"Nama adalah doa", kira-kira demikian yang sering saya dengarkan. Artinya, ketika seorang anak lahir ke alam dunia, ketika itu pula atau beberapa hari kemudian anak akan diberikan sebuah nama. Pada sebagian orang tua bahkan telah menyiapkan nama jauh-jauh hari sebelum kelahiran sang anak. Bahkan ada pula yang sudah menyiapkan nama untuk dua jenis kelamin sekaligus. Padahal mereka–kedua orang tua– belum mengetahui apa jenis kelamin si anak.  Jika perlu pula, orang tua akan mencari nama terbaik dari beragam kitab. Bisa dari kitab suci, kitab kamus, dan kitab-kitab lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa nama  bagi sang anak bukanlah suatu hal yang sepele. Segenap daya dan upaya dikerahkan untuk memberikan doa terbaik bagi anaknya itu.

Sekitar 22 tahun yang lalu tepatnya di hari Minggu, kedua orang tua menamai saya demikian. Arif Budi Darmawan. Nama yang singkat pun mudah untuk dilafalkan. Mungkin juga nama ini cukup lazim di telinga masyarakat Indonesia. Sebab keseluruhan kata yang membentuk nama saya itu  diambil dari Bahasa Indonesia. Bukan dari bahasa yunani, latin, arab, ataupun negara-negara lainnya. Nama saya made in Indonesia atau asli buatan Indonesia. 

Ayah saya pernah bercerita bahwa nama pada anak-anaknya tidak disematkan identitas agama apapun. Alasannya, ayah takut kalau kelak nama dengan membawa identitas agama akan menjadi suatu persoalan. Nuansa keagamaan dalam nama saya itu sifatnya implisit atau tak kasat mata. Konon jumlah tiga suku kata pada nama saya juga bukanlah tanpa sebab. Angka tiga, menurut keyakinan ayah, merupakan angka yang sakral.

Terlepas dari kesakralan angka tiga, menurut saya, jumlah tiga suku kata itu tidaklah terlalu panjang dan terlalu pendek. Nama yang cukup moderat. Tidak terlalu merepotkan kalau mengisi isian identitaas diri dalam Lembar Jawaban Komputer. Mungkin juga– ini hanyalah sekadar terkaan saya– agar saya tidak menjadi anak yang ekstrem. Sebuah doa tersirat agar saya menjadi orang yang moderat. 

Arif

Arif. Beberapa orang kerap salah menuliskan 'Arif' dengan 'Arief'. Keduanya, biarpun memiliki arti yang sama, tetapi cara penulisannya berbeda. Perbedan terletak pada ejaan yang digunakan. 'Ie' pada 'Arief' menggunakan ejaan lama, sedang  Arif pada nama saya, menggunakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Setelah melalui penelusuran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata arif memiliki tiga makna. Arif berarti bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu. Orang yang bijaksana itu adalah orang yang tidak sembrono. Tindakan dan keputusan yang diambilnya sudah beradasarkan pemikiran yang matang. Seorang yang arif diharapkan pula memiliki kesatuan antara tindakan dan ucapan.

Kalau kita tautkan dengan makna lainnya,  dapat dipahami pula bahwa bahwa orang bijak adalah orang yang mampu dalam menggunakan akal budinya. Ayah dan Ibu berdoa agar saya dapat menjadi orang yang berilmu.  Dengan karunia ilmu pengetahuan kita dibimbing menjadi pribadi yang arif.

Lantas, untuk menjadi pribadi yang arif, yang bijak, yang pandai, maka saya haruslah terbuka untuk terus belajar.  Belajar dari pengalaman hidup, baik pengalaman yang baik dan kurang baik, belajar dari orang lain, belajar dari semesta, dan belajar melalui buku-buku.

Budi

Orang tidak hanya dibimbing oleh akal. Ia pun membutuhkan bantuan budi. Menurut KBBI budi adalah alat akal untuk menentukan baik dan buruk. Sering kita mendengar  kata akal budi. Keduanya semacam menjadi pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Akal tidak bisa berjalan sendiri tanpa budi, pun demikian dengan budi tidak bisa berjalan sendiri tanpa akal. Keduanya memiliki sifat check and balance, saling memeriksa satu dengan yang lainnya.

Melalui budi seseorang dituntun pada kebenaran. Budi berarti perbuatan baik. Semakin berilmu maka seseorang semakin didorang untuk semakin berbudi yang luhur. Meyakini bahwa dirinya itu adalah jagad cilik dan ada suatu yang lebih besar darinya yang disebut dengan jagad gedhe.  

Darmawan

Banyak pula orang yang salah megartikan dengan menyamakan "Darmawan" dengan "Dermawan". Perbedaan 'a' dan 'e' menimbulkan perbedaan makna. Dermawan bermakna orang yang suka memberi derma (suka berbagi). Sedangkan Darmawan artinya orang yang memiliki atau mematuhi janji. Janji ini bisa berupa janji apa saja, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Sudah 22 tahun saya menyandang nama tersebut. Akan tetapi baru sekarang saya mulai merenungkan arti nama itu. Kalau nama adalah doa, maka doa tersebut belum berbuah atau masih menjadi bibit. Saya belum mengenal konsekuensi atas doa yang diujudkan oleh kedua orang saya.

Konsekuensi Sebuah Doa

Banyak dari kita yang gemar berdoa, tapi tidak banyak yang memahami konsekuensi atas doa tersebut. Penggunaan kata "kita", karena saya merupakan bagian dari kelompok tersebut, kelompok orang yang kerap lupa akan konsekuensi atas doanya. Bagaimana konsekuensi doa itu? Konsekuensi dari doa itu menurut saya begini. Saya berdoa kepada Tuhan agar dapat lulus ujian. Maka, konsekuensi atas doa tersebut saya harus belajar. Memahami konsekuensi doa merupakan sebuah laku agar  doa tidak menjadi suatu yang abstrak, diawang-awang, dan gambaran tak nyata.

Pun demikian dengan doa yang disematkan pada nama saya, Arif Budi Darmawan. Saya tidak hanya dituntut untuk menderaskan doa, agar dari hari kehari dapat terus belajar menjadi pribadi yang arif, berbudi, dan akhirnya dapat menjadi pribadi yang darmawan. Akan tetapi,  saya harus berusaha untuk mewujudkan ujud tersebut. Hari ini saya teringat kembali, betapa saya masih jauh dari harapan kedua orang tua saya itu.



Pada beberapa waktu lalu saya sempat menulis beberapa refleksi  terkait  percintaan. Renungan tersebut muncul atas pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Perkara jatuh cinta dengan sahabat, perkara cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan perkara cinta yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan.

Baru-baru ini saya mulai berpikir tentang apa sih parameter jatuh cinta itu? Ada yang melihat parameter cinta dari aspek suka. Bisa jadi suka dengan penampilan seseorang, pemikiran, dan apa pun yang menarik serta dapat menjadi landasan yang kuat bahwa aku cinta kamu.

Akan tetapi, kalau kita menggunakan parameter suka,  ada juga yang awalnya tidak suka menjadi suka. Sering saya dengar sebuah ungkapan yang menyatakan demikian, “Witing tresna jalaran saka kulina”. Bahwa benih-benih cinta itu tumbuh seturut dengan intensitas interaksi.

Intensitas di sini bisa berupa bayaknya jumlah bertemu, banyaknya mengobrol, dan bertatap muka. Rumusnya, semakin sering kita berinteraksi maka semakin besar pula peluang timbulnya rasa cinta. Buktinya pada saat kegiatan Kuliah Kerja Nyata kemarin. Ada salah satu pasangan yang lahir dari kegiatan ini. Lha wong bagaimana tidak, setiap hari bertemu dalam dimensi waktu dan tempat yang sama.

Nah sekarang saya merenung, cinta itu yang seperti apa tho? Kalau hanya sekadar suka–sedikit promosi– saya sering ‘menaruh hati’ atau kagum dengan wanita yang memiliki pandangan yang luas. Seluas apa saya juga bingung dalam memberikan definisi dan batasan yang jelas mengenai hal tersebut. Akan tetapi setidaknya nyambung kalau diajak ngobrol. Lebih-lebih kalau bisa diajak berdiskusi.

Setelah membaca beberapa karangan N.H. Dini, satu hal kriteria yang menurut saya patut untuk dipertimbangkan adalah sifat rendah hati. Saya menafsirkan rendah hati ini dengan sifat terbuka, legowo, mau menerima masukan, saran, dan tergerak untuk senantiasa berdaya ubah. Tentu setiap orang mempunyai kelemahan. Sifat rendah hati atau keterbukaan inilah yang memampukan seseorang untuk menengok ke dalam dirinya.

Rendah hati membuat seseorang tidak menjadi benere dhewe atau semaunya sendiri. Biasanya semakin tua seseorang  berbanding lurus dengan  tebalnya ego. Semakin tua semakin mau menangnya sendiri. Rasa tepo sliro atau bisa saling merasa itu kian pudar. Hal inilah yang harus disepakati oleh kedua belah pihak, bagaimana bisa bernegosiai dengan situasi-situasi seperti itu.

Selebihnya ibu saya mengatakan bahwa pasangan hidup itu haruslah dalam lingkup iman yang sama. Entah kenapa harus sama. Mungkin kalau ada acara-acara keagamaan supaya tidak perlu banyak melakukan penyesuaian. Tidak hanya berhenti di situ, ibu menambahkan pula kalau pasangan hidup itu lebih-lebih menghayati laku rohani yang “benar”.

Pancasila bisa menyatukan bangsa yang terdiri atas macam etnis, golongan, serta keyakinan. Akan tetapi, tampaknya sulit untuk menyatukan mereka yang mencintai dalam keyakinan yang berbeda. Terlebih lagi di Indonesia yang mana sebagian–entah berapa banyak persentasenya– agama masih menjadi landasan yang amat fundamental.

Terkadang saya bingung, ibu mencarikan pasangan anaknya seorang manusia atau malaikat. Karena syarat-syarat yang diajukan  teramat ideal. Padahal manusia tidak hanya berbicara perkara yang seharusnya. Seringkali apa yang seharusya itu juga harus berkompromi dengan apa yang senyatanya terjadi.

Kembali ke topik awal, saya kerap sulit dan terkadang mempertanyakan antara cinta dan rasa kagum. Mengatakan “Aku cinta kamu”, saya rasa tidak bisa seimpulsif itu. Mengatakan terkadang mudah, tetapi mempertanggung jawabkan yang terkadang susah. Sekarang bilang aku cinta kamu, besok aku cinta yang lain. Istilah kata isuk dhele sore tempe, orang yang tidak memiliki pendirian yang jelas.

Lalu cinta itu seperti apa? Terlalu banyak merenung sampai-sampai yang dicintai sudah bersama yang lain. Hingga berujung pada penyesalan, “Kenapa kok tidak berani mengatakan dari dulu saja?”. Kenapa kok ya tidak dicoba dulu? Serta mengapa-mengapa yang lainnya.


Sabtu pagi sekitar pukul 10 saya masih tertidur di kamar kos. Musababnya badan saya terasa kurang baik. Kepala pening perut pun mual. Sepertinya saya masuk angin. Entah angin masuk lewat mana. Saya juga bingung bagaimana cara mengeluarkannya.

Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk kamar saya. Ternyata sang pengetuk itu adalah teman kos. Kamarnya terletak satu lantai di atas kamar saya. Teman kos saya ini tengah melakukan inspeksi ke setiap kamar. Pasalnya, baru saja ia kehilangan dua buah komputer jinjing, sebuah telepon genggam, dan sepasang sepatu seharga jutaan rupiah. Saya pun mempersilakan untuk menggeledah kamar saya.

Usai menggeledah dan tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan saya pun turut menggeledah kamar lainnya. Aneh. Barang tak kunjung ditemukan. Hasil rekaman kamera pengintai pun juga menunjukkan hasil yang sama. Nihil. Tak ada orang asing yang masuk ke paviliun kos kami. Sudah pasti pencurinya orang dalam. Akan tetapi siapa pencuri yang mau mengaku?

Berdoa bagai jalan tol 

Akhirnya Bapak dan Ibu kos menyuruh kami–seluruh penghuni paviliun– untuk berkumpul dan berdoa. “ Mari kita semua menghadap ke arah Patung Yesus dan Ibundanya Maria. Kita satukan hati dan pikiran pada Tuhan”, pimpin ibu kos. Dimulai dengan tanda salib kami pun mulai berdoa guna memohon perlindunganNya.

Bapak dan Ibu kos saya memang tergolong orang Katolik yang cukup saleh. Usia pasangan suami istri ini sekitar 84 tahun. Masih bagas waras. Bahkan penjual nasi goreng di samping kos saya bercerita kalau ibu kos masih gemar pergi ke salon.

Di usia mereka yang tergolong senja ini, mereka menghabiskan sebagian waktu untuk berdoa. Baik dengan mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja maupun berdoa secara pribadi di rumah. “Kami setiap malam selalu menyempatkan untuk tahajud”, ujar ibu kos.

Karena heran saya pun bertanya. “Lah tahajud bagaimana Bu?” Dari penjelasan ibu kos saya mengetahui bahwa tahajud ini adalah salah satu laku yang mereka adopsi dari ritual umat muslim. Di kala sepertiga malam biasanya umat muslim gemar melakukan laku doa guna menghantarkan ujud pribadinya.

“Berdoa di waktu malam itu lebih hening dan biasanya lebih mudah terkabul”, jelas ibu kos.Mungkin berdoa bisa diibaratkan kondisi jalanan. Bagaimana perumpamannya? Maksud saya begini kalau kita melakukan perjalanan di waktu pagi, sore, atau bahkan pada jam pulang dan pergi kantor jalanan pastinya akan macet.

Akhirnya kendaraan akan lama bergerak dan tidak kunjung sampai ke tempat yang ingin kita tuju. Begitupula dengan berdoa. Mungkin saja berdoa di pagi, siang, ataupun sore hari merupakan waktu “jam kerja” bagi orang-orang yang berdoa. Sehingga terkabulnya doa akan sedikit lama. 

Berbeda dengan berdoa di malam hari, yang notabene adalah waktu istirahat. Sangat jarang orang mau berdoa di jam-jam tersebut. Sehingga doa lebih mudah atau cepat terkabul. Berdoa di malam hari seperti berdoa di jalan tol, bebas hambatan dan cepat sampainya.

Berdoa yang nasionalis

Apa saja yang bapak dan ibu kos saya doakan? Dari hasil percakapan, yang selalu mereka doakan adalah anak-anak penghuni kos. “Jangan khawatir mas, semua warga kos saya doakan. Semoga menjadi orang yang sukses dan berguna bagi bangsa, negara, dan agama”, tambah Bapak Kos.

“Sebuah kos-kosan yang begitu komplit”, guman saya. Tidak hanya menyediakan kebutuhan jasmani berupa tempat tinggal, tetapi juga mendukung kebutuhan rohani berupa doa. Saya jadi terharu. Lha wong, saya saja tidak pernah mendoakan mereka. Bahkan untuk mendoakan orang tua sendiri saja kerap terlupakan. 

Selain itu, saat masa -masa menjelang pemilu kemarin, mereka juga menghaturkan ujud khusus. Ujud tersebut berupa devosi novena untuk memohon agar pemilihan umum dapat berjalanan dengan baik dan damai. Saya terharu. 

Sepertinya saya harus mulai belajar berdoa. Tidak hanya berdoa untuk diri sendiri. Itulah arti doa yang tidak egois.  Lebih dari itu sepatutnya kita mulai mendoakan orang lain terlebih lagi bangsa dan negara ini. 



Hidup itu penuh dengan pertukaran. Bagaimana tidak. Ketika menginginkan suatu barang harus ditukar dengan uang. Mau uang harus melakukan pertukaran dengan kerja dan usaha. Mau pintar harus melakukan pertukaran dengan belajar. Semua tidak datang tiba-tiba dengan bantuan mukjizat. Bahkan untuk mendapatkan suatu mukjizat atau wahyu seseorang harus melakukan pertukaran dengan suatu laku atau tirakat. Termasuk perihal jatuh cinta, dengan sahabat pula. Penuh dengan pertukaran yang terkadang membuat kita mengalami dilema.

Keunggulan


"Pasangan terbaik itu adalah sahabat kita", ujar seorang teman. Tentu maksud pasangan di sini adalah pasangan hidup. Ada suatu keunggulan jikalau pasangan hidup kita itu adalah sahabat kita. Bagaimana keunggulannya? Karena sahabatlah yang paling mengerti diri kita. Dia tidak hanya tahu yang tampak-tampak saja. Jauh dari itu, mereka tahu apa yang tidak tampak dari diri kita. Tampak di sini maksudnya berupa kebaikan. Sedang yang tidak tampak berarti kerentanan, kelamahan yang kerap kita sembunyikan.

Lha wong jatuh cinta itu bukan hanya perkara siap mencintai kebaikan orang yang kita cintai. Jatuh cinta itu sepaket dengan menerima masa lalu dan pelbagai kerentanan seseorang. Tidak bisa dijual terpisah. Setiap orang itu punya sisi gelap baik berupa pengalaman hidup, sifat, watak, dan berbagai hal lainnya.

Kata ibu saya, “ Watuk ono tombone, mung yen watak ra ono ”. Kurang lebih maksudya begini, batuk itu ada obatnya sedangkan watak itu tidak ada. Merubah watak seseorang itu tidaklah mudah. Harus dimulai dengan kesadaran dalam diri. Tidak ujug-ujug ndilalah tiba-tiba berubah layaknya Power Rangers. Butuh waktu untuk saling berdamai dengan kegalapan masing-masing.

Satu frekuensi

Percaya atau tidak manusia itu berjejaring bagaikan gelombang radio. Ada gelombang AM dan juga FM. Begitu juga dengan manusia. Saya sendiri kesulitan dalam mendefinisikan frekuensi gelombang ini. Frekuensi gelombang manusia sifatnya abstrak. Akan tetapi, saya punya sebuah indikasi bahwa seseorang sefrekuensi atau tidak dengan diri kita. Cirinya bisa jadi berupa rasa nyaman dan juga nyambung atau klop ketika diajak mengobrol.

Biasanya orang yang satu gelombang ini berada dalam lingkaran terdekat dalam diri kita. Mereka biasanya adalah sahabat atau teman dekat kita. Semakin jauh gelombang menunjukkan semakin jauh juga kesamaan “gelombang” itu. Mereka–yang berada pada gelombang terluar– biasanya hanyalah sekadar teman biasa yang hanya saling bertegur sapa.

Lalu apa kaitanya dengan mencintai sahabat? Keunggulan yang kedua adalah sudah pasti pasangan kita itu berada dalam “satu gelombang” yang sama dengan diri kita. Tidak perlu lagi melalui proses menyesuaikan getaran gelombang. Lha wong frekuensi sudah lama disesuaikan selama masa persahabatan.

Pertukaran yang dilematis 

Bagi saya pribadi , jatuh cinta dengan sahabat itu adalah suatu hal yang dilematis. Sebagaimana yang sudah saya sampaikan di awal. Hidup itu penuh dengan pertukaran. Pertukaran mencintai sahabat ini terjadi kalau cinta bertepuk sebelah tangan.

Tentu hubungan persahabatan itu tidak akan segayeng hubungan sebelumnya. Akan ada perasaan sungkan atau dalam bahasa Jawa ada semacam perasaan ewuh pekewuh. Sudah jatuh ketiban tangga pula. Sudah ditolak ditambah kehilangan sahabat terdekat pula. Lengkap sudah semuanya.

Sehingga wajarlah dalam hubungan cinta berkedok sahabat ini, biasanya kedua pihak atau salah satu pihak akan sulit untuk memulai. Maksud saya memulai dalam menyatakan cinta. Karena bisa jadi ketakutan akan kehilangan sahabat menutupi perasaan itu. Atau singkatnya kedua belah pihak atau salah satu pihak akan memilih untuk cari amannya saja.

Lantas bagaimana kalau memang benar-benar jatuh cinta dan ingin menyatakan rasa cinta itu? Bergantung tujuannya. Maksud saya begini, kalau memang kita sudah keburu nikah dan keburu menentukan pilihan hidup, segera saja untuk menyatakan perasaan itu. Apapaun konsekuensinya tentu harus diterima.

Akan tetapi kalau tidak buru-buru, ya sudah. Nikmati saja prosesnya. Kata orang terburu-buru itu temannya setan. Toh menyatakan cinta tidak semata-mata dengan ucapan. Ada beragam ekspresi cinta, salah satunya  dengan tindakan. Tunggu momentum dan waktu yang tepat, baru ucapan bertindak!

















Tangan Munipa telah terampil dalam menggambar alis
Bersolek dengan bermodalkan kaca kecil
Ketekunan Munipa dalam menggoreskan pensil pada alisnya
Kotak ajaib berisikan alat rias



Namanya Munipa, sudah 5 bulan bekerja di rumah kami. Hanya bisa berbahasa Madura, kalau ada yang mengajaknya berbahasa Indonesia dia akan menimpali, "Engkok tak ngerteh", yang artinya , "Saya tidak tahu". Setiap sore, sehabis mandi, Munipa selalu membawa kotak sepatu ke depan ruang tamu. Kotak sepatu itu bak kotak ajaib yang akan mengubah wajahnya menjadi semakin bersolek.

Munipa and Her Magical Box

Her name is Munipa. She has been working in our family since 5 months ago. She only speaks Madura. If you talk with her in Bahasa or English she will reply "Engkok tak ngerteh" means, "I don't understand". Every afternoon, after taking a bath, she always brings a shoe box to our living room. This shoebox like a magical box that will change her face to be more glowing. And this afternoon, I try to document his makeup routine.

Saya punya teman dekat, sebut saja namanya Doni. Syahdan, saat tengah bersama-sama mengerjakan tugas, tiba-tiba terbesitlah ide untuk berbicara perihal cinta. Namun sebelum bercerita lebih lanjut izinkan saya memberikan sebuah peringatan awal. Saya sendiri bukan pakar di bidang percintaan. Bahkan, curiculum vitae saya dalam hal percintaan boleh dibilang masih awam. Kalau diibaratkan kursus bahasa inggris, saya masih dalam tahapan beginner. Baru belajar mengeja huruf dan angka. Tulisan ini sekadar perenungan atas pengamatan saya.

Singkat cerita, Doni mulai mengernyitkan dahi dan menghela nafas ketika saya mulai berbicara perkara cinta. Ia tampak jengah. Musababnya, beberapa bulan ini ia tengah dirundung masalah percintaan. Entah  siapa sosok yang dikasihinya itu. Tiba-tiba ia berceletuk, “Kenapa sih aku harus jatuh cinta, apa salah ku?” Mungkin kurang lebih demikian keluh Doni.

Sejenak saya berpikir, “Apakah jatuh cinta adalah suatu hal yang salah?” Sebagai seorang theis, saya meyakini bahwa Tuhanlah yang menciptakan manusia. Dia menciptakan berbagai macam organ tubuh manusia. Dia juga menciptakan berbagai macam perasaan yang melekat pada diri manusia. Lantas kalau jatuh cinta adalah suatu hal yang dipermasalahkan, berarti Tuhan juga turut andil dalam permasalahan ini?

Kalau memang jatuh cinta itu salah, kita juga tidak bisa menyalahkan kalau cinta datang tak disangka. Terkadang juga, cinta datang disaat yang tak dinginkan. Benci jadi cinta dan bahkan sebaliknya, yang awalnya cinta jadi benci. Ada yang datang pada pandangan pertama. Ada juga yang tak kunjung datang walau sudah lama berpandangan. Jatuh cinta semacam menjadi suatu hal di luar kendali kita. Selayaknya hidup cinta penuh dengan ketidakpastian.

Menanam benih

Saya mencoba memberi perumpamaan pada Doni bahwa jatuh cinta itu bisa diibaratkan seperti menanam benih. Dalam menanam benih tentu membutuhkan suatu medium–tempat di mana benih itu tumbuh. Demikian pula dengan jatuh cinta, butuh suatu medium agar cinta itu dapat tumbuh dengan subur. Berbeda dengan tanaman, medium benih cinta bukan tanah, bukan juga pot. Tentunya, medium benih cinta itu adalah seseorang yang kita kasihi.

Apakah ketika ada seseorang menanam benih lantas menjadi suatu tindakan yang salah? Tidak juga. Misalkan, saya ingin menanam benih padi, lalu apa yang salah dari menanam benih padi? Bukankah padi bermanfaat untuk kebutuhan pangan?Tidak ada yang salah! Akan tetapi, menjadi salah kalau kita menanam padi di padang gurun. Bukan salah, tetapi kurang tepat. Lha wong, padi itu tumbuh di tanah yang gembur lagi membutuhkan air yang cukup.

Bukan hanya bisa dipastikan gagal panen. Bahkan, bisa dipastikan pula padi tak akan tumbuh. Jika ingin dipaksakan mungkin bisa. Akan tetapi, harus dilakukan dengan rekayasa teknologi tinggi. Hasilnya pun mungkin tak sebaik dari benih padi yang tumbuh di tanah subur. Begitu pula dengan benih cinta. Kalau memang benih tidak bisa tumbuh, maka carilah medium lain yang sesuai dengan jenis benih yang kita tanam.

Saya punya contoh lain perihal memaksakan benih untuk tumbuh di medium yang kurang tepat. Begini ceritanya, saya punya tetangga, mereka menanam Pohon Durian jenis monthong di pekarangan depan rumahnya. Kata ibu saya, pohon itu merupakan Pohon Durian yang ajaib lagi unik.

Tidak unik bagaimana, Pohon Durian itu tumbuh di dataran rendah dengan cuaca yang cukup panas. Lantas bagaimana hasilnya? Pohon Durian itu memang tumbuh dan berbuah. Akan tetapi, daging buah durian itu harus dijus  lantaran teksturnya cukup keras dan ditambahkan gula lantaran rasanya hambar.

Lalu apa hubungan antara Pohon Durian dan hubungan percintaan? Hubungannya, mungkin saja, cinta yang dipaksakan akan tampak tumbuh dan berkembang. Akan tetapi, meskipun tumbuh, hasilnya bisa jadi tidak baik. Seperti Durian Monthong yang harus dijus dan ditambahkan gula. Mana ada makan durian dengan tambahan gula!









Kapan nikah? Merupakan pertanyaan yang paling menjengkelkan bagi seseorang berusia 25 tahun ke atas. Pertanyaan itu semacam menjadi FAQ (frequently asked questions) atau pertanyaan yang sering ditanyakan. Wabil khusus, sering muncul di saat acara kumpul keluarga pada hari-hari besar keagamaan. Saat ini saya telah menginjak usia ke- 22 . Itu berarti sekitar tiga tahun lagi pertanyaan itu akan datang menghujani saya.
Manusia Janggal

Pada umumnya, mungkin, ini sekadar pengamatan saya. Pernikahan semacam menjadi salah satu tolak ukur bagi “kesempurnaan” hidup seseorang. Kalau seseorang belum atau bahkan tidak menikah ia kerap dianggap belum menjadi manusia yang sempurna. Semacam ada yang kurang, janggal. Acapkali diibaratkan seperti sayur tanpa garam. Hambar.

Misalkan, ada seseorang dengan kriteria sebagai berikut. Mapan sudah, tampan sudah, pintar juga iya. Namun, kurang satu saja, belum menikah. Sontak, seseorang tersebut biasanya akan dipandang sebelah mata. Bahkan bisa menjadi bahan omongan tetangga. “Lah anaknya Ibu Fulanah itu lho, ganteng, sukses, tapi kok ya belum laku-laku”.

Hampir semua agama menganggap pernikahan sebagai hal yang sakral. Dalam kitab suci dikisahkan Tuhan menciptakan Hawa sebagai pelengkap Adam. Maksudnya mungkin begini, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pelengkap bagi satu dengan yang lainnya. Otomatis, seseorang yang belum menikah dapat dikatakan sebagai orang yang “belum lengkap”, seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

Setiap manusia tentunya punya kekurangan dan juga kelebihannya masing-masing. Mungkin, dua hal itulah yang berusaha dilengkapi dalam pernikahan. Menikah bukan hanya perkara biologis atau sekadar mencari kenikmatan seksual. Kalau hanya sekadar persoalan selangkangan, lantas apa bedanya dengan melacur? Amit sewu, mungkin saja lebih enak melacur.

Antara Menikah dan Melacur

Lantas apa bedanya menikah dengan melacur? Perbedaannya adalah mungkin saja, sekali lagi mungkin, karena saya sendiri juga belum menikah. Menjalin komunikasi antara dua pihak. Bayangkan saja, kita akan hidup bersama dengan pasangan kita. Sampai kapan? Hingga jangka waktu yang tidak ditentukan dan jelas tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Nah, apalagi, setiap orang punya kerentanan, kelemahan, dan ego masing-masing. Begitu pula dengan pasangan kita. Mencari pasangan itu bukan perihal mencari kesempurnaan. Lha wong tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Andra and The Back Bone. Kalau kesempurnaan yang kita cari mungkin saya bisa memberikan opsi, silakan menikah dengan malaikat saja.

Satu hal lagi, kalau kesempurnaan yang kita cari kerapuhanlah yang akan kita temui. Selalu saja ada cacat dan cela pada diri seseorang. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana kita bisa mengakomodir kerentanan dan kelemahan pasangan kita?

Menjadi Rem dan Kopling

Saling menerima kerapuhan dan bersama-sama berdamai dengan kerapuhan tersebut. Sekilas tampak mudah diucapkan namun dalam praktinya belum tentu demikian. Damai itu bukan bersifat pasif, tetapi ada upaya aktif antara dua belah pihak. Anda punya kelemahan begitupula dengan pasangan Anda. Berdamai artinya kedua belah pihak mampu menjadi rem dan koping bagi masing-masing.

Rem fungsinya untuk menahan agar kendaraan tidak bablas dan untuk menghindarkan suatu kondisi yang tidak diinginkan. Sedangkan, kopling berfungsi agar kendaraan bisa bergerak dan menjalankan fungsinya. Dalam kehidupan rumah tangga rem dapat berupa saling mengingatkan ketika kerapuhan itu terjadi. Kopling dapat berperan dalam komunikasi dalam pengambilan langkah bagi jalannya kehidupan rumah tangga.

Saya beri contoh begini, misalkan saya orang yang boros sedangkan pasangan saya adalah orang yang hemat. Nah bagaimana praktik rem itu? Praktiknya adalah pasangan saya akan “mengerem” atau mengingatkan saya tatkala sudah keblinger dengan urusan belanja.

Baik rem dan kopling keduanya membutuhkan pelumas agar dapat berjalan sesuai dengan fungsinya. Begitu juga dengan “rem dan kopling” kehidupan rumah tangga. Pelumas di sini berupa sifat berlapang dada ketika pasangan saling mengingatkan, tidak menang sendiri dan semaunya sendiri. Rem dan kopling ini berfungsi agar kedua pasangan saling bertumbuh dan berkembang.

Saya berpikir bahwa dalam hubungan yang baik kedua pasangan sejatinya akan semakin bertumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Baik bagi dirinya maupun sesama serta semesta. Berkembang bukan semata-mata “berkembangbiak”, berkembang dalam artian bagaimana menjadi dua pribadi yang semakin memberi rasa di tengah-tengah kehidupan.


Beberapa hari ini, saya sering kali bertanya pada salah satu teman begini, “Si Fulan, baru sidang , bagaimana perasaanmu?” Pertanyaan ini saya ajukan melihat sudah mulai tumbangnya teman seangkatan saya satu persatu. Tumbang lantaran purna sudah tugasnya sebagai mahasiswa strata satu. Lalu, jawab teman saya begini, “Di satu sisi senang sih Rif, melihat orang lain bahagia, tetapi di sisi lain juga kesal, mengapa saya kok belum rampung juga”.

Mungkin, kalau diibaratkan dengan lomba lari, siapa cepat sampai garis finis, maka dialah yang menang. Siapa yang lulus dulu, maka dialah juga yang akan menang. Lantas apa yang salah? Tidak ada yang salah. Perkara lulus duluan dan lulus terakhir memang tidak bisa menjadi tolak ukur kesuksesan. Waktu kelulusan menurut saya itu perkara prioritas. Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki prioritas, jalan , ditambah masalahnya masing-masing.

Melihat kebahagiaan orang lain itu ibarat koin yang terdiri atas dua sisi. Di satu sisi bahagia dan di sisi lain mungkin saja menyimpan rasa kesal terhadap diri sendiri. Tidak semuanya begitu, ada juga yang merasa tertantang. Bagaimana tantangannya? Dia saja lulus, kok ya saya belum lulus-lulus. Semacam iri, tetapi rasa iri yang cenderung menuju pada kompetisi yang positif.

Kata teman saya, rasa iri pada manusia itu adalah suatu yang alamiah lagi lumrah. Saya pun mencoba merenungkan perkataan teman saya itu. Hidup perkara dilihat dan melihat. Seperti kata pepatan Jawa, urip kui sawang sinawang, mung ojo nyawang sing kesawang. Secara gamblang pepatah itu ingin mengatakan sebuah sifat alamiah manusia untuk melihat yang terlihat. Sementara yang tak terlihat acap kali terabaikan.

Apa sesuatu yang tak terlihat itu? Yang tak terlihat di sini bukanlah jin, setan, dan berbagai macam dedemit lainnya. Tak terliahat dapat berupa usaha, kegigihan, dan berbagai macam sikap lainnya yang jarang kita ketahui. Kita hidup di zaman instan, mungkin terbawa hingga ke dalam cara pandang kita. Melihat suatu hal terjadi secara instan. Ndilalah dan tiba-tiba terjadi, layaknya kehidupan di zaman nabi-nabi terdahulu, dengan mengandalkan mukjizat Yang Kuasa.

Padahal, apa yang kita lihat itu semacam gunung es dari tumpukan hal-hal yang tak terlihat. Maka di semester akhir ini terutama mengajarkan saya satu hal. Belajar bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Merasa bahagia ketika  satu persatu teman mulai sidang. Tentu saja sidang skripsi, bukan sidang isbat apalagi sidang SIM. Tidak hanya melihat apa yang saya lihat, tetapi belajar dari apa yang tak terlihat itu. Selamat berbahagia!









Nenek saya sudah cukup sepuh. Usianya sudah lebih dari 85 tahun, lebih tua dari usia republik ini. Beliau sudah memiliki canggah, sebutan untuk generasi ke-lima dalam keluarga Jawa. Nenek lahir di pegunungan kapur, Trenggalek, Jawa Timur. Di usia 16 tahun, saat menginjak sekolah dasar kelas empat, beliau menikah lalu hijrah ke Blitar mengikuti jejak suaminya.

Hidup serba berkekurangan, dari yang kurang itu berupaya untuk dicukup-cukupkan. Kakek dan nenek harus berjuang untuk membesarkan 10 anaknya. Maklum, saat itu Keluarga Berencana (KB) masih belum populer atau bahkan belum ada. Punya  dan tidak punya anak  bukan atas suatu rencana. Sak metune, atau sekeluarnya saja. Nenek dan kakek hanya bisa menuruti titipan yang kuasa. Berbeda dengan zaman sekarang, lahir dan tidak lahir sudah bisa diprogram layaknya robot.

Dulu, kata nenek, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari berbagai usaha mereka lakukan. Mulai dari menjahit, berjualan sandang, kayu bakar, menjadi dukun pijit, hingga membuka warung. Nenek memang cukup pandai memasak. Beliau terkenal sebagai juru masak untuk berbagai acara kenduri di kampungnya. Tidak heran, di usianya yang sudah dapat dikatakan uzhur ini beliau masih fasih dalam mencicip  masakan.

 Dalam urusan makanan, beliau tidak memiliki pantangan apapun. Jamaknya, semakin senja usia seseorang, semakin banyak makanan yang menjadi pantangan. Tidak demikian dengan nenek saya,  ada saja makanan yang diingininya. Mulai dari jenis bakmi, sayur bening, berbagai jenis ikan laut, dan banyak lagi.

Nenek dan Balsamnya

Sudah sekitar 15 tahun beliau mengalami kebutaan total. Glaukoma, demikianlah nama penyakit itu. Konon, kalau tidak salah, dokter menganalogikan penyakit ini seperti kertas yang terbakar. Ketika terbakar, perlahan, kertas akan menjadi habis dan berubah menjadi debu. Demikian juga dengan glaukoma, perlahan, pandangan nenek kabur dan kemudian mulai gelap tak berjejak. Berbagai pengobatan sudah beliau jalani, mulai dari jalur medis maupun jalur alternatif. Nihil. Semua tidak membawa hasil. Kini, keluarga kami sudah angkat tangan dalam memberikan pengobatan bagi nenek.

Kepala pusing, demikian yang sering beliau keluhkan. Kalau pening datang, tangannya dengan sigap mencari tas obat yang terletak di samping kasurnya. Selayaknya kantong ajaib, dalam tas  terdapat berbagai macam obat. Mulai dari obat herbal hingga jenis fitofarmaka. Beberapa jenis obat yang sering ditengguknya seperti Paracetamol, obat mag, dan  terkadang sesak nafas. Di antara banyaknya obat berbentuk pil itu beliau hafal dan dapat membedakannya. Satu lagi obat andalannya, Balsam Cap Geliga.

Bagi nenek balsam sudah selayaknya body lotion- hampir saban waktu digunakan. Kalau diusap di bagian kepala pertanda nenek sedang pening. Kalau di punggung sembari minta dikerok berarti masuk angin. Dan kalau diusap di bagian perut, berarti sedang kembung. Seringnya menggunakan balsam membuat saya hafal dengan bau nenek. Bau balsam menyebar dan menyeruak mulai dari pakaian hingga kasurnya.

Di rumah, selain ayah, saya adalah salah satu orang yang pandai dalam urusan pijit memijit. Mungkin talenta dalam urusan pijit ini boleh dibilang turun temurun dari nenek. Waktu KKN beberapa waktu lalu, saya didaulat untuk memijit beberapa teman, mulai kasus  tidak enak badan, keseleo, dan berbagai masalah lainnya. “Kamu kalau mijit kok sakit Rif?”, tanya teman saya. “ Namanya pijit itu pakai tenaga, nah kalau enak itu ya digrepe-grepe!”, jawab saya.

Sekarang pasien saya di rumah bertambah satu. Kalau biasanya hanya memijit kaki ibu yang kelelahan karena diajak beraktivitas seharian. Nah, sekarang bertambah nenek. Kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, secara tersirat nenek kerap kali meminta bantuan saya.

Jika memijit ibu, tak perlu menggunakan balsam yang baunya menusuk hidung saya. Akan tetapi, kalau memijit nenek, seringnya harus ditambahkan balsam. Nenek  seringkali mengeluhkan  nyeri pada tungkai kakinya. Nyeri bukan lantaran bekas pukulan, dugaan saya, nyeri karena jarang digerakkan. Seperti  motor, jika jarang digunakan besar kemungkinan untuk ngadat. Begitu juga dengan badan, jika jarang digerakkan akan terasa kaku.

Saban hari aktivitas nenek  seringkali dihabiskan di kasur. Mulai dari makan, tidur, dan berdoa. Bergerak kalau sudah punya hajat dengan kamar mandi. Itu pun harus didorong dengan kursi roda.   Selayaknya oli yang bekerja pada mesin motor, balsam digunakan untuk memanaskan anggota tubuh yang jarang digerakkan oleh sang empunya.

Sebagai juru  pijit di rumah, sayapun terkena imbasnya. Selain terpapar bau balsam yang cukup semerbak, tangan saya pun juga ikut terbakar. Saya masih ingat, beberapa hari lalu selepas memijit punggung nenek di malam hari. Lepas itu, saya pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Sialnya, saya lupa kalau tangan saya masih berbekas Balsam Geliga. Usai kencing terjadilah peristiwa “kebakaran”. Tepatnya, organ penting itu tersengat dengan panasnya Balsam Otot Geliga.
















Bersyukur bisa dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu akhir tahun. Namun biasanya, ibarat sebuah perjalanan, akhir tahun kerap dijadikan momen untuk berhenti sejenak. Berhenti, untuk menilik perjalanan kita setahun ke belakang. Melihat berbagai kaleidoskop yang pernah kita tapaki. Meski kita ketahui yang di belakang itu tidak melulu “terang” bahkan bisa jadi “gelap”. Akan tetapi, dengan segenap keberanian, segala kegelapan yang pernah kita lalui itu harus berani kita syukuri, bukan untuk ditakuti. Tulisan ini adalah ungkapan syukur atas berbagai kejatuhan hidup yag saya alami di tahun ini.
Bersyukur itu sulit, tidak mudah. Karena sebagai manusia biasa saya selalu saja merasa kekurangan. Terlebih jika harus mensyukuri kejatuhan hidup. Karena syukur selalu berkonotasi dengan hal-hal yang baik-baik. Sedangkan yang buruk-buruk selalu berkonotasi dengan musibah dan juga azab. Saya juga demikian, acapkali saya tidak berani melihat kembali berbagai kejatuhan yang saya alami itu. Takut trauma, pesimis menjalani kehidupan ke depan, serta berbagai ketakutan lainnya.

Padahal, berefleksi berbeda dengan sekadar meratapi kesedihan. Lantas apa bedanya ? Dalam berefleksi titik tekannya adalah kebaikan Tuhan. Kesadaran akan Tuhan yang maha proaktif dalam mencintai hambanya. Sedangkan, dalam ratapan titik tekannya adalah kepedihan akan kejatuhan yang telah kita lalui.

Meskipun kita tidak bisa menafikkan, dalam berefleksi kepedihan akan kejatuhan tetap kita rasakan. Saya tidak berupaya menghilangkan kepedihan akan kejatuhan itu. Tidak demikian, karena refleksi bukanlah proses hipnotis. Sekali lagi saya jelaskan, bahwa fokus refleksi adalah memandang kejatuhan dalam sisi manusia yang rapuh dan selalu membutuhkan pertolongan Nya.

Menengok kembali kerapuhan di tahun ini

Sepuluh bulan berlalu, kejatuhan itu saya lalui. Tuhan, maafkan saya yang belum mengenalmu dengan begitu baik. Terimakasih atas kehidupan kedua yang boleh saya terima. Saya ingin menghaturkan maaf jika kesempatan itu belum saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.

Tuhan, dari kejatuhan itu saya belajar. Tidak semua yang buruk itu buruk, tetapi peristiwa yang kita anggap "buruk" , kalau disikapi dengan "baik" justru menjadi baik. Begitu juga dengan hal "baik" yang kita terima, kalau salah menanggapi justru menjadi "buruk".

Saya teringat kembali dengan kisah Adam dan Hawa yang tergambar apik dalam kitab suci. Alkisah, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Mereka sudah diberikan tempat tinggal sebaik-baiknya, yakni surga.

Singkat cerita, Tuhan hanya minta satu hal kepada mereka, “Jangan makan buah dari pohon itu”. Lantas, setan dengan segala rayuannya, membujuk mereka untuk makan buah dari pohon yang telah dilarangNya. Satu bujuk rayu setan, yakni kekelan yang akan didapatkan keduanya. Setelah memakan buah, tersingkaplah apa yang dianggap baik dan jahat.

Ada beberapa pelajaran yang saya petik dari kisah tersebut. Pertama, Adam dan Hawa menjadi gambaran bahwa sejak manusia pertama diciptakan manusia memiliki sifat dasar “rapuh”. Kerapuhan manusia itu semacam menjadi gawaan bayi atau bawaan lahiriah. Kejatuhan manusia, entah dalam bentuk apapun, merupakan hal yang lumrah. Tuhan mungkin memahami kerapuhan itu. Tuhan tidak melihat seberapa rapuhnya manusia, tetapi bagaimana proses dari "gelap" menuju "terang".

Kedua, kisah Adam dan Hawa mengajarkan adanya blessing in disguise, atau berkat terselubung di setiap peristiwa yang kita lalui. Adam dan Hawa memang pernah berdosa. Akan tetapi, dari kedosaan yang pertama itu ia belajar untuk terus memperbaharui diri mereka. Dari kejatuhan kita belajar, bukankah pembelajaran bisa didapat dari mana saja?

Terakhir, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sejengkalpun. Rahmat dan kerahiman adalah salah satu yang kita mohonkan. Bertobat bukan hanya perkara kesombongan atas amal kebajikan yang telah kita lakukan, atas karuniaNya sematalah kita dimaafkan.

Kalau Tuhan hanya mengampuni orang yang baik, siapakah yang berhak menerimanya? Tidak ada. Kalau Tuhan menghukum orang yang berdosa, siapakah juga yang akan selamat? Jawabnya tidak ada juga. Kasih dan kemurahanNya mengalahkan segala ukuran manusia.










Sudah berapa kali kita berceletuk, “Wah kebetulan sekali ya kita bisa bertemu”. Umumnya celetukan ini diucapkan ketika tanpa dinyana kita bertemu dengan seseorang atau suatu hal yang tidak diduga-duga sebelumnya. Di luar nalar dan tanpa melalui proses janjian terlebih dahulu. Kali ini saya ingin bercerita tentang momen kebetulan yang sempat saya alami baru-baru ini. Benarkah peristiwa kebetulan ini adalah sebuah kebetulan? Atau memang peristiwa  kebetulan ini memang "kebetulan" yang sudah diatur oleh yang Yang Kuasa ?

Punggung sudah merebah di kursi Kereta Api Sancaka tujuan Surabaya. Mencari posisi senyaman mungkin untuk tidur, itulah yang tengah saya lakukan. Biasanya, minggu pagi merupakan waktu terbaik untuk memperpanjang waktu tidur. Namun pagi itu, pagi benar sekitar pukul 4.00, saya mulai bangun dan mandi. Tidak ingin tertinggal kereta, sederhana saja alasan k untuk bangun pagi di hari minggu. Perlahan, mata saya mulai terpejam dan mulai meluncur ke alam mimpi.

Namun, belum beberapa menit pasca memejamkan mata, saya mendengar suara yang tak asing di telinga saya. “Seperti suara Mbak Ayu- Dosen saya di Fisipol UGM", terka saya. Di fakultas tempat saya belajar  punya tadisi unik. Kami menyapa dosen tidak dengan sapaan Pak ataupun Bu. Akan tetapi, kami biasa menyapa dengan sapaan Mas dan Mbak. Mungkin hal ini dilakukan untuk membentuk iklim egaliter dan menambah iklim keakraban di antara dosen dan mahasiswa.

Untuk memastikan kebenaran sosok dari sang empunya suara, sayapun membalikkan badan.  Benar saja, sesuai dengan dugaan saya. Tanpa janji sebelumnya, ndilalah, Mbak Ayu duduk di kursi tepat di belakang saya. Ketika memilih kursi beberapa hari sebelumnya, saya hanya mencari kursi di dekat jendela kereta. Sebelumnya secara otomatis, aplikasi meletakkan saya di gerbong dua, namun kursi yang saya dapatkan tidak berdempetan dengan jendela.

Untuk itu saya memindahkan kursi ke gerbong tiga nomor kursi 6.  Kebetulan kursi masih kosong. Entah siapa yang akan duduk di belakang, di depan, atau di samping kursi saya. Toh juga saya tidak akan mengetahuinya, karena aplikasi hanya menunjukkan kursi yang kosong, bukan siapa yang menduduki kursi itu.

Saya pun terkejut dan mulai menyapa beliau. “Lah Mbak mudik juga tho?”, tanya saya. “Iya nih Rif, mudik ke Madiun mumpung mahasiswa lagi UTS”, jawabnya. Kemudian Mbak Ayu bercerita bahwa semalam beliau baru memesan tiket dan terpaksa hanya mendapat tempat duduk terpisah dengan anaknya.

Semula, Mbak Ayu hanya bisa berpasrah, semoga bisa bernegosiasi dengan orang yang duduk di sampingnya. Kebetulan. Orang yang duduk di sampingnya adalah saya. Kemudian sontak saya menawarkan untuk berpindah tempat ke kursi 5B. Mbak Ayu dan anaknya pun bisa duduk berdampingan.

Kebetulan lain juga di alami oleh Ayah dan Ibu saya. Baru-baru ini adik saya mulai memasuki masa perguruan tinggi. Adik masuk di universitas swasta, di fakultas yang boleh dibilang mengeluarkan banyak biaya. Ayah dan Ibu adalah pegawai negeri yang hidup dengan berkecukupan, singkatnya, ndilalah kersaning Gusti Allah, ada saja pertolongan Yang Kuasa itu.

Mencoba Memahami Peristiwa Kebetulan

Umumnya orang akan menyebut suatu peristiwa “kebetulan” ketika peristiwa tersebut berada di luar kuasa kita. Seperti yang saya alami kemarin, di luar nalar saya duduk tepat di dekat dosen saya.  Di luar nalar juga ayah dan ibu dapat membiayai kuliah adik yang cukup mahal. Benerkah peristiwa ini adalah sebuah kebetulan?

Saya meyakini ada sebuah entitas yang menciptakan dunia dan segala isinya. Dia menciptakan dan mengatur setiap hal yang ada di dunia ini. Ada tangan-tangan tak kasat mata yang mengatur kehidupan kita. Jika kehidupan ini diibaratkan sebagai lakon pewayangan, maka ada dalang yang mengatur di setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan dunia yang kita tempati ini, ada peran serta Sang Dalang pengatur skenario kehidupan.

Terkadang atau bahkan sering kita kurang memahami  setiap skenario kehidupan yang tengah atau telah kita lalui. Termasuk dalam memahami peristiwa kebetulan itu. Berbagai peristiwa yang kita anggap “kebetulan” sebenarnya sudah diatur oleh Yang Kuasa. Hanya saja logika manusia yang terbatas tak mampu memahaminya. Tidak semua hal dapat terjadi dengan teori sebab akibat ataupun dengan teori peluang.

Sebagai manusia modern kita kerap melupakan kehadiran Nya di setiap peristiwa yang kita alami. Karena kecongkakan akal, terkadang manusia lupa bahwa ada yang lebih berkuasa dan adi kodrati dari padanya. Sebuah fase antroposentrisme, di mana manusia menjadi pusat dari segalanya. Dengan akal, seolah manusia bisa memanipulasi segalanya.

Peristiwa Gempa Palu yang terjadi baru-baru ini, benarkah fenomena ini hanyalah kebetulan belaka atau sekedar hubungan sebab akibat pergeseran lempang? Bagi saya itu juga bukan sebuah hal yang tiba-tiba ataupun tidak disengaja. Berbagai hal yang terjadi di sekitar kita sudah ditentukan oleh Nya.

Peristiwa itu mungkin dan bisa jadi untuk menyadarkan kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Bahwa ada yang Maha Kuasa diatas manusia yang sok berkuasa dengan kekuatan politik dan ekonomi yang dimilikinya. Di setiap “kebetulan” yang sudah diaturnya itu mengajarkan kita untuk bersyukur, menyadari dan berusaha menanggapi kehadiran Tuhan di setiap langkah hidup kita.