Mengaktifkan Sistem Imun Jiwa



Memang benar adanya manusia sebagai homo economicus yang selalu mencari keuntungan berupa materi. Manusia mengerahkan sebagian besar waktu hidupnya untuk mencari materi. Termasuk ketika berdoa, rezeki yang diminta pada Tuhan itu tidak kurang supaya diberikan rezeki materi, yang cukup untuk kesejahteraan hidup.

Saya adalah salah satu orang yang berpikiran demikian. Dalam benak saya “rezeki” yang saya minta pada Tuhan itu merupakan rezeki materi, baik berupa harta dan benda kekayak fisik. Akan tetapi, baru-baru ini saya mulai menyadari bahwa permohonan rezeki yang saya minta pada Tuhan itu sebenarnya bukan terbatas pada perkara kebendaan. Lebih dari itu, kerap kali yang Tuhan berikan adalah rezeki non-materi.

Kesadaran semacam itu saya dapati melalui perenungan beberapa minggu terakhir. Beberapa hari ini saya memang tengah mengalami keterpurukan. Syukurlah, di tengah keterpurukan itu saya tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk berkonsultasi pada psikiater atau dokter ahli jiwa.

Saya mencoba menyelesaikan keterpurukan itu dengan memanfaatkan sistem imun yang ada dalam tubuh saya. Entah teori dari mana, saya meyakini bahwa tubuh memiliki sistem imun. Misalkan jika badan terserang demam, maka sebenarnya sistem imun kita berusaha untuk menyembuhkan demam tersebut.

Hal ini saya rasa berlaku pula pada “sakit psikis” yang saya alami. Sebenarnya diri kita sendiri bisa mengobati sakit psikis yang tengah kita alami tersebut. Sistem imun itu saya beri nama dengan sistem imun jiwa. Lantas, bagaimanakah cara mengaktifkan sistem imun jiwa untuk menyelesaikan persoalan psikis itu?

Caranya adalah dengan mencoba mengheningkan diri sembari mendengar apa yang dikatakan batin. Seringkali suara batin yang tak terdengar itu kerap  terabaikan, baik sengaja ataupun tidak. Keheningan adalah salah sau cara untuk mendengar suara batin, sekaligus untuk melatih kepekaan. Mencoba untuk peka menanggapi berbagai isyarat yang Tuhan bisikkan.

Singkat cerita dalam keheningan yang saya lakukan itu, batin saya seolah mengatakan untuk kembali mengingat Tuhan. Maka saya pun coba menjalankan apa yang batin saya katakan, sebagai bentuk berdamai dengan diri. Saya takut jika batin terus bergejolak akan menekan kepala, hati, jantung dan berbagai organ lainnya yang berakibat pada munculnya berbagai macam penyakit.

Beberapa hari terakhir,  saya mencoba berdoa, bersembahyang sebagai cara untuk mengingatNya. Lambat laun saya melakukan proses penerimaan diri. Bahwa yang tengah saya alami itu adalah sebuah anugerah. Hal yang buruk jika disikapi dengan baik maka akan menjadi baik. Begitupula sebaliknya, hal baik, jika salah ditanggapi maka akan menjadi suatu hal yang buruk.

Di tengah kondisi yang demikian, saya juga rutin mengunjungi teman dan sahabat untuk bercerita  mengenai berbagai hal. Saya tidak ingin menyimpan masalah yang saya alami ini sendiri. Maka saya patut bersyukur, bahwa saya memiliki teman, sahabat, kolega yang termat baiknya.

Kedua hal inilah yang saya maksud sebagai rezeki non-materi,  yang kerap luput dari rasa syukur kita. Semenjak itu saya mulai memahami “rezeki” dengan sudut pandang yang luas. Bahkan, saya berpikir bahwa rezeki non-materi itu nilainya lebih besar ketimbang rezeki materi.

Contohnya saja soal teman. Segudang uang yang kita miliki  tidak akan mampu membeli pertemanan. Coba bayangkan saja jika semua harus kita beli dengan uang. Untuk sekadar mendengar curhatan saya harus membayar, untuk menamani di saat membutuhkan membayar, dan niscaya kita tidak akan mampu membayar pertemanan dengan uang.



0 komentar:

Post a Comment