Katedral Bandung, Menelisik Jejak Ke-Katolikan di Tanah Sunda




Hari minggu pertama di Kota Bandung dan saya dibuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin sudah menjadi suatu tradisi saban akhir pekan warga Bandung meramaikan taman kota, jalananan car fee day, dan berbagai arena publik lainnya. Di antara warga Bandung itu ada yang pergi sendiri, ada juga yang bersama dengan anak- istri. “Pantas saja salah satu survei mengatakan tingkat kebahagian warga Bandung menduduki posisi teratas di Indonesia”, guman saya.

Jam 07.00 saya sudah siap siaga berdiri di depan Wisma PU Martadinata– tempat meginap saya selama seminggu kedepan. Beberapa detik kemudian telepon genggam saya berdering.”Ya pak saya sudah di depan wisma pakai jaket hijau”, jawab saya reflek. Seolah saya sudah dapat meramalkan bahwa si penelpon adalah Bapak Gojek.

Ternyata beliau sudah menunggu semenjak beberapa menit lalu. Bapak Gojek ini tidak menggunakan atribut identitas perusahaanya. Helm yang saya gunakan juga bukan helm berwarna hijau sebagaimana biasanya. Hal ini terjadi lantaran di Bandung ojek konvesinal dan online masih saling berseteru. Bahkan kabarnya di Jatinangor perseteruan ini diikuti dengan tindakan vandalisme. Hal yang patut disayangkan bagi mereka yang meyakini akan Tuhan yang telah mengatur rezeki umatNya.

Mengunjungi Katedral Santo Petrus

Pagi itu Saya berencana menghabiskan setengah hari ini untuk berjalan-jalan keliling Kota Bandung. Daftar pertama yang akan saya kunjungi adalah Katedral Santo Petrus. Entah gerangan apa yang membuat saya ingin mengikuti perayaan ekaristi minggu pagi itu. Bapak Gojek memberhentikan motornya di depan gereja protestan sembari bertanya pada saya “Ini katedralnya ya mas?”Sebuah kesalahan umum bagi mereka yang belum mengetahui perbedaan Katedral dan Gereja Protestan. “Sepertinya bukan ini Pak Katedralnya”, lantas kami melanjutkan perjalanan.

Menara Katedral dengan ciri khas atap meruncing
Katedral Bandung terletak beberapa puluh meter dari gereja protestan tadi. Dari kejauhan nampak ciri khas bangunan Neo Gotik, menara dengan atap yang meruncing di bagian atas. Hal ini menyimbolkan bahwa ketika menghadap Tuhan kelak seorang diharapkan dapat lepas dari segala pernak-pernik duniawi. Halaman gerejapun telah dipadati dengan jemaat dan mobilnya. Menandakaan sebagain besar umat Katedral Bandung berada dalam kategori kelas menengah ke atas.

Mendapat julukan sebagai ibu bagi gereja-gereja, Katedral merupakan tempat di mana uskup bertahta. Katedral ini juga menjadi dasar dari pertumbuhan umat katolik di Bandung. Dahulunya Bandung merupakan wilayah Prefektur Apostolik, yang berpisah dari Vikariat Apostolik Batavia pada tahun 1932. Kemudian di tahun 1941, seturut dengan masa keemasan bagi perkembangan Katolik di Indonesia, status Bandung ditingkatkan lagi menjadi Vikariat Apostolik Bandung. Baru di tahun 1961 menjadi wilayah Keuskupan Bandung.

Memasuki Bagian Dalam Katedral
Sejurus kemudian saya memasuki pintu masuk utama katedral. Telunjuk saya menunjuk pada bejana air suci yang berada di depan pintu. Lantas mencelupkan jari pada air dalam bejana tersebut sembari kemudian membentuk tanda salib. Laku yang lumrah dilakukan dalam gereja katolik. Sebuah laku simbolik yang bermakna seorang manusia pendosa yang mengingat untuk bertobat.

Salah satu bejana air suci yang terdapat di Katedral Bandung
Perhatian utama saya tertuju pada altar. Petikan perikop injil berbunyi ,”Datanglah Kepadaku yang lelah dan menangggung beban” menghiasi altar katedral. Sebuah pesan bahwa Tuhan adalah tempat kembali dari berbagai macam pencarian duniawi yang kita lakukan. Kemudian mata saya tertuju  pada tabernakel berbalut warna emas yang dijaga oleh dua patung malaikat yang tengah membawa lentera. Sebuah susunan yang ingin menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat suatu kesakralan, yakni tubuh kristus.

Gambar 1 : Hiasan kutipan perikop bacaan injil, Gambar 2 : Orgel atau organ pipa

Sementara itu meja perjamuan terdiri dari dua macam. Jenis pertama dengan model membelakangi umat. Meja jenis ini umum digunakan sebelum konsili vatikan II. Dan model kedua menghadap umat yang mulai diterapkan pasca konsili vatikan II. Di samping altar telah berdiri pohon cemara dengan empat lilin berwarna ungu yang disusun melingkar. Pertanda bahwa minggu ini adalah permulaan masa adven, masa mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Yesus. 

Altar Katedral Bandung dan tabernakel yang dijaga oleh dua orang malaikat

Hiasan kaca patri yang membentuk biasan cahaya menambah kesyahduan suasana katedral. Pada dinding katedral terpampang serangkaian lukisisan jalan salib bergaya barok. Dan tidak ketinggalan bilik pengakuan dosa, sebagai ruang pencurahan rahma Tuhan yang tiada terhingga. Beberapa patung turut menambah kesakralan tempat ini. Di antara patung yang saya kenal itu antaralain  Patung Yesus, Maria, Santo Petrus sang pelindung gereja dan patung orang-orang kudus lainnya.

Bangku panjang gereja tertata apik dan rapih. Saya memilih duduk di bangku deretan depan dekat dengan paduan suara. Sesaat kemudian lonceng berbunyi, pertanda perayaan ekaristi segera dimulai. Sayapun hanyut dalam perayaan yang diiringi lagu-lau ordinarium berbahasa latin. 



Pernak-pernik Katedral Bandung : Patung orang-orang kudus dan ruang pengakuan dosa



Jejak Sejarah Misi Katolik di Tanah Sunda


Ada satu rasa penasaran yang muncul dalam benak saya sesaat ketika memasuki gereja. Umat yang datang didominasi dari etnis cina. Bukan maksud saya untuk membedakan orang berdasarkan ras. Tapi rasa penasaran saya ini sebenarnya merujuk pada bagaimana sejarah misi Katolik di Tanah Sunda.

Saya melihat perbedaan yang kentara dengan misi di Jawa Tengah dan sekitarnya. Sepengamatan saya, umat Katolik di Jawa Tengah dan sekitarnya itu kebanyakan berasal dari orang-orang Jawa. Mungkin hal ini berkaitan dengan keberhasilan misi yang dibidani oleh Romo Van Lith dan romo-romo Serikat Yesus  di Muntilan. Sebelum menanam benih seseorang harus paham tanah dimana benih itu akan tumbuh . Demikian dengan Romo Van Lith yang berhasil memahami budaya jawa, tanah di mana benih itu tumbuh. Ia berhasil mengakulturasikan budaya Jawa dan Katolik.

Selain itu Romo Van Lith juga berkarya melalau pendidikan. Ia merupakan inisiator berdirinya sekolah guru Kolese Xaverius. Kolese ini merupakan kawah candradimuka bagi lahirnya tokoh-tokoh penggerak banggsa. Di antara tokkoh yang lahir dari rahim Muntilan itu antalain Mgr. Albertus Soegija Pranata dan I.J. Kasimo.

Gua Maria di dalam kompeks Katedral Bandung

Dari penelusuran saya dalam buku Catholics in Indonesia, 1804-1942 dituliskan bahwa persebaran umat Katolik di Bandung berkaitan dengan pelabelan Bandung sebagai “White Government”. Bandung merupakan salah satu kota dengan jumlah orang Eropa terbanyak. Cuaca yang sejuk membuat orang-orang eropa dan pensiunan pegawai kolonial betah tinggal di sini.

Pada tahun 1939 tercatat penduduk eropa katolik berjumlah 13000 jiwa dan 1000 “orang pribumi” yang didominasi oleh etnis cina. Orang-orang pribumi yang beragama Katolik merupakan pindahan dari daerah Jawa Tengah. Pada awalnya romo-romo dari tarekat Serikat Jesus  menggembalai umat di wilayah ini. Baru di tahun 1927  tarekat Salib Suci datang, dan misi diserahkan pada tarekat ini.


1 comment: