Konon katanya orang akan wafat seturut dengan kebiasaan semasa hidupnya. Seorang yang gemar beribadah kemungkinan besar akan wafat pada saat beribadah. Seseorang yang hobi blusukan mungkin juga akan wafat dalam keadaan blusukan. Demikian pula yang terjadi pada Romo Mangun, sebagai seorang cendekiawan Romo Mangun wafat pada saat menjadi pembicara dalam sebuah seminar. Cita-citanya sudah terpenuhi. Pertama, meninggal dalam keadaan bertugas. Kedua, bila mati tidak perlu sakit-sakitan yang berlarut-larut hingga merepotkan banyak orang. Kecuali satu hal, tubuhnya bisa disumbangkan untuk penelitian mahasiswa kedokteran.

Jumat, 11 Mei 2018

Saya jadi teringat dengan sebuah bacaan yang kira-kira berbunyi seperti ini, “Gabah iku yen ora tiba ing lemah lan mati, tetep mung saela. Nangin yen  mati bakal ngetokake wong akeh”. Kira-kira kalau dibahasa Indonesiakan bacaan tersebut berbunyi demikian, sebiji gandum jika tidak jauh ke tanah dan mati, ia tidak akan menghasilkan buah.

Sebuah perumpamaan yang menurut saya sesuai untuk menggambarkan kehidupan yang kita jalani. Hidup adalah proses menanam benih-benih kebaikan, sedangkan hasilnya akan tampak ketika kita telah berpulang dalam kehidupan kekal.

Tiga bulan lalu  saya sowan menemui Romo di pesareannya. Akses menuju makam Romo tidaklah begitu sulit. Hanya beberapa meter dari ring road utara Kaliurang. Makam ini terletak di Kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan. “Pak, saya mau nyekar ke makam romo-romo”, izin saya pada satpam. “Ya silakan”, jawaban yang sudah saya tebak sebelumnya. Sebuah basa-basi agar terlihat lebih sopan dan pantas.

Letak pemakanan persis di belakang gedung perpustakaan seminari. Jika anda menemukan patok-patok salib, maka berhentilah. Karena sudah jelas itu adalah kompleks pemakaman romo-romo projo Keuskupan Agung Semarang. Di bawah tanah itu, tengah beristirahat dengan pulas, orang-orang yang menurut saya hebat. Mereka adalah orang yang setia dalam panggilannya untuk menggembalakan umat dan berjuang bagi kemanusiaan.

Kunjungan saya sore itu untuk melepas rindu–walaupun saya belum pernah bertemu dengan sosok Romo Mangun. Sekaligus menjalankan tradisi nyekar yang sudah lama tidak saya lakukan. Orang Jawa– pada umumnya– memiliki kebiasaan untuk nyekar atau mengunjungi makam leluhur. Dimulai ketika menjelang bulan puasa atau pasca Hari Raya Iedul Fitri. Tradisi ini dilakukan  untuk mengenang dan mendoakan arwah leluhur. Dari laku mengenang dan berdoa itu terkadang timbul sebuah inspirasi untuk juga dapat menanam kebaikan sebagaimana yang dilakukan almarhum.

Ke -Romo-an yang universal

Orang Jawa pada umumnya memanggil Pastur dengan sebutan Romo. Sebuah gelar yang didapat tidak hanya dari proses studi di seminari, tetapi juga didapat dari panggilan Tuhan. Mereka secara khusus dipanggil untuk menggembalakan umat dan memilih untuk meninggalkan kehidupan keduniaan–salah satunya dengan hidup selibat.

Romo atau pastur memang menjadi sebutan untuk tokoh agamawan Katolik. Akan tetapi, menurut saya ke-romoan dan pelayanan yang diberikan Romo Mangun tidak hanya terbatas bagi mereka yang se-agama. Ia berusaha mempraktikkan kerahiman Tuhan yang tidak mengenal batasan suku, agama, ras, dan berbagai identitas lainnya.

Sehingga tidak heran ketika prosesi penyemayaman jenazah di Gereja Kidul Loji hingga upacara pemakaman di makam kompleks Seminari Tinggi Kentungan, Romo dikunjungi oleh ribuan orang dari berbagai latar belakang. Perjuangan akan kemanusiaan memang tidak mengenal batas identitas ataupun regional. Semua orang pada hakikatnya sama, maka menolong orang pun juga tidak perlu di beda-bedakan.

Mulai dari masyarakat Kali Code, di mana Romo Mangun terlibat dalam mendesain kawasan hunian kaum miskin kota yang tinggal di bantaran kali. Hadir juga siswa-siswi SD Kanisius Mangunan –sekolah yang dibina oleh Romo Mangun, masyarakat Kedung Ombo – masyarakat yang sawahnya ditenggelamkan oleh Rezim Soeharto, dan rombongan petani Magelang .

Ke-romo-an yang yang universal ini juga tampak dari pemikirannya baik dalam bentuk novel, cerpen, dan kolom surat kabar. Dalam karya-karyanya Romo mangun berusaha menekankan pesan akan konsep manusia Pasca Indonesia atau Pasca Nasional dan Pasca Eistein.

Konsep Pasca Nasional adalah sosok manusia Indonesia yang terbuka pada nilai kemanusiaan universal dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ke -Indonesiaan. Sedangkan konsep Pasca Eistein adalah cita-cita dari sosok manusia Indonesia yang tidak hanya berpikir lurus layaknya jalan rel. Bukan juga manusia yang bermain mutlak-mutlakan (fiksasi), tetapi manusia yang kreatif, eksploratif, inklusif, dan pluralistis.

Jabatannya sebagai Imam Katolik hannyalah sebagai titik tolak saja, sedangkan kemanusiaan adalah tujuannya. Bagi Romo Mangun, agama lain bukanlah menjadi saingan tetapi rekan sejawat untuk membangun kemanusiaan khususnya untuk melayani mereka yang miskin dan tersingkirkan. Berbagai perbedaan antar manusia itu menurut Romo Mangun harus diikat dengan semangat kemanusiaan yang sama, merasakan keprihatinan yang sama sebagai manusia kecil.

Sugeng Sare Romo, Kawula Nyuwun Pangestu Dalem.