Berkeliling Dunia dengan KRL




Sejak bangku sekolah dasar kelas pertama Ibu mengajarkanku untuk naik kol- sebutan untuk transportasi umum yang bentuknya menyerupai mobil. Aku ingat betul saban hendak berangkat sekolah  Ibu membawakanku sekantong plastik bening . Di dalam kantong itu terisi uang sejumlah seribu rupiah dan secarik kertas bertuliskan “Turunkan anak ini di depan SMP 2 Paiton”. Itulah kali pertama ibu mengajariku untuk naik transportasi umum.

Mungkin kisah semacam  itulah yang membuatku lekat dengan transportasi umum. Ketika menyambangi ibu kota, salah satu yang aku rindukan adalah hiruk pikuk masyarakat urban dengan KRL ataupun bus way. Sebuah kebahagiaan kecil ketika kendaraan yang kutumpangi melintasi kemacetan dan kepadatan jalan. Aku semacam mendapatkan sebuah keistimewaan.

Kamis, 12 April 2018 lalu adalah waktu terakhirku menaiki KRL. Stasiun Universitas Indonesia adalah titik awal perjalananku dan akan berakhir di Stasiun Pasar Senen. Pukul 17.30, stasiun tampak ramai dengan hiruk pikuk mahasiswa yang hendak pulang. KRL tujuan bogor tampak lebih padat ketimbang jurusan Jakarta kota. Bagiku yang bukan orang ibu kota selalu saja terheran-heran melihat kepadatan kereta yang sudah kelewat batas. Penumpang berimpitan bak ikan sarden, bahkan nyaris tidak ada jarak antar satu penumpang dengan penumpang liane

Dua kali aku pernah mengalami dan merasakan padatnya KRL. Aku mencoba untuk merasakan hiruk pikuk kehidupan kaum urban dengan transportasi umumnya. Kali pertama perjalanan malam dari Stasiun Juanda ke Stasiun UI, dan kali ke dua dari Manggarai ke Bekasi. Dua peristiwa itu membuatku merenung,”Kuatkah aku jika kelak harus beraktivitas seperti ini, pagi dan sore di antara himpitan penumpang?” Sudahlah aku tidak ingin memikirkannya. Kata ibu hidup itu harus dijalanai, bukan hanya dipikirkan.


Sudah dua kali kereta menghampiriku, yang pertama kereta menuju Jakarta Kota, sedang yang kedua menuju arah Angke. Pada yang ketiga datanglah KRL Yellow Line dengan tujuan akhir Stasiun Jatinegara. Seperti yang sudah aku utarakan sebelumnya, kereta menuju Jakarta tidaklah sepadat kereta menuju Bogor dan Bekasi. Mungkin sebagian besar dari penumpang KRL adalah pekerja ibu kota yang tinggal di daerah pinggiran seperti dua daerah tadi. Wajarlah jika di pagi hari KRL ke arah Jakarta selalu padat. Tetapi sebaliknya, di malam hari KRL menuju Bogor dan Bekasi yang paling ramai.

Dari Stasiun UI ke Pasar Senen menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih. Kereta ini harus mengelilingi “dunia” terlebih dahulu. Tapi memang di dalam kereta aku tengah membayangkan ketika kelak bisa menginjakkan kaki di Eropa dan beberapa negara maju dengan transportasi umumnya yang maju pula. Di negara maju seperti Jerman contohnya kereta menjadi pilihan utama karena murah, mudah, dan cepat. Berapa banyak bahan bakar yang dapat dihemat jika setiap orang mengesampingkan egonya dengan menaiki transportasi umum?

Sore menjelang malam itu aku tengah membayangkan seolah-olah aku sedang berada di Hamburg menuju Berlin. Aku memang belum pernah menginjakkan kaki ke luar negeri, tapi entah mengapa  ada suatu keyakinan yang terbesit bahwa suatu saat pasti akan terwujud. Aku selalu percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat rencana. Meski belum pernah melangkahkan kaki ataupun menghirup nafas di Jerman dan negeri entah berantah lainnya, apa salahnya jika aku membayangkan terlebih dahulu. Dari bayangan dan harapan itulah ada semangat untuk terus mewujudkan cita.

Sumber gambar:  http://lensa.fotokita.net/wp-content/uploads/2017/05/Susilo-Waluyo_Menjaga-Keamanan-Dan-Kenyamanan_Juara-3.jpg












0 komentar:

Post a Comment