya dengan kehangatan keluarga biologis. Ada salah seorang dari kami yang memiliki sifat keibuan dan ada juga yang memiliki sifat ke bapakan. Bahkan saya tidak merasakan rindu dengan keluarga di rumah atau bahkan memang belum. Saat ini saya hanya berusaha untuk menikmati momen singkat yang akan saya kenang sepanjang hidup.

Hampir setiap hari kami melakukan aktivitas bersama-sama. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mencuci piring, mencuci pakaian, memasak, dan berbagai macam aktivitas lainnya kami lakukan bersama. Saya pun mulai belajar memahami kebiasaan masing-masing teman se-pondokan. Saya tahu siapa di antara kami yang paling keras mendengkur. Selayaknya sebuah keluarga kami mulai mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing, serta belajar bertoleransi.

Meskipun terkadang lakon drama kecil-kecilan kerap terjadi di keluarga baru saya ini. Hanya masalah kurang komunikasi yang kerap menimbulkan suatu prasangka. Tetapi menurut saya itu adalah hal yang wajar. Selayaknya hidangan makanan. Bagi saya makanan yang lezat bukanlah makanan yang hanya terdiri dari satu rasa saja. Akan tetapi,  hidangan  terasa lezat jika ada banyak rasa dengan komposisi yang pas. Ada pedas, manis, asin, dan masam. Begitu juga dengan kehidupan berkeluarga yang mungkin tidak terasa nikmat jika hanya terasa manisnya saja. Dibutuhkan garam, cuka dan cabai, semua saling berkolaborasi dalam menciptakan sebuah harmoni

Entah KKN akan berakhir berapa puluh hari lagi, saya belum menghitungnya. Terkadang saya berpikir bagaimanakah kehidupan pasca KKN. Keakraban yang kami jalin setiap hari ini akankah terus berlanjut?





Bangku gereja masih tampak lowong, renggang, mereka yang datang lebih awal duduk berjauhan satu sama lain. Misa mungkin akan dimulai sekitar 50 menit lagi. Dari beberapa orang yang datang itu kebanyakan adalah orang-orang yang sudah adiyuswa (lanjut usia). Mungkin semakin tua usia seseorang berbanding lurus dengan intensitas pendekatan diri dengan Sang Pencipta. Seharusnya memang begitu, tetapi tidak bisa ditampik bahwa tidak semuanya juga seperti itu. Banyak juga orang yang semakin tua belum juga eling (ingat) bahkan semakin keblinger dengan dunia.

Mereka -yang lebih dulu datang- tampak sedang berlutut pada bantalan bangku, sembari mengepalkan kedua telapak tangan. Diam dalam keheningan dan kekhusyukan. Silentium, sebuah laku untuk mendengarkan suara batin yang sering tak terdengar atau bahkan terabaikan. Saya sendiri tidak mengetahui suara apa yang sedang mereka dengarkan. Saya tidak berani menguping, begitu intim. Mungkin saja mereka sedang bercakap-cakap degan Tuhan atau bahkan mempersiapkan batin sebelum bertemu dengan Nya. Entahlah.

Saya pun mencari tempat duduk, tepat di belakang kelompok koor (pengiring paduan suara). Hal yang sama saya lakukan kemudian, melakukan silentium namun kebablasan hingga tertidur. Saya terbangun setelah  mendengar suara berdecit dari ujung pintu. Ternyata sumber suara itu berasal dari kursi roda yang tengah di dorong seorang kakek. Seorang nenek duduk dengan tenang di kursi itu. Nenek berambut pendek, rambutnya telah dipenuhi dengan uban, kulitnya pun sudah tampak keriput, sama halnya dengan sang kakek. “Usia boleh mengubah fisik mereka, tetapi semakin memperkuat cinta mereka”, ujar saya dalam hati.

Saya terus memperhatikan gerak kakek- nenek itu. Mereka mengambil posisi duduk tepat di depan altar. Usai kakek mengunci kursi roda nenek, ia mengambil sisir yang diletakkannya dalam saku. Perlahan ia menyisir rambut nenek agar terlihat rapi. Nenek telah beres, kakek pun mengambil kursi lipat yang terletak di samping patung Maria. Kini, mereka berdua duduk dan bersama-sama larut dalam keheningan.

Kakek sepertinya menerima nenek apa adanya. Meskipun kini kondisi nenek mulai lemah dan bahkan sudah tak secantik dan segagah di awal mereka bertemu dulu. “Berapa puluh tahun usia perkawinan pasangan adiyuswa itu?”, tanya saya dalam hati. Mereka masih memegang dengan kuat janji pernikahan yang entah telah berapa puluh tahun lamanya diikrarkan. Berjanji untuk setia dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihan, mencintai dan menghormati sepanjang hidup.

Cinta sejati, apakah yang dinamakan cinta sejati itu? Saya pun merenung. Sejati, abadi, mungkin saja seperti kakek-nenek itu. Tidak lekang oleh waktu, usia, dan di pupuk dalam waktu yang panjang. Jalan menuju kesejatian itu mungkin saja tidak selalu mulus. Selalu ada aral melintang, kesabaranlah yang membawa pada kesejatian itu.

Entahlah itu hanya sebatas perenungan atas apa yang saya lihat. Saya pun belum mengalami dan bahkan mengetahui siapakah sosok cinta sejati itu? Saat ini Saya memang tidak terlalu memikirkannya. Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan. Saya hanya dapat besemoga.

Ilustrasi: Istimewa (di unduh dari sesawi.net)


Berlibur bersama adik (sebelah kiri)

Ibu pernah bercerita bahwa semua anak-anaknya membawa rezeki tersendiri. Ketika saya dilahirkan 21 tahun lalu bertepatan dengan diangkatnya ayah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Tiga tahun kemudian, adik lahir, dan keluarga kami mendapatkan rumah baru. Tuhan memang sebaik-baiknya pengatur kehidupan.
Saya mencoba mengumpulkan memori masa kecil  sekitar 17 atau 18 tahun silam. Waktu itu keluarga kami masih tinggal mengontrak di sebuah rumah kecil di tengah perkampungan masyarakat Madura. Tidak heran jika pada masa kanak-kanak dulu saya adalah penutur Madura aktif.

Selayaknya anak kecil pada umumnya, saban hari saya habiskan untuk bermain. Mulai dari bermain masak-masakan, sembunyi-sembunyian, mandi di sungai, dan banyak lagi.Teman-teman semasa kecil dulu  kebanyakan sudah duduk di bangku sekolah dasar. Sementara saya baru berusia dua atau tiga tahun. Ketika teman-teman pergi sekolah saya kerap menghabiskan waktu dengan ikut bekerja bersama ayah, ibu, atau pergi bersepeda bersama kakek.

Hingga tibalah pada suatu masa, saya meminta agar segera dibuatkan adik. Maksud saya agar ada teman bermain di saat teman-teman sepermainan pergi sekolah. Sekitar tahun 1999 keingian itu terkabulkan. Ibu mengandung.

 Di saat  ibu mengandung  saya kerap menirukan gerak bayi dalam kandungan. Saat itu juga terbesit rasa cemburu karena ayah, ibu, kakek, nenek semua mempersiapkan kelahiran adik dengan berbagai upacara selamatan. Rasa cemburu itu saya ekspresikan dengan sering membuat tingkah. Terkadang saya juga sering melontarkan pertanyaan mengenai apa jenis kelamin adik saya kelak.

Keinginan untuk menjadi kakak itu akhirnya terpenuhi juga. Hari Selasa pagi, 13 Juni tahun 2000, kalau tidak salah setalah subuh, bayi mungil itu lahir. Adik lahir di ruang bersalin, bertempat di rumah Budhe (baca: bibi) kami yang berprofesi sebagai Bidan. Kelahiran adik menandakan secara resmi saya ditahbiskan sebagai seorang kakak.

Menjadi adik dan juga teman bermain


Adik menjadi teman bermain baru bagi saya. Terlebih saat kami sekeluarga berpindah ke rumah baru. Saat itu  kami masih belum memiliki tetangga. Rumah yang kami tinggali cukup mewah (mepet sawah) samping kanan, kiri, depan, dan belakang rumah kami dulu masih berupa persawahan. Sehingga tidak heran jika teman bermain saya di rumah hanyalah adik.

Kami berdua adalah adik-kakak yang tidak bisa dipisahkan, kalau saya tinggal, adik selalu menangis. Saya pun masih ingat bahwa ibu selalu membelikan kami berdua baju dengan model yang sama, hanya berbeda warna dan ukuran.

Dari Taman Kanak-kanak(TK) hingga Sekolah Dasar (SD) adik mengikuti jalan saya, bersekolah di sekolah yang sama. Begitu sampai di Sekolah Mengegah Pertama (SMP), Sekolah Mengah Atas (SMA) jalan kami sudah berbeda.

Terlahir dari rahim yang sama memang tidak lantas membuat kami sama dalam berbagai hal. Tuhan memberikan kami talenta, watak, dan keunikan masing-masing. Dari perbedaan-perbedaan yang ada terkadang atau bahkan sering membuat kami berkonflik. Selayaknya anak-anak, sering juga kami bertengkar, adu pukul, dan kejar-kejaran layaknya kartun Tom dan Jerry.

Kini semakin saya dewasa, saya mencoba semakin memahami adik. Konflik adalah jalan saya untuk memahami watak adik. Ibu selalu ngendika demikian, “ Kamu itu cuma dua bersaudara jadi harus rukun”. Bukan berarti kalau saya memiliki lebih dari satu adik lantas menjadi alasan bagi saya untuk tidak rukun. Mungkin ibu berpesan agar sesama keluarga harus saling mengasihi, mengerti, dan mengayomi. "Watuk ono tombone, mung yen watak raono tombone" pesan Ibu. Masa kecil adalah masa yang baik untuk membentuk watak kami berdua.

Tahun ke 18 menjadi seorang kakak

Kini saya sudah berusia 21 tahun dan adik telah menginjakkan usia yang ke 18 tahun. Bayi mungil  itu kini mulai beranjak dewasa. Waktu berjalan dengan cepatnya. Entah mengapa saya seperti belum siap melihat adik tumbuh dewasa. Banyak orang yang mengira adik adalah kakak saya, padahal sebaliknya saya adalah kakaknya.

Adik  tumbuh dengan begitu cepatnya. Sering saya mencoba memeluk dan mencium adik saat terlelap tidur. Kalau ketahuan adik sudah pasti saya kena semprot “Adik sekarang sudah besar!”. Siap tidak siap semua mahluk hidup sudah pasti akan bertumbuh dan berkembang. Kedewasaan adalah sebuah keniscayaan. Maka saat ini saya mulai mengajaknya berbicara dengan cara yang dewasa pula.

Berbicara dengan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tidak sok menasihati ini itu, dan berusaha untuk bersikap terbuka. Tetapi hal ini masih belum berhasil saya lakukan. Saya juga bingung ketika ibu meminta saya untuk memotivasi adik lantaran gagal di jalur selesi undangan perguruan tinggi (SNMPTN). “Kamu juga harus bertanggung jawab dalam masa depan adikmu”, pesan ibu.

Lantas saya berinisiatif mengirimkan sepucuk surat, jujur saya bukanlah kakak yang sering berkomunikasi melalui Whatsaapp dan sejenisnya. Dalam pesan itu saya tuliskan demikian, “Orang Atheis itu tidak percaya Tuhan nah kita, yang Theis percaya akan adanya Tuhan, harus yakin bahwa Dialah sumber segala pengharapan”.

Terakhir, saya menyadari bahwa saya bukanlah kakak yang sempurna. Saya juga bukanlah teladan yang baik serta dapat dijadikan inspirasi. "Kalau mencari inspirasi maka carilah melalui buku-buku biografi", pesan saya padanya. Saya hanyalah seorang yang berusaha mendukung adiknya, sejauh yang saya bisa.


Tabik
Museum Misi Muntilan tampak depan



Senin, 04 Juni 2018, Saya merasakan kejenuhan pada ujian semester enam kali ini. Hingga saya berpikir, ndang  rampung, kalau bisa segera diselesaikan. Entah ini adalah sindrom yang umum dialami bagi para mahasiswa tingkat akhir atau bukan, namun demikianlah yang saya rasakan. Sesekali tampaknya saya perlu menyegarkan  pikiran agar kembali “waras”. Kunjungan saya ke Magelang beberapa hari lalu itu adalah upaya saya untuk menjaga "kewarasan".

“Gus, apakah nanti bisa mampir ke Van Lith?”, tanya saya pada Agus. Syukurlah, ternyata tempat Van Lith searah dengan jalan ke Yogyakarta. Saya memang sudah lama berkeinginan untuk mengunjungi Museum Misi Muntilan. Baru kali ini keinginan itu terpenuhi. Muntilan, salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang ini seringkali mendapatkan julukan Bethlehem Van Java. Bethlehem adalah kota tempat kelahiran Yesus, sedangkan Muntilan adalah rahim dari tumbuhnya bibit-bibit Katolik Jawa generasi pertama. Van Lith, beliaulah bidan dari lahirnya orang-orang Katolik Jawa itu.

Memasuki Kompleks Museum Misi

Kunjungan saya pada pagi menjelang siang itu adalah untuk nitilaku. Sebuah upaya mengenang kembali perjalanan Gereja Katolik di Tanah Jawa. Museum Misi Muntilan terletak di dalam kompleks SMP Pangudi Luhur. Di dalam kompleks sekolah itu berdiri juga Gereja Santo Antonius Paduadan juga Kerkhof (makam rohaniawan Katolik). Baik bangunan gereja, museum, pastoran, dan sekolah merupakan bangunan lama yang masih terawat dan digunakan hingga saat ini.

Museum Misi tampak sepi, hingga saya merasa sangsi museum ini buka atau tutup. “Selamat Pagi”, sapa saya pada seorang bapak berusia paruh baya. “Ya, selamat pagi mas, dari mana?”, tanya bapak itu. “Saya Arif dan ini teman saya Agus, kami dari Sosiologi UGM, mau ke museum, boleh?” tanya saya. “Pangggil saja saya Pak Seno, tunggu dulu sebentar”. Sesaat kemudian Bapak tersebut membuka pintu museum dan sekilas  menjelaskan tentang seluk beluk Museum Misi Muntilan.

 “Sebenarnya Van Lith itu biasa-biasa saja, menjadi luar biasa karena murid-muridnya yang luar bisa”, buka Pak Seno. Keempat murid Van Lith semua menjadi pahlawan besar bagi bangsa ini, Mgr. Albertus Soegijopranoto, Agustinus Adisutjipto, Yos Sudarso, dan I. J. Kasimo.

Meski terlahir bukan sebagai seorang “pribumi” , Van Lith menanamkan rasa cinta terhadap tanah air pada anak didiknya. Tidak heran di antara keempat muridnya itu menyandang gelar pahlawan. Bahkan, Romo Kanjeng Albertus Soegijoprano, pada zaman penjajahan merumuskan konsep 100% Katolik 100% Indonesia. “Menghormati Ayah dan Ibu yang ada di 10 perintah Allah itu bukan hanya “Ibu” biologis, tetapi Ibu pertiwi tanah di mana kita berpijak”, terangnya lagi.

Membaptis atau menananm nilai?


Van Lith memang dikenal dengan misinya melalui bidang pendidikan. Van Lith memaknai Katolik bukan dengan banyaknya jumlah baptisan, seperti misionaris pada umumnya. Katolik dimaknainya sebagai nilai-nilai universal salah satunya, pendidikan yang memerdekakan seseorang dari kebodohan. Bagi Van Lith menjadi Katolik atau tidak adalah urusan masing-masing individu. Kepentingannya adalah bagaimana anak-anak Jawa mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak mengherankan jika sebagian besar anak didik Van Lith itu bukan berasal dari kalangan Katolik.

“Dari misi itu, Van Lith ingin menunjukkan Allah yang membebaskan. Kasih Allah yang tidak mengenal batasan agama, suku, ras dan identitas apapun”, tukas Pak Seno sementara kami hanya mengangguk. Selain misi di bidang pendidikan, didirikan juga Rumah Sakit Under Debogen yang saat ini berubah nama menjadi Rumah Sakit Panti Rapih. Para Suster melayani orang sakit, meringankan penderitaan mereka tanpa mengenal batas identitas, sebagaimana yang diamanatkan oleh Injil.

Dahulunya sekolah Pagudi Luhur ini bernama Kolese Xaverius Muntilan. Sebuah sekolah yang mengajarkan pendidikan modern bagi orang-orang Jawa. Mereka yang bersekolah di kolese ini semuanya adalah laki-laki. Sedangkan, anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan di Mendut. Banyak di antara siswa Muntilan dan siswi Mendut yang saling berjodoh. Dari kedua sekolah itulah lahir persemaian bibit-bibit Katolik Jawa.

Julukan “Katolik Jawa”, muncul karena pada zaman itu terjadi sentimen antara orang Eropa dan Non Eropa. Terlebih para misioner itu, berasal dari Eropa. Hal itulah yang membuat Van Lith tidak begitu berharap dapat membaptis banyak orang-orang Jawa. “Lalu apa yang membuat misi di tanah Jawa ini berhasil pak?”, tanya saya terheran. “Keberhasilan Van Lith dalam memahami orang-orang Jawa, salah satunya, dengan mengakulturasikan budaya Jawa dan Katolik”.
Buku doa mberbahasa Jawa dan menggunakan huruf Jawa


Di banyak tempat misi Katolik tidak berhasil ataupun tidak tumbuh subur karena membawa sikap puritan. “Menjadi Katolik bukan berarti menjadi ke roma-romaan, tetapi bagaimana menjadi Katolik yang men-Jawa”, terangnya lagi. Saya pun ditunjukkan dengan Injil berbahasa Jawa, buku doa dengan tulisan aksara Jawa, wayang Katolik, selawat Katolik, Yesus pun digambarkan dengan wajah Jawa.

Puritanisme memang menjadi masalah bagi setiap agama. Di Indonesia, Nahdlatul Ulama lebih berkembang daripada Muhammadiyah dan gerakan lainnya karena mampu membawa Islam yang sesuai dengan budaya setempat. “Contohnya saja peringatan kenduri dan seribu hari pasca kematian seseorang, kalau disini kenduri tidaklah masalah, tetapi di beberapa tempat kenduri dianggap tidak sesuai dengan ajaran Katolik”.

Doa Bapa kami, yang sebelumnya berbahasa latin- Pater Noster-, digubahnya ke dalam bahasa Jawa – Romo Kawula. Keuskupan Semarang sangat menghargai peran awam  sebagai katekis (guru agama). Salah satu katekis itu adalah Bapak Barnabas Sarikromo dari Sendangsono. Kawasan Sendangsono adalah tempat baptisan terbanyak pertama di Pulau Jawa. Di bawah mata air Pohon Sono itu dibaptis sekitar 140 orang Jawa.

Sekitar jam 10.45 Saya mengakhiri tur keliling museum. 45 menit yang sangat berharga untuk sedikit banyak mengenal sejarah masuknya agama Katolik bagi orang-orang Jawa.










Kamis, 07 Juni 2018 merupakan tanggal ujian seminar proposal saya. Beberapa teman mengajukan pertanyaan demikian, ”Kamu mau lulus cepat?” Saya hanya bisa tersenyum sembari menjawab,” Saya tidak berkeinginan untuk lulus cepat, tetapi semoga saja lulus tepat pada waktunya.”

Tepat atau tidak tepat waktu itu masing-masing orang memang berbeda. Bagi saya, lulus tepat ketika tidak melebihi batas yang ditentukan oleh universitas, tidak lebih dari empat tahun. Setelah lebih dari itu sudah jelas kami akan disuruh angkat kaki dari kampus ini.

Begitulah manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Selebihnya Tuhanlah yang berkenan menentukan. Saya merencanakan, kalau bisa sebelum Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya harus seminar. Bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian, demikian kata pepatah. Kalau terlalu senang saya takut rasa malas datang.

Dari pengalaman beberapa teman mengatakan bahwa mengerjakan skripsi itu dibutuhkan kesabaran dan kontinuitas. Berbeda halnya dengan Bandung Bondowoso yang mampu membuat candi dalam semalam saja. Saya bahkan menganggap mengerjakan skripsi sebagai latihan olah roso dan topo atau semacam laku asketisme.

Walaupun baru tahapan proposal, saya sudah menemukan godaan-godaan itu. Terutama godaan jenuh untuk memperbaiki revisi yang telah diberikan dosen pembimbing. Bahkan terkadang saya berpikir, “Kalau revisi terus kapan skripsinya ya?”

Terlebih ketika saya mendapatkan dosen yang cukup perfeksionis, disiplin, dan “ditakuti” karena mata kuliah kuantitatif yang menjadi momok di departemen kami. Akan tetapi,  akhirnya karena keinginan kuat untuk mempelajari hal baru membuat saya bertekad untuk menepis berbagai tantangan tersebut.

Mungkin bisa dikatakan saya satu-satunya di angkatan yang menggunakan metode kuantitatif. Saya memilih metode ini secara sadar. Saya memang tidak terlalu berharap bermuluk-muluk dengan “buah karya” yang akan saya ciptakan ini.

Saya hanya berniat untuk belajar dan mendalami metode kuantitatif. Saya memilih metode itu bukan karena merasa bisa, tetapi dari ketidakbisaan itulah saya berusaha untuk belajar. Saya takut dengan dalih passion, membuat saya malas dan terlelap untuk menantang diri dengan mempelajari hal-hal baru.

Puji syukur setelah beberapa kali revisi saya berhasil mendapatkan “tiket emas” untuk ujian proposal. Saya juga patut bersyukur bahwa saya mendapatkan dosen yang benar-benar dapat membimbing, teliti, dan terus memantik kami anak bimbingannya untuk terus belajar dan belajar. Beliaulah Dr. Amelia Maika.

Beliau juga turut hadir dalam seminar proposal saya siang itu. Saya sudah menganggap Mbak Amel – sapaan dosen pembimbing saya, seperti Ibu kandung sendiri. Dari beliau saya belajar ketekunan dan kerja keras yang pasti akan terbayarkan.

Meskipun agak berjalan cukup alot dengan diskusi yang agak panjang, tetapi syukur semua itu dapat terlampaui. Seminar proposal memang barulah tahapan awal dan saya memang tidak sepatutnya hanya berpuas diri dari pencapaian itu. Kedepan, akan ada berbagai tantangan yang harus saya hadapi.


Dengan penuh syukur.


Arif Budi Darmawan